Label

Selasa, 15 Juli 2025

KARBA



djayim.com

Pagi yang masih dingin, gelap dan berat melambat. Kegelisahaan membuat menjadi tak nyaman, grungsang.

“Istirahat atau tidur dulu Pak. Saya bikinkan kopi ya Pak?"

“Ya. Tidak usah.”

Pagi masih terlalu dingin untuk dinikmati. Bahkan suara nafaspun masih terdengar jelas dan dingin merambat dari jari-jari kaki.

“Ini yang terakhir, Bu. Apapun yang terjadi, kita harus bertahan.”

Istrinya diam. Sudah berapa puluh kali suaminya bilang, ‘ini yang terakhir’. Dan, Ia bersyukur jika memang benar. Dan, sanggupkah bertahan untuk lapar yang lama?

“Kota terlalu keras untuk kita, bu. Keyakinan kita salah. Semua yang di kampung habis, tak tersisa. Sekarang harga diri kita juga sudah habis tak tersisa. Meski tak ada yang tahu, tapi aku malu. Malu sekali.” Istrinya diam, melepas nafas lewat hidung, melepas sesak pikiran dan bergegas ke kamar mandi. Dua anaknya sudah mulai bangun untuk siap-siap berangkat sekolah. Semua sudah disiapkan seperti setiap pagi.

Ia memasang kepala konektor gas elpiji warna hijau sambil berkali-kali mengusapnya. Benda itu menjadi sangat menarik, pun selalu agak berlama-lama jika kompor sudah siap dipakai. Ada cerita yang tercatat rapi diingatannya. Dari rencana awal mengambil sampai ke ruang dapur, dipasang disambungkan dengan kompor, dinyalakan. Baginya, api dari tabung gas yang diperolehnya dengan susah payah, mengendap-endap dan mencongkel pagar atau pintu, terasa sangat mengasyikan. Biru apinya selalu memberi rasa pemuas sebuah petualangan. Lidah apinya menjilat-jilat bercengkerama. Dan, tabung gas yang ditata rapi ditabuhnya pada saat-saat tertentu. Setiap tabung mengeluarkan suara berbeda yang diurutkan seperti urutan tangga nada.

Awalnya, sebuah keterpaksaan. Ketika malam, tak ada uang dan tak ada sesuatu apapun untuk makan esok pagi, sebagai seorang kepala rumah tangga, Karba gelisah. Memkasa untuk tidur pun, tak bisa. Ketika malam sudah sangat dingin dan adzan subuh belum berkumandang, Karba keluar rumah tanpa pamit. Ia mencari rumah atau warung yang bisa diambil barangnya. Semua berjalan begitu saja dengan dibimbing rasa nekat yang tak normal. Ia berhasil masuk. Mungkin menimbulkan suara atau tidak, Ia tak tahu. Ia kaget ketika ternyata sudah ada dalam rumah. Seluruh rasa ketakutan menyatu, memeras badan dan mengucurkan keringat. Sempat berpikir untuk pulang. Tapi, barang-barang yang ada di depannya terasa sangat sayang jika tak dibawa. Tak perlu waktu lama, Ia segera keluar bergegas pulang. Ketika istrinya menjelang bangun pagi untuk bersiap masak, Karba sudah di rumah, minum dan duduk menyandarkan sepenuhnya badan di kursi dapur.

“Ini dari mana, Pak?” tanya istrinya setengah membentak. “Bapak mencuri?”

“Terpaksa. Nanti jika sudah ada gantinya, akan saya kembalikan.”

“Maksudnya?”

“Sudahlah. Saya capai. Saya mau tidur. Semoga tak terjadi apa-apa?

“Tadi ada yang tahu, Pak?”

Karba diam, pergi tidur dan terus berusaha membuang gelisah. Semua yang dilakukan di ujung malam kembali tergelar dalam ingatannya. Sebuah keberanian yang terlalu berani dengan resiko sangat fatal jika ada yang mengetahui. Sampai saat ini, sampai detik ini, aman. Entah di detik  berikutnya. Semua suara yang didengar, seperti suara orang-orang yang berbondong-bondong memburunya. Decakan suara cicak pun, begitu mengagetkannya.

Ketika hari sudah siang, Karba terbangun dari tidur yang tak sepenuhnya. Terhuyung keluar rumah, memasang kuping. Ada bisik-bisik tetangga tentang maling yang membawa tabung gas, beras, minyak, sayur dan rokok. Karba memicingkan telinganya, sambil terus berdo’a agar tak ada satupun orang yang curiga. Sepanjang hari itu, Ia gelisah. Seluruh langit dan angin tak bersahabat, mencerca dan mencibirnya. Semua orang yang menyapa seperti curiga. Sampai memasuki gelapnya malam dengan sinar lampu mulai menerangi, perasaan gundahnya agak berkurang dan bisa tertidur di ranjang dengan tak sepenuhnya.

