Rabu, 30 September 2020

SABAR

Seringkali kata sabar diucapkan berkaitan dengan waktu, berhubungan dengan tak perlu buru-buru, cenderung santai, tak perlu segera.

“Mas, cepetan…”

“Sabar mas, nyantai dikit napa?”

“Nanti kita telat.”

“Sabar mas, sebentar lagi.”

 

Atau juga kata sabar sebagai ucapan agar tidak marah, emosi dan bisa mengendalikan diri.

“Sabar mas, semua akan baik-baik saja. Tenang...”

“Tapi ini sudah keterlaluan. Ini nggak bisa diterima.”

“Makanya ekspetasimu jangan terlalu tinggi. Biasa-biasa saja.”

“Biasa-biasa saja bagaimana? Coba kamu yang jadi aku, mungkin lebih gila.”

 

Sebuah kata bisa punya makna lebih dari satu atau homonim, tergantung kalimat yang mengiringi atau dalam kontek pembahasan yang mengarahkan kata tersebut. Saya lebih cenderung kata sabar bermakna siap menerima apapun hasil dari sebuah perjuangan, kerja keras, ulet dan konsisten. Ini hanya sebagai ‘penolakan’  saya bahwa menunda waktu itu bukan sebuah tindakan ‘sabar’. Kata ‘sabar’ dalam kontek tidak segera atau menunda waktu seolah sebagai pembenaran kalau santai itu sebuah bentuk kesabaran.


Kata sabar agar tidak emosi, sebagai bentuk peringatan terselubung agar jangan berharap terlalu pasti dan tinggi, siap menerima sesuatu yang tidak seperti yang diharapkan. Biasanya harapan terhadap orang lain yang berkaitan dengan keinginannya, harapan atau imajinasi lain dalam benaknya tidak seperti yang diduga, akan memunculkan kemarahan. Sabar di sini sebagai bentuk menerima apapun yang ada dari luar yang berkaitan dan berhubungan dengan kita.

 

“Saya sudah melakukan semaksimal mungkin, terus menerus, tak pernah menyerah. Saya akan terus berusaha. Dan, apapun hasilnya saya yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk saya.”

“Itulah sabar yang meninggikan derajat kata sabar.”

22:01.30092020

1 komentar: