NGODE PERANG

 


Semua atau hampir semua manusia sepakat, bahwa membunuh manusia adalah hal yang salah, tidak baik dan tidak manusiawi. Bahkan memperlakukan sesama manusia dengan tidak baik pun, dianggap perbuatan yang tidak baik, tidak manusiawi.

Nilai memperlakukan manusia, menjadi berubah ketika masuk dalam dunia perang. Perang merubah penilaian manusia terhadap manusia dalam memperlakuan manusia lain. Perang terjadi karena ada ketidakmenurutan orang atau sekelompok manusia terhadap keinginan kelompok  manusia lain,  karena lain keyakinan, lain bangsa, lain negara, lain kepentingan, lain keinginan. Kelompok manusia yang merasa superior, berkeinginan kelompok manusia lain yang disasar, manut sesuai dengan keinginannya. Mereka tidak peduli disebut mencampuri kelompok lain, arogan, penindas, yang penting keinginannya tercapai dan kelompok manusia lain tunduk manut sesuai harapannya.

Dalam perang, angka kematian seolah hanya sebuah angka hitung-hitungan korban jiwa, melupakan rasa keluarga dan orang-orang terdekat  yang menyaksikan saudaranya mati karena sebuah keserakahan keinginan. Dalam perang, manusia-manusia seolah-olah maklum terhadap sebuah pembunuhan manusia yang tersistimatis. Pembuhuhan yang direncakanan dengan biaya yang sangat besar. Pembunuhan manusia karena berbeda keinginan. Pembunuhan manusia karena ingin menguasai kelompok manusia lain supaya sesuai dengan kemauannya. Dan yang melakukan itu, adalah manusia-manusia yang terlatih dan dibayar.

Manusia yang katanya makhluk hidup paling sempurna di dunia, melatih dan membiayai manusia untuk membunuh manusia lain. Kerja membunuh orang. Ngode perang, ngode membunuh. Dan karena berpayung kata perang, membunuh menjadi ‘dimaklumi’.

Seorang kepala negara, bisa dengan mudah memerintahkan prajurit-prajurit yang terlatih dan dilatih dengan biaya sangat besar, untuk berangkat perang, yang artinya bertujuan untuk mengalahkan sekelompok orang lain dengan cara membunuh. Sebuah anomali yang terlupa; mengeluarkan biaya yang begitu besar untuk persenjataan perang, melatih para tentara dan berkampanye bahwa perang adalah cara untuk menciptakan kedamaian dan membunuh dalam perang adalah hal lumrah. 

Jika dana sarana dan prasarana untuk perang dibelanjakan untuk kemakmuran manusia, pasti manusia yang mengaku sebagai makhluk hidup paling sempurna, menjadi benar-benar sempurna. Jika tak ada tentara  di seluruh negara dan manusia saling menyadari jika menyakiti sesama manusia apalagi membunuh manusia adalah hal yanga dilarang dan sepakat untuk tidak melakukannya, dipastikan tidak ada kematian karena pembunuhan. Hanya ada kematian alami. Dan dunia akan damai untuk dinikmati bersama-sama.

Mencari pembenaran melakukan peperangan, apapun itu adalah sebuah upaya menutupi kerakusan sekelompok orang yang ada pemimpinnya. Tentara-tentara yang berangkat perang, berangkat membunuh dengan rasa bangga membela negara dan rasa membela ‘kebenaran’ adalah hasil propaganda para politikus di negaranya. Para pemegang tampuk kekuasaan duduk di depan meja dengan hidangan lezat sambil mendengarkan berita dan menunggu laporan. Di medan perang, para prajurit bertaruh nyawa; membunuh atau terbunuh. Tak ada kenyamanan di medan perang. Harus selalu siap siaga. Debu, lumpur, tanah, angin, air kotor, bau mesiu, senapan, ledakan, desingan peluru, semua menjadi bagian kehidupan perang. Yang mati akan di tinggal begitu saja jika membawa mayatnya merugikan pasukan. Yang mati bisa di bawa, dimakamkan dengan penghormatan, dan akan segera terlupakan, dan dunia tak terpengaruh dengan kamatiannya. Yang cidera permanen harus melakoni dan harus bisa menerima sampai batas kematian.

Jika menang dalam peperangan, akan mendapat sambutan dan tepuk tangan dari para poltikus, sambil memberi label pahlawan dan terus meyakinkan bahwa mereka telah melakukan hal terbaik untuk negara.

Para politikus pulang ke rumah, menikmati hidangan kesukaan, nonton tivi dan tidur sesuai jadwal. Para tentara, merawat luka, melepas trauma dan tak bisa tidur; “kenapa harus mencari uang dengan membunuh?”

22:09 30032026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DI LEMBAH LESTANA DAWA

DUA BATU BERGESER

TIANG BETON NOMOR SEMBILAN