Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2017

ANAKKU TERJATUH

Gambar
Cerpen “Sabar Mas, sabar. Tenang. Semua baik-baik saja. Minum air putih dulu, ini, biar adem. Biar tenang.” “Memangnya ada apa Pak.” “ Nggak  ada apa-apa.” “Terus, kenapa banyak orang di sini, apa yang terjadi?” “Mereka hanya ingin main saja di sini.” “Kok, mainnya kompak sekali.” “Ya, sekali-kali kan nggak  apa-apa. Boleh kan? Duduk dulu di sini, biar capaimu hilang.” Aku turuti kemauan Pak Barjo. Disamping untuk menghormatinya, aku rasa aku perlu istirahat. Meki pulang agak awal, aku capai sekali, penat. Pekerjaan kantor, meski tiap hari itu-itu saja, selalu meyerap energi dan membebani ruang kebosanan. Ibu-ibu berkumpul di pojokan ruang tengah di samping tivi. Berbicara berbisik-bisik, sesekali melirikku membawa aku pada ruang yang ku tak mengerti. Semangat mereka untuk bicara tak terbendung. Nampaknya ada yang ingin di sembunyikan terhadapku bersama-sama. Anak-anak di pangkuannya mereka peluk erat, seolah takut anaknya lepas dan lari menghilang....

SEBILAH GOLOK DI LEMARI RAK BAWAH

Gambar
djayim.com   cerpen Ketika Goldi menyimpan tasnya di lemari, di hati Pak Bagyo tak timbul perasaan untuk tahu apa isinya, karena Ia sedang melayani seseorang pembeli rokok. Ia hanya mendengar kata-kata Goldi yang sambil berlalu, “Tolong Pak, titip tas ini. Jangan boleh ada yang ngambil kecuali saya.” Saat sepi tak ada pembeli. Pak Bagyo teringat kata-kata Goldi setiap kali menitipkan tasnya. Tentu tak ada yang boleh mengambil tasnya kalau bukan dia, tapi kenapa Ia selalu berpesan ‘jangan boleh ada yang ngambil kecuali saya’, padahal sudah sangat sering Ia menitipkan tasnya. Kadang beberapa hari tak diambil, kadang sampai seminggu, tapi Goldi tak pernah lupa pada tas yang dititipkannya. Pak Bagyo tak tahu apa ada tempat lain yang bisa dititipi tas selain di warung kecilnya. Rasa penasaranya tergugah juga untuk melihat apa isinya. Ia mesti yakin dulu kalau Goldi benar-benar tak memergokinya kalau mau melihat isinya. Ia tutup dulu pintu di sebelah kanannya. Berjongkok, sebent...

PRASASTI TERLENTANG

Gambar
Cerpen

Bebek bertelur Rajawali

Gambar
Setiap hari, nenek bertubuh gemuk yang cara berjalannya sudah lamban, sebelum orang-orang benar-benar bangun, Ia sudah berada di belakang rumah. Mencampur adonan makanan untuk bebek-bebeknya yang sudah siap menyantap kapan pun makanan itu disajikan. Bebek-bebek itu berjumlah banyak sekali. Tak pernah berjumlah tetap karena kadang mereka datang dan pergi tak tentu waktu, tak berkala tetap. Mereka berada dalam satu kandang, tak ada sekat pemisah. Untuk tempat makan ada sepuluh tempat, kadang dipakai semua, kadang hanya separuh, kadang tempat makan itu dikumpulkan menjadi satu dan perebutan itu menjadi lumrah dengan teriakan-teriakan bikin telinga gatal. Semua bebek punya karakter masing-masing, tapi mereka sepakat untuk kompak menurut pada nenek bertubuh gemuk yang lemaknya semakin hari semakin membuat gerakannya tak selincah ketika masih agak langsing meskipun ketika itu pun gerakannya tak lincah namun kemayu. Hal yang paling disukai dari nenek itu adalah pancaran sinar matahari me...

sirine pendek

Gambar
Cerpen Sederhana saja. Sebuah mobil yang dikendarai seorang wanita muda menjerit klaksonnya, seperti sirene pendek, di pertigaan lampu merah pas seorang pengendara motor menghentikan motornya sedikit mendadak tepat disampingya. Tak ada tatapan atau reaksi apapun dari wanita muda itu. Juga, nampaknya tak juga ada isyarat kalau suara klaksonnya sebagai peringatan bagi lelaki yang terkejut dan hampir terlonjak. Tetapi lelaki pengendara motor itu segera turun dari motornya dengan gerak geram. Dia ketok pintu mobil dengan keras. Wanita itu dengan nervous menrunkan kaca mobilnya, “maaf mas.” “Jantung saya mau copot tahu, enak sekali maaf-maaf, mentang-mentang kaya, punya mobil klakson sembarangan.” “Maaf mas, kepencet dagu tadi, saat mau mbeneri sandal.” “Alah... alasan. Pengin saya bunuh apa?” “Maaf mas. Maaf.” “Kau kan, yang minggu lalu juga pencet sirene sembarangan?” “Saya baru lewat di sini dalam bulan ini mas, sungguh.” “Omong kosong!! Kau yang kemarin hampir menabra...