MEMBUNUH UNTUK PERDAMAIAN
Saya selalu tertarik tentang sebuah keyakinan pada seseorang atau sekelompok orang. Keyakinan yang diyakini kebenaran menurutnya menjadi titik awal berargumen untuk membelanya. Argumen-argumen yang selalu dicari dan disediakan menjadi cenderung menyalahkan keyakinan orang lain yang berbeda. Untuk mengagungkan keyakinannya sering merasa perlu menyingkirkan orang atau sekelompok orang yang berbeda keyakinan. Keyakinan bisa berupa berbasis agama atau keyakinan non agama. Keduanya sama, berkeinginan semua orang di sekitarnya, atau bahkan seluruh dunia mempunyai keyakinan yang sama sepertinya. Tak jarang melakukan kekerasan supaya orang lain mau, setuju dan berkeyakinan sama.
Orang seperti itu menganggap jika
yang berbeda dengan keyakinannya terkalahkan dan bisa di tekan sesuai dengan
keinginanya, semua akan berjalan baik, dunia akan tercipta sesuai keinginannya
dan tak ada lagi yang berbeda dari keinginannya. Dan orang seperti itu, tidak
hanya satu, mereka berkelompok dan meyakini bahwa apa yang dipikirkan dan
ditindaklanjuti adalah benar dan harus dipertahankan keyakinannya dengan
mengalahkan orang, kelompok, komunitas atau negara yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Jika cara kampanye untuk merayu tidak berhasil, tindakan lanjutannya adalah
intimidasi, jika tidak berhasil lagi, menyerang secara fisik dan perang menjadi
tindaklanjut untuk penaklukan. Dan, terjadilah bunuh membunuh.
Membunuh lawan menjadi pilihan untuk melepas kekesalan dan
dendam karena ketidaksesuaian pikiran dan keinginan dari masing-masing pihak
yang berseteru. Mereka saling merasa benar dan membela kebenaran dari
masing-masing keyakinan yang dianutnya adalah tindakan herois, kstaria dan
sebuah keberaniaan yang sangat dibanggakan, dan juga janji surga setelah
kematiannya. Raga mereka bisa saja mati dan dikubur, tapi keyakinan tentang
kepahlawanan dan mati terhormat akan terus lahir dan mengalir ke setiap darah
di kelompok, di komunitas atau di negaranya. Menghabisi raga, (daging dan
tulang bernyawa), mungkin bisa saja di lakukan, dan menghapus jiwa ksatria
dalam darah dan keturunan orang dalam
kelompok, komunitas, negara atau agama seperti sebuah kemustahilan. Sejarah
tentang kepahlawanan akan terus bergulir, merembet, mengalir pada setiap jiwa
raga penerusnya. Kebanggaan-kebanggaan akan terus dibangun turun temurun.
Narasi tentang kepahlawanan bagi
kelompoknya, akan terus dijaga turun-temurun. Membunuh dan mengahabisi lawan,
menjadi sebuah semangat karena ‘suntikan’ deskripsi kepahlawanan yang terus
menerus disuapkan pada cerita sejarah yang mereka ciptakan untuk kalangannya.
Kesalahpahaman apa yang membuat
orang seolah memaklumi, jika membunuh orang yang tidak sepaham bagi negaranya
atau bagi kelompoknya, sebagai tindakan yang membuat orang mendapat predikat
pahlawan. Kedua belah pihak saling membunuh, kedua belah pihak saling punya
pahlawan. Predikat pahlawan bagi pembunuh musuh, menjadi pertanda bahwa
membunuh orang itu baik. Menakutkan sekali perihal bunuh membunuh dalam perang,
hanya karena pemimpin negara itu menyatakan perang.
Jika bereperang untuk alasan
menciptakan perdamaian, untuk siapa perdamaian yang mereka inginkan. Bagi siapa
damai yang ingin mereka ciptakan. Jika kelompok yang anggotanya terbunuh,
kemudian merasa perlu membalas untuk juga membunuh, dan terus saling balas
membalas, akankah berakhir jika hanya tinggal satu lawan satu dai masing-masing
kelompok.
Kapan naluri berperang dari manusia
akan hilang?
dj. 21:18 06062026

Komentar
Posting Komentar