Jumat, 13 Oktober 2017

PAMER ITU “PERLU”

Dikenal itu perlu untuk sebuah barang yang akan di jual untuk mendapatkan uang. Itulah makanya sering diadakan pameran dagang, pameran produksi, pameran kegiatan, dsb. Pamer untuk sebuah barang produksi yang diciptakan untuk mendaptkan laba dari sebuah proses produksi yang panjang, di kenal oleh calon pembeli adalah sebuah keharusan. Tanpa di kenal, akan sangat minim barang itu terbeli dan ini akan menjadikan si pembuat barang rugi, tak kembali modal. Itulah makanya berpamer itu perlu dalam sebuah perdagangan  pada rangkaian lingkaran produksi.
Berpamer sebuah keahlian juga perlu jika jasa keahlian itu memang untuk di jual. Seseorang atau sekelompok orang yang punya keahlian tertentu dan keahlian itu sengaja untuk memperoleh penghasilan, perlu ada upaya untuk meyakinkan para calon konsumen kalau keahliannya tidak mengecewakan jika dipakai.
Dalam berpamer seperti di atas, kita memkluminya. Karena sebuah produk, jasa dan barang, yang mau dijual dengan tanpa di kenal orang, akan tidak maksimal penghasilan yang diharapkan dari kegiatan itu.
Akan terasa lain jika yang dipamerkan itu sebuah jasa telah menolong orang, pamer punya barang bagus, pamer punya uang banyak, pamer nyumbang dana besar, pamer berjasa pada sesuatu. Pamer yang sering disebut sebagai riya. Menunjukkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu bagi orang lain, tapi dirasa perlu bagi yang berpamer.
Sebuah perbuatan riya akan menjadi sebuah perbuatan yang tidak disukai walaupun mungkin saja yang tidak suka juga pernah berbuat riya dengan disadari atau tidak disadari. Untuk menyatakan eksistensi dirinya dalam lingkungan pergaulannya, banyak orang yang merasa pamer itu perlu. Pergaulan yang semakin luas di dunia maya dan semakin sempit bergaul secara fisik, sebuah keberadaan diri perlu dijaga agar tak hilang perlahan terlupakan orang-orang disekeliling dan orang-orang yang dikenal lewat internet yang dijembatani oleh media sosial yang terus tumbuh berebut tempat.
Dalam dunia maya yang di jembatani oleh internet dan di wadahi oleh media sosial, gaya atau perilaku pamer menjadi sebuah semacam ‘hobi’ bagi sebagian orang. Semua yang dirasa asik dan menggembirakan baginya, akan terasa tidak hambar jika tidak dipamerkan dalam media sosial. Sepertinya, semua orang harus tahu kalau “saya” ini sedang begini dan kamu harus peduli dengan keadaanku. Komentar di bawahnya dan “like” menjadi tambahan kegembiraan. Jika yang komentar banyak dan mengena, dan yang  “like” berjumlah banyak, makin bertambahlah senang dan membawanya seolah begitu banyak orang yang peduli keadaanya, banyak orang yang mengerti dan tahu. Meski tak bisa memilah mana yang berkomen dan ber”like” main-main dan tidak. Dalam duni media sosial, tak ada beda “nge-like” yang sungguhan dengan “nge-like” yang sekedar saja untuk basa basi atau malah sambil mencibir saat pencet tombol like.
Kadang juga berpamer dalam bentuk minta do’a, “Insya Alloh saya mau beli anu, bla bla bla bla, mohon do’anya ya teman2”, berpamer kepunyaan, memposting foto-foto dengan latar belakang rumah yang bagus, mobil yang bagus, atau acara-acara yang dianggap bisa mengangkat derajat sosialnya. Sepertinya, bukan do’a dari teman-teman yang diharapkan, tapi lebih penting kalau teman-temannya tahu kalau ‘aku’ mau beli ini yang harganya mahal dan tak semua orang bisa beli.

Bisa berpamer dan mendapat respon dari orang-orang yang dipameri, adalah sebuah kesenangan dan melupakan tentang ‘hukum’ riya. Jika berpamer itu menggembirakan, dan berbuat sesuatu yang menggembirakan itu perlu, maka berpamerlah, dan lupakan apa itu yang isebut riya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar