Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2018

CASING

Gambar
Dalam bahasa Jawa ada ungkapan, ”ajining raga saka busana”, artinya, raga atau badan akan nampak pengaji ( berharga ) dari apa yang dipakainya. Semakin bagus pakaian yang dikenakan akan menambah berwibawa, berkesan baik dan meningkatkan kesan sosial yang disandangnya. Makanya memilih pakaian yang digunakan pada saat-saat tertentu menjadi hal sulit dengan berbagai pertimbangan bagi sebagian orang. Pakain itu bungkus badan sekaligus penghias. Penghias harus sesuai dengan apa yang dihiasnya. Jika tak sesuai bisa jadi akan malah mengurangi nilai estetika dan tak enak dipandang. Demikian juga bungkus-bungkus yang lain. Bisa bungkus berbentuk benda, bisa bungkus tak berbentuk benda. Bungkus tak berbentuk benda ini bisa berupa kata-kata yang halus, santun dan manis, bisa juga berbentuk perlakuan dalam tingkah laku. Kondisi bungkus, baik yang berbentuk benda maupun tidak berbentuk benda, sangat berpengaruh terhadap perspektif dari orang yang menilainya. Maka, bungkus menjadi bagian peny...

SETNOV 15 TAHUN PENJARA

“Hebat yah bang, Pak Setnov dihukum limabelas tahun penjara menerima. Tidak mengajukan banding. Padahal sebelumnya, berbagai cara dilakukan agar bebas dari jeratan hukum.” “Menurut kamu yang hebat itu menerima hukuman apa hebat korupsinya?” “Jangan memelintir pernyataan bang. Kaya politikus lagi saling serang saja.” “Hkkk... Mungkin Pak Setnov sudah sadar. Atau mungkin juga karena merasa sudah tidak bisa mengelak lagi. Sudah tidak bisa membuat trik-trik agar lolos dari hukuman.” “Memang ada trik-trik agar lepas dari hukuman ya bang.” “Menurut yang pernah saya baca dan saya dengar, ada berbagai cara untuk lepas dari jeratan hukuman.” “Contohnya?” “Kalau contoh saya tidak tahu, karena saya bukan pelaku.” “Kok tahu ada cara-cara agar lepas dari jeratan hukum.” “Mau saya ulangi lagi, menurut yang pernah saya baca dan saya dengar, ada berbagai cara untuk lepas dari jeratan hukuman.” “Biasanya tindakan korupsi kan dilakukan dengan rencana yang matang agar tidak sampai ...

TV SWASTA CORONG PEMERINTAH

“Kok ada ya bang, tv swasta yang menjadi corong pemerintah.” “Memang ada? Saya jarang sekali nonton tivi.” “Nggak si menjadi corong banget, cuma, sepertinya selalu memuat berita tentang pembelaan dengan waktu lama dan sebentar jika berita yang kurang baik imbas bagi pemerintah.” “Tapi nggak manipulasi kan?” “Gimana yah. Jadi gini. Nadanya itu selalu mengarahkan untuk pembenaran pada setiap apa saja yang dilakukan pemerintah.” “Jika itu benar, nggak masalah kan?” “Tapi berat sebelah bang. Nggak berimbang. Nggak independent. Pernah nonton tivi Anu nggak bang.” “Kayaknya pernah. Sebentar. Saya jarang nonton tivi. Acara-acara debat terus, nggak ada yang ngaku lawannya benar, dan mengaku dirinya sendiri yang kurang benar. Semua merasa paling benar. Jadi bingung mana yang benar-benar, benar.” “Triple benar ya bang?” “Maksudnya, yang benar sesungguhnya menurut fakta yang sesungguhnya atau menurut keilmuan yang diyakini keilmuannya.” “Kalau media tivi sudah berpihak, kan...