Selasa, 05 September 2017

GENOSIDA ROHINGNYA DI MYANMAR



Semua orang yang punya rasa perikemanusiaan pasti tidak akan tega berlama-lama melihat kejadian yang terjadi di Myanmar. Sebuah genosida. Pembantain, pembakaran tempat tinggal, pengucilan, pembunuhan warga sipil, pembunuhan pada anak-anak, ibu-ibu, kakek-kakek, nene-nenek, bapak-bapak. Semua nampak dilakoni oleh orang di sana dengan tanpa merasa perlu bersalah dan merasa untuk segera dihentikan. Di sebuah wilayah Rakhine itula kebanyakan penduduk bergama Islam tinggal. Sebuah wilayah yang sebenarnya mereka bisa hidup tenang menjalani hidup jika pemerintah Myanmar mau melindunginya dari serangan kaum yang merasa lebih superior.


Saya tidak percaya jika ada sebuah agama yang mengajarkan pembunuhan dan pembantaian terhadap sesama manusia. Bahkan kita ketahui, membunuh hewan untuk kita makan pun di ajaran semua agama ( saya kira ) ada adab dan tata aturan yang harus ditaati meskipun satu sama lain berbeda. Jika seorang Bhiksu Budha dengan sengaja membiarkan pembantaian dan pembunuhan apalagi juga ikut aktif, saya pikir ke-Bhiksu-annya telah gugur dan tak pantas lagi disebut Bhiksu, jabatan suci di agama Budha. Membiarkan sesama manusia mati perlahan, kelaparan, tak punya tempat tinggal karena rumah-rumahnya dibakar dengan sengaja, itu bukan perilaku manusia. Bahkan orang yang tak beragama pun, tak akan melakukan hal seperti itu. Tapi, ini dilakukan oleh umat Budha di Myanmar dan banyak Bhiksu yang ikut terlibat di dalam pembunuhan masal itu.


Begitu mengerikan melihat foto-foto dan video-video perilaku manusia yang merasa bangga memperlakukan sesama manusia dengan cara yang sangat sulit dipercaya. Sebuah cara yang saya yakin tidak diajarkan dalam kitab suci agama manapun. Agama harusnya menciptakan kedamaian sesama manusia dan hidup berdampingan dengan saling tolong menolong. Jika terjadi peristiwa tragedi kemanusiaan seperti di Myanmar itu terus berlanjut, apakah karena ada begitu banyak oknum pemeluk agama yang menyimpang dan berbuat sesuka hati keluar dari esensi ajaran agamanya dengan mengatas namakan agama yang dipeluknya.

Emosi seseorang sering membuat seseorang merasa lebih superior dan merasa harus menguasai orang kain, golongan lain, kaum lain dan menjadi penguasanya. Jika emosi itu terkumpul pada suatu kelompok yang punya tujuan yang sama, apalagi jika dilandasi agama atau kepercayaan, keyakinan untuk menguasai kelompok lain dan melemahkannya, akan semakin berlipat. Memusnahkannya seperti menjadi tujuan yang harus segera dilakukan.



Konflik sesama manusia yang dilandasi kepercayaan bathin ( agama )  akan rumit dan seperti tak ada akhirnya. Hati manusia jika sudah merasa membela kebenaran, dan mati ketika membela agamanya diyakini sebagai hal terbaik, menjadi sulit mencegahnya untuk tidak berbuat sesuatu yang akan menimbulkan konflik berkepanjangan. Karena ketakutan akan sebuah kematian sudah hilang pada diri mereka.

Orang semacam Bhikku Ashin Wirathu (U Wirathu) beserta pengikutnya, yang di Myanmar sendiri dikenal sebagai Bhikku yang kontroversial, mestinya diredam oleh pemerintah Myanmar dan jangan dibiarkan terus menerus memprovokasi kaumnya untuk melenyapkan kaum Muslim. Karena pasti Bhikku U Wirathu telah melenceng dari ajaran agama Budha yang dikenal pengasih sesama.

Dan, Aung San Suu Kyi, menjadi sangat tidak pantas sebagai orang yang menerima penghargaan Nobel Perdamian. Seorang yang dulu disebut sebagai pejuang demokrasi di negaranya dan seolah diakui dunia, kini saat menjabat sebagai pemimpin, lupa akan kemanuisaan dan membiarkan genosida terjadi di depan ranjang tidurnya. Aung San Suu Kyi tak memperjuangkan nilai kemanusiaan. Apa yang dilakukan hanya untuk diri sendiri. Seorang munafik yang tak pantas untuk di catat pada buku peraih Nobel.


Sebagai seorang Muslim saya sangat sedih dan marah terhadap apa yang terjadi di Rakhine, Myanmar sana. Dan saya berdoa semoga segera terselesaikan dan tak lagi menambah korban jiwa, dan umat Islam di Indonesia tetap tidak terprovokasi sehingga umat Budha di sini tetap tenang dan aman. Beruntungnya umat Budha di Indonesia, kaum minoritas yang dilindungi hak-haknya dan di hormati keberadaanya. Sangat tidak beruntungya Umat Islam di Rakhine yang terus menerus di siksa dengan sangat tidak manusiawi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar