Rabu, 11 Januari 2017

supermall itu



Membeli roti bakar ( yang sebenarnya digoreng, tidak dibakar )
“Mas, sudah pernah masuk ke sana?”
“Sudah. Sampeyan belum?” Nada dialek sundanya kentara.
“Belum. Saya kurang tertarik kemeriahan dan keramaian. Sudah berapa lantai yang di buka. Nampaknya belum selesai membangunnya, kok sudah di buka ya mas. Rencana berapa lantai?”
“Nggak tahu mas, saya datang di lantai dasar, mau berapa lantai juga nggak tahu. Ya.. mungkin kalau nunggu selesai semua, lama menghasilkan uangnya, kan harus bayar cicilan utang mas.”
“Utang? Masa orang kaya raya punya utang?”
“Ya iyalah. Kalau modal sendiri semua kan sayang. Masa’ nggak memanfaatkan bank yang siap meminjamkan uang. Kasihan juga tukang bank kalau tak ada yang utang.
“Apa saja isinya mas?"
“Orang dagang, sales, calon pembeli, pernak pernik warna warni, barang dagangan dan tawaran harga discount. Beda tempat, beda bungkus, beda penjaga, barang yang sama menjadi berbeda harga. Orang-orang kaya itu mengharap orang-orang miskin membuat orang kaya semakin lebih kaya dengan berbelanja, dengan menikmati fasilitas, dengan memanjakannya. Jerat untuk berbelanja itu, hiasannya menyilaukan mata. Membuat bangga rakus berbelanja. Membeli barang-barang yang sebagian besar segera menjadi sampah sesampai di rumah.”
“Saya dengar akan ada hotelnya juga.”
“Katanya begitu, mungkin di lantai atas. Ada gedung bioskopnya juga, ada tempat mainan anak-anak juga, ada cafe, ada banyak tempat untuk membelanjakan uang. Banyak tempat untuk bergengsi, berselfi untuk dipamerkan di media sosial...”
“Enak ya mas..”
“Enak bagi yang banyak duit.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar