Rabu, 07 Februari 2018

MENYALAHKAN

Menyalahkan itu gampang dan mudah. Apalagi jika menyalahkannya tidak perlu argumen untuk perdebatan lebih jauh. Timbul rasa ingin menyalahkan pendapat orang lain, karena tidak sesuai dengan apa yang diyakininya. Sebuah keyakinan didasari oleh argumen dan alasan. Argumen dan alasan itu bisa sampai jauh berakar-akar ke bawah dengan segala alat pendukungnya yang semuanya diyakini benar dan berkaitan. Benar yang diyakini, karena argumen atau alasan lain tidak dianggap benar dan tidak sesuai.

Benarnya sebuah keyakinan, belum tentu dibenarkan oleh individu lain atau kelompok lain. Benar sebuah keyakinan berbeda sekali dengan benar yang telah ditetapkan dalam aturan-aturan tertentu yang telah disepakati bersama atau aturan yang harus, mau tidak mau, ditaati. Juga sangat berbeda dengan benar secara matematis. Dua kali dua itu empat, jika tidak empat salah, titik. Dan benar macam ini tidak dibantah. Atau bisa saja ini disebut betul. Bahkan kebenaran sebuah rasa atau yang berkaitan dengan panca indera, masih bisa ada perbedaan meskipun masih dalam satu lingkaran besar rasa yang sama. Rasa pedas bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Rasa sakit juga berbeda-beda. Sebuah lombok, bagi seseorang bisa terasa sangat pedas, tapi bagi orang lain hanya pedas biasa-biasa saja. Tentang rasa, tidak akan terjadi sebuah kesepakatan atau titik temu jika diperdebatkan. Dan itu memang semestinya tidak diperdebatkan.

‘Rasa’ kebenaran yang diaykini itu menjadi terasa hampa dan biasa-biasa saja jika benar yang diyakini tidak ada argumen dan alasan yang kuat kenapa memilih ‘kebenaran’ yang dipilihnya. Juga akan kurang mantap jika ternyata ada kebenaran yang diyakini orang lain yang berbeda dengan keyakinannya, mempunyai argumen dan alasan yang kuat. Argumen dan alasan itu bukan hanya sekedar untuk memberi rasa mantap pada diri sendiri, tetapi juga untuk membentengi diri jika ada yang mendebatnya dan untuk bisa mempengaruhi individu lain untuk ikut bersama dalam lingkaran ‘kebenaran’ yang diyakininya.

Merasa benar itu jika tidak terkontrol, bisa menjadi gampang menyalahkan pihak lain yang tidak sepakat dengan keyakinannya. Menyalahkan pihak lain tentu ada argumen dan alasan, karena setiap keputusan atau pilihan ada alasan, meskipun kadang minim. Berkeputusan memilih keyakinan yang dianggap benar dengan segala argumen dan alasan, karena menganggap keyakinan lain tidak benar, juga dengan argumen dan alasan. Jika tidak ada pilihan, karena tak ada alternatif lain, maka tak perlu ada argumen dan alasan. Pada kondisi ini, tidak akan terjadi perdebatan dan saling menyalhkan.
Menyalahkan kebenaran yang diyakini pihak lain akan menjadi sebuah perdebatan adu argumen jika dipertemukan. Masing-masing pihak akan tidak akan begitu saja menerima penyalahan dari pihak lain. Sebuah kepercayaan diri akan muncul dalam mengungkapkan kebenaran yang diyakininya. Lebih jauh, membuat pihak lain yang berbeda keyakinan kebenarannya, berubah arah dan ikut pilihannya.

Saling menyalahkan, jarang terjadi titik temu karena ego masing-masing pihak. Kalah atau mengalah karena kurang kuatnya argumen, akan ditutupi dengan berbagai cara. Kebenaran yang diyakininya akan dibela dengan mencari argumen-argumen lain yang kadang dipaksakan atau bisa jadi malah kontrproduktif.

Timbulnya menyalahkan, karena menganggap kebenaran yang diyakini pihak lain bisa berbahaya dan merugikan bagi kelompoknya, bagi wilayah tempat tinggalnya dan bagi kelangsungan hidup secara keseluruhan, tentu menurut dirinya atau kelompoknya.

Apakah dunia akan damai jika tidak saling menyalahkan? Bisa saja. Tapi, apakah begitu banyak keyakinan bisa berjalan bersama-sama tanpa ada benturan kepentingan dari masing-masing kelompok yang berbeda-beda cara? Sebuah pertanyaan utopis.

00:48. 070218

Tidak ada komentar:

Posting Komentar