Malam berikutnya, Karba keluar rumah mengajak tetangga untuk berjaga lingkungan. Banyak orang yang ikut dan Ia dengan dua orang temannya bertahan sampai pagi dan tidur sejenak di pos ronda er-te. Malam berikut-berikutnya hanya bertiga sampai kemudian hanya Karba yang bertahan berjaga malam keliling wilayah. Kondisi aman, tak ada lagi yang kemalingan. Sepertinya, ronda berkeliling lingkungan tak ada gunanya.

Karba menyasar rumah yang jauh dari tempat tinggalnya. Keberaniannya dan keahliannya semakin bertambah setelah dengan mudah membobol rumah di desa sebelah dengan tanpa jejak terendus. Ia terus belajar, mengamati.  Ia menjadi lihai, tenang, terencana dan pintar menyembunyikan semua yang akan dan telah dilakukan. Waktu dan tempat sasaran diperhitungkan dengan instingnya yang terus terasah. Kondisi sosial Ia hapal di setiap wilayah sasaran. Ia aktor yang baik.

Di rumah, karba membuat tempat hasil curain. Ditatanya tabung gas dengan formasi garis diagonal. Barang-barang lain yang sempat dibawanya ditata sebagai penghias. Ia tatap setiap pagi. Diusap dan dielus-elus satu persatu. Ia hafal setiap tabung berasal. Dengan memegangnya, akan membawa ingatannya pada peristiwa yang direncanakan yang kadang sesuai rencana, tak jarang pula tak sesuai yang direncanakan, dan Ia selalu selamat. Tabung-tabung gas itu bercerita tentang semua perjalanannya, dari bahan plat besi, masuk pabrik, diolah, dicat, diisi, didistribusikan, sampai ke dapur, beberapa kali dicuri, di jual lagi, di catat juga bagaimana Karba memindahkannya pada tempat yang sekarang, berjejer saling bercerita, dan cerita itu ternyata bisa dijual.

Karba berpindah tempat. Tumpukan tabung gas terus menumpuk dan menjadi sulit untuk terus disembuyikan. Kadang juga, pada malam-malam yang sepi, mereka saling senggol menimbulkan suara irama aneh. Diperlukan lahan yang aman dan luas. Diperlukan orang-orang sekitar yang percaya dengan kebaikannya. Beberapa temannya dihubungi, dimintai pendapat. Pada sebuah lokasi dengan rerimbunan pohon memayungi gedung yang belum cukup tampak tua, Ia memutuskan untuk menyewa. Ia berani saja harga sewa yang ditawarkan meski tak tahu bagaimana cara mendapatkan uang. Jalan menuju gedung dengan tanaman perdu yang rapat tertata selalu memberi inspirasi bagi Karba. Selalu ada ide baru yang Ia sendiri kadang kaget.

Teman-teman Karba ikut membantu memindahkan tabung-tabung gas ‘milik’ Karba. Sering kali tabung-tabung itu saling bercengkerama, bercanda, tertawa terbahak-bahak membicarakan baju mahal yang membungkus badan keriput dengan muka halus dilapisi bedak yang bisa tampak tersenyum. Hanya Karba yang bisa mendengar, dan teman-teman Karba akan diam memaklumi jika melihatnya sedang tersenyum-senyum atau berroman muka seperti sedang berdialog dengan tabung gas. Mereka menganggap Karba sedikit gila dan itu tak bisa diganggu. Mereka hanya berharap dan berdoa, Karba segera sembuh.

Dari tabung-tabung itulah Karba mendapat petunjuk. Tabung-tabung itu merekam semua rumah yang pernah disinggahi. Jika ditanya, mereka tak pernah berbohong dan tak ada yang ditutupi. Sebuah tabung yang mas sedikit terisi dan terakhir ditata, berteriak seperti marah, “kenapa saya ditaruh di sini lagi, tempat yang jorok dan pesing!”

“Ini tempat yang bagus, lantainya keramik, tak ada debu, luas dan atapnya tinggi,” ucap Karba agak sedikit kesal.

“Kau mau tahu apa yang terjadi di sini sebelum kau di sini?”

Karba diam, dilihatnya sekilas dengan tatapan penuh seluruh ruangan gedung. Banyak pintu-pintu dan sebuah taman kecil tengah bangunan yang di atasnya dibiarkan sinar matahari masuk bebas. “Saya akan senang mendengar ceritamu. Sampaikan sepenuhnya.”

Tabung yang agak lusuh dengan cat lecet di sekujur tubuh itu pun segera bercerita dengan tanpa ekspresi, datar, seperti tanpa koma dan tak belibet. Karba merekam dalam ingatannya dengan kata-kata kunci. Selesai bercerita, tabung itu diam, wajar, tak merasa puas tak juga punya keinginan.

