Senin, 23 September 2013

MEMBACA DALAM PERJALANAN

Membaca menjadi sebuah kegiatan yang saya suka saat tak bisa bekerja, seperti saat di dalam bis atau di dalam mobil saat perjalanan jauh. Membaca menjadi menu yang mengasyikan dan nikmat seperti mereguk minuman yang pas saat dahaga menyiksa. Ini sebuah kesenangan yang tak banyak memerlukan biaya seperti mancing, tak juga mengundang bahaya seperti hobi trabas, mobil off road, yang memerlukan biaya yang tak sedikit. Cukup membeli buku atau majalah atau koran, kita bisa bercengkerama dengan si penulis dan bisa memasuki dunia-dunia baru yang kadang tak terduga. Pemikiran-pemikiran baru menjadi hal yang menarik untuk selalu disimak. Banyak sekali parodi-parodi atau pun sendau gurau sosial yang tak terekam oleh kita, dapat dimunculkan oleh seorang penulis dengan cara sederhana dan mengena.

Dalam bis yang sering beroperasi malam, seingat saya belum pernah menjumpai ada lampu yang disediakan untuk penumpangnya bila ingin membaca. Ada memang lampu di atas tempat duduk dia langit-langit bis, tetapi sinarnya tak cukup membuat nyaman jika untuk membaca dan hanya untuk sekedar menerangi apabila penumpang memerlukan sinar lampu di sekitar tempat duduk. Keadaan ini tak banyak orang yang mengeluhkan karena tak banyak orang merasa perlu. Syukurlah sekarang tersedia lampu kecil portable yang pangkalnya bisa di jepitkan ke buku dan kepala lampu-nya bisa di arahkan ke lembaran buku. 

Saat saya dalam perjalan siang, pemandangan di kanan kiri sepanjang jalan menjadi lembaran-lembaran alam yang penuh dengan tulisan dan gambar-gambar penuh kreasi, imajinasi dan sering banyak hal yang tak terduga menyelinap di jalanan. Ini menjadi ‘buku lain’ bagi saya dan saya terus membacanya. Meski ruas jalan itu sering saya lewati, tetap saja saya merasa ada daya tarik sendiri dalam perjalanan di lain waktu. Sering saya tersenyum simpul dengan tulisan atau gambar di bak ataupun pintu truk. Ada gambar yang bermaksud untuk menghiasi bodi truk atau badan bis, justru malah merusak karena tak ada nuansa seni sama sekali. Tulisan-tulisan di truk atau bis atau kendaraan lain, berotasi tema yang di tulis, seperti mode dalam berpakaian, seperti lagu pop, saat kalimat atau ada ungkapan yang sedang ‘tenar’, ungkapan itulah yang paling banyak di tulis. Lembaran-lembaran di sepanjang kiri kanan jalan menjadi saingan utama dalam membaca buku atau majalah atau koran atau gadget yang ada di tangan. Tapi tak apa, ini sama-sama mengasyikan, toh yang sering saya inginkan dari membaca keasyikan menelusuri apa yang saya baca.

Saya senang jika melihat bangunan baru dengan nuansa arsitektur yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Ada imajinasi baru yang saya baca dan kemudian asik mencari maknanya meski sering tak mengerti sampai kemudian muncul hal baru lagi yang mengundang kekaguman lain. Bangunan-bangunan megah  dan besar seperti mengabarkan ada kemakmuran di sekitarnya. Atau akan ada sebuah pusat perputaran ekonomi baru jika bangunan itu berