ANAKKU TERJATUH
Cerpen “Sabar Mas, sabar. Tenang. Semua baik-baik saja. Minum air putih dulu, ini, biar adem. Biar tenang.” “Memangnya ada apa Pak.” “ Nggak ada apa-apa.” “Terus, kenapa banyak orang di sini, apa yang terjadi?” “Mereka hanya ingin main saja di sini.” “Kok, mainnya kompak sekali.” “Ya, sekali-kali kan nggak apa-apa. Boleh kan? Duduk dulu di sini, biar capaimu hilang.” Aku turuti kemauan Pak Barjo. Disamping untuk menghormatinya, aku rasa aku perlu istirahat. Meki pulang agak awal, aku capai sekali, penat. Pekerjaan kantor, meski tiap hari itu-itu saja, selalu meyerap energi dan membebani ruang kebosanan. Ibu-ibu berkumpul di pojokan ruang tengah di samping tivi. Berbicara berbisik-bisik, sesekali melirikku membawa aku pada ruang yang ku tak mengerti. Semangat mereka untuk bicara tak terbendung. Nampaknya ada yang ingin di sembunyikan terhadapku bersama-sama. Anak-anak di pangkuannya mereka peluk erat, seolah takut anaknya lepas dan lari menghilang....