KURSI
Menempati kursi jabatan itu pasti
enak. Buktinya banyak orang yang berebut untuk mendapatkannya dengan berbagai
cara. Apalagi jika jabatan tertinggi di sebuah wilayah atau negara. Presiden atau
Perdana Mentri. Segala ucapannya di patuhi dan orang-orang disekitarnya
bergerak memenuhi ucapan presiden, membelanya dan mencari cara untuk sesegera
mungkin mewujudkannya. Ribuan orang mencari akses untuk mendekat agar mendapat
fasilitas istimewa dalam segala urusannya. Dia diperhatikan, dijaga, disanjung,
dipuja, disenyumi. Bagi yang membutuhkan kemudahan birokrasi, jabatan strategis
dan segala hal yang mempermudah tujuannya, membuat sang penguasa berbahagia dan
senang hukumnya wajib. Tak ada keputusan yang salah dan tak ada lelucon yang
garing.
Fasilitas, layanan, status
sosial, penghormatan, ‘ketakutan’ orang-orang disekitarnya dan bawahannya
menjadi hal-hal yang membuat pemegang kekuasaan merasa senang menikmatinya. Menjadi
agak lucu jika seseorang berjuang bersusah payah mengeluarkan biaya, tenaga dan
pikiran, menyebut dirinya hanya ingin berbakti pada negara. Apa tidak ada jalan
lain untuk berbakti pada negara?
Kegiatan kenegaraan itu sangat
padat. Menyita waktu untuk keluarga dan privasi. Semua diatur protokoler. Seorang
yang tidak bisa menikmati kegiatan-kegiatan kenegaraan yang terus menerus di
setiap hari, akan menjadi tertekan dan tidak bisa menikmati ‘kesenangan’ jadi
orang nomer satu. Dia menikmati kegiatan-kegiatan yang membuat orang-orang
datang dan menghormati, menyanjung, bertepuk tangan dan tertawa terhadap lelucon-lelucon
kecil yang dilontarkan, tak peduli itu tertawa beneran atau tertawa untuk
menjaga posisi dan karir.
Menjadi sebuah hal yang
membingungkan ketika seorang presiden memulai memerangi negara lain karena
pemerintahan negara yang diserang tidak sesuai keinginannya. Padahal Ia sudah
tua, kenapa tidak menikmati kekuasaan yang sedang digenggam tanpa harus membunuh
dan menghancurkan negara lain. Pasti ada rasa senang jika negara lain juga
takut dan tunduk padanya. Ia tak cukup senang jika hanya orang-orang
dinegaranya yang menyanjung dan takut pada setiap keputusannya. Candu kekuasaan
telah merasuk. Kebanggan menaklukan negara lain menjadi catatan di batu
nisannya yang sudah siap cetak. Ia menikmati hiruk pikuk penaklukan dan perang.
Menikmati laporan-laporan kemenangan dari bawahannya yang siap siaga 24/7. Menikmati
grafik kehancuran, angka kematian, puing-puing bangunan berasap dan debu yang
membubung melekat pada rambut anak-anak kecil yang tersedu menangis di sebelah
jasad orangtuanya. Uang dan kemewahan yang di miliki sudah menjadi hal yang
biasa dan tak cukup membuatnya senang dan bahagia.
Ini sebuah penyakit, ketidaknormalan
pikiran, psikopat, dan kita hanya bisa menonton dan berharap perang segera
berhenti. Sebuah perdamaian yang dicita-citakan diawali dengan membuat
kekacauan, kehancuran, ketakutan dan kematian adalah propaganda manipulatif agar
orang-orang terlena dan memakluminya.
Kekuasaan itu menakutkan jika
berada pada tangan orang yang nir-empati. Pada orang yang tidak bisa menikmati
kedamaian berdampingan dengan orang-orang yang tak se-ide. Pada orang yang
menikmati ketertundukan, kehancuran dan kematian orang lain dengan berteriak menyebut
dirinya pengawal perdamaian.
Dan pemegang kursi itu adalah
hasil dari sebuah perebutan kekuasaan yang mendasarkan pada demokrasi. Dan,
demokrasi selalu mengandalkan suara terbanyak. Apapun suara itu.
Wnj; 22;40 12032026

Komentar
Posting Komentar