Karba mengumpulkan barang-barang yang diperlukan, sore itu juga langsung menemui si pemilik gedung di rumahnya yang tak jauh. Ia diterima di teras depan. Rumahnya besar dikelilingi taman yang luas dengan tanaman-tanaman bunga dan pohon-pohon estetis dalam posisi yang tepat dan nikmat dipandang. Dianggap mau bayar sewa, Karba diterima dengan baik dan ramah. Seorang perempuan cantik sederhana menyajikan dua cangkir teh hangat dan sepiring kue yang Karba tak tahu namanya.

Karba berbasa-basa asyik. Ia menjadi pintar bercerita dengan menyambungkan hal-hal yang diingat dan kadang muncul seketika. Sampai kemudian bercerita tentang gedung itu. Segala yang telah terjadi, lengkap kronologinya dan berkait dengan berita yang ramai di luar. Tuan pemilik gedung kaget, terdiam, terperangah dan tak bisa menghentikan cerita Karba. Karba tanpa beban terus bercerita seperti seorang kakek mendongengi cucu kesayangan.

“Maaf, Pak Karba mau pakai berapa tahun gedung itu?”

“Maaf Bapak, saya tak punya uang yang cukup untuk menyewa gedung itu dengan waktu yang lama.”

“Nggak papa. Pakai saja gedung itu. Saya titip, tolong dirawat dan diam.”

“Tapi, maaf Bapak, saya perlu pagar yang kuat supaya tabung-tabung tidak kabur. Tabung-tabung itu telah singgah di banyak rumah. Mereka begitu gampang bercerita tanpa ada beban. Saya telah mendengarnya, dan tak hanya saya yang bisa mendengar karena tak sengaja saya telah membuatnya bisa bercerita.”

“Kok bisa …? Semua orang bisa mendengar jika tabung-tabung itu bercerita? Tapi, kan, tidak semua orang bisa mendengar ceritanya?”

“Betul Bapak. Tapi, teman-teman saya bisa mendengarnya meski tidak sepaham saya.”

“Ok. Jaga jangan sampai bayak orang yang bisa mendengar cerita dari tabung-tabung itu.” Ia menghela nafas agak dalam, seperti berpikir sejenak, diam. “Berapa biaya yang diperlukan untuk bikin pagar yang kuat. Pagar yang kuat, jangan asal-asalan.”

“Saya tidak paham tentang biaya Pak. Saya minta secukupnya dulu, nanti kalau perlu lagi saya minta lagi.”

“Oke. Siap. Dan, ingat pesan saya, jangan sampai tabung-tabung itu kabur dan  bercerita ke sembarang orang. Kau tahu dari rumah siapa saja yang telah disinggahi tabung-tabung itu?”

“Tahu Pak. Dan jika saya sebut satu persatu nama-nama itu, pasti Bapak tahu, bahkan hampir semua orang juga pasti tahu.”

Karba pulang, kembali ke gedung, menemui teman-temannya dan merencanakan pembuatan pagar. Sampai malam, dilanjut dengan rencana mereka untuk memanfaatkan tabung-tabung yang bisa bercerita tentang seluruh dapur dan rumah yang telah disinggahi.

Mereka catat cerita para tabung pada kertas-kertas putih yang dikemas dan ditata pada rak-rak yang tidak semua orang tahu cara mengambilnya. Hari berikutnya mereka datangi satu persatu para pemilik rumah yang diceritakan tabung-tabung itu. Anehnya, para tabung itu menjadi semakin semangat saat bercerita. Mereka menunggu giliran dengan tak sabar, tapi masih mau diatur, untuk bercerita, menunjukkan bukti, memberikan saksi.

Karba pegang kendali. Teman-temannya dimanfaatkan sedemikian rapi sehingga tak ada yang punya niat untuk berkhianat. Jika ada yang mencoba menyusun kekuatan baru, segera disingkirkan, dihilangkan jejaknya seperti tak pernah ada. Karba dilindungi banyak orang. Orang-orang yang rumahnya pernah disinggahi tabung-tabung yang bercerita, bersedia membayar orang untuk menjaga Karba. Tak ada yang berani melukainya, apalagi mencoba membunuhnya. Sedikit saja Karba merasa tidak nyaman, Ia bisa melepaskan sandi yang bisa membuat semua tabung yang diamankan di gedung, yang sudah jadi miliknya, bercerita bebas ke langit lepas; lewat televisi, lewat handphone, lewat mulut, lewat jalan-jalan yang tak terduga.

Sekarang, semua orang memanggilnya Tuan Karba. Keluarganya diboyong ke sebuah rumah besar yang telah dibangun oleh banyak orang disebelah gedung tempat menjaga dan merawat tabung-tabung. Mereka harus dijaga dan dirawat. Jika tak nyaman, bisa saja berbicara lewat corong-corong toa di pucuk menara masjid.

                                                                                                                                                                                                        djayim 22:53 17052025 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar