Senin, 11 September 2017

BERKAMPANYE-LAH APA SAJA DI JALAN

Di sepanjang jalan, banyak sekali orang berkepentingan, hampir semua berkepntingan. Dari kepentingan pribadi, kepentingan keluarga, kepentingan kelompok, kepentingan kerja, kepentingan perusahaan, kepentingan kekuasaan, kepentingan agama, kepentingan politik. Semua berbaur dan tak nampak jelas pada masing-masing individu yang berkepentingan. Ada yang tergesa-gesa, ada yang seperti biasa tapi tergesa, ada yang tergesa tapi biasa, ada yang biasa beneran, ada yang tak punya tujuan, ada yang punya tujuan tapi bingung mengawali. Ada yang berangkat pergi ada yang berangkat pulang. Semua bergerak memerlukan energi dan biaya.

Dunia usaha, sangat jeli memanfaatkan setiap ruas jalan untuk memperangkap orang masuk dalam target usahanya agar untung. Berbagai iklan dan ajakan berderet di kanan kiri jalan. Semakin ramai jalan, semakin menumpuk ajakan yang di tulis pada banner, billboard, pamflet, atau apa saja untuk memberi tahu kepada semua orang yang melewat. Posisi tempat dan view yang unik dimafaatkan betul dengan memberikan kejutan-kejutan pada pesan yang dikirim agar si pelihat terkesan dan menjadi tergiring untuk membeli produk yang ditawarkan. Kasarnya, bagaimana mengajak seorang agar lebih konsumtif dan menjadi konsumer yang rakus. Sehingga tak jarang sesuatu benda yang sebetulnya kurang diperlukan pun di beli juga, buah dari pintarnya para penjual membikin penasaran calon konsumen.

Tak hanya iklan penawaran sebuah produk, iklan tokoh yang siap menjadi kepala daerah pun, ikut berjejal memanfaatkan lahan di sekitar jalan. Partai politik dan tokohnya tak mau kalah memanfaatkan ruas kanan kiri jalan dan ruang di atas jalan untuk menawarkan program unggulan yang diklaim akan membela rakyat dan menyejahterakan seluruh rakyat. Tak ada iklan ( kampanye ) dalam dunia politik dalam merebut kekuasaan lokal maupun nasional yang tidak ingin menyejahterakan rakyat. Semua memasang pesan bahwa partainya-lah yang paling membela seluruh rakyat dan yang paling bisa menyejahterakan rakyat. Rakyat menjadi objek dalam memperebutkan dukungan dan suara dalam ajak pemilu, pilpres dan pilkada.

Seorang tokoh atau menokohkan diri yang memasang gambarnya di banyak tempat di pinggir-pinggir jalan ketika menjelang pilkada, setahun atau bahkan dua tahun sebelum pelaksanaan pilkada, tentu ada maksud untuk sedini mungkin mengenalkan diri pada calon pemungut suara agar jangan sampai kalah moment dengan calon kompetitornya. Jika dirasa masih jauh waktu hari H pilkada, pengenalan diri itu pun dikamuflase se-biasa-biasa mungkin agar tak tampak sebuah keinginan yang masih disembunyikan untuk menjadi kepala daerah di sebuah wilayah kabupaten/kotamadya atau propinsi. Seorang bupati dari wilayah bagian timur Jawa Tengah memasang foto dirinya di sebuah kota kecil di bagian tepi barat Jawa Tengah dengan tulisan di bawahnya; mari wisata ke-“kabupaten”ku, tentu mengandung maksud lain yang lebih penting secara individual (dibanding pesan yang ditulisnya), ‘bahwa saya orang yang perlu anda kenal’ dan nanti pada saatnya saya akan maju menjadi cagub atau cawagub.


Kita juga sering mendapati foto seseorang yang dilengkapi dengan titel dan jabatan yang sedang dan atau pernah dipegangnya, seolah mengisyaratkan; ‘ini lho saya yang pantas anda pilih pada pilkada nanti!’. Pada tahapan seperti ini, mereka belum memasang program unggulan. Penawaran program terlalu dini akan memberi kesan kalau Ia bertujuan maju dalam perebutan kekuasan. Jika terjadi muncul kesan ngotot ingin menjadi bupati/walikota atau gubernur, akan menjadi bumerang bagi dirinya. Kultur masyarakat kita masih tertarik pada orang yang bertampilan biasa-biasa, egaliter, mau berbaur dan tidak elitis. Kecenderungan memilih dan membela orang yang tertindas masih tinggi sehingga para calon berupaya agar seperti pada posisi di dan ter-aniaya supaya mendapat empati dari para pemilih. 

Menjadilah pada posisi tertindas dan teraniaya tetapi pintar mencari celah.


Secara harfiah, kondisi jalan juga meberitahukan kondisi pembangunan infrastrukutur, perekonomian, pendidikan dan kesehatan pada sebuah wilayah. Ruas-ruas jalan yang tampak bagus, rapi, terawat baik, seolah mengabarkan kalau perekonomian di wilayah tersebut baik dan maju. Lebih jauh, kondisi jalan yang bagus mengisyaratkan pembangunan yang baik yang merujuk juga pada pemerintahan yang baik. Ruas jalan menjadi etalase sebuah pembangunan. Kesan awal akan masuk dengan deras melalui kondisi jalan.
Dengan membangun dan merawat seluruh ruas jalan pada wilayah kekuasaannya, ini menjadi sebuah kampanye yang sangat mengena bagi individu kepala daerah maupun bagi partai politik pengusungnya.

Maka, berkampanyelah di jalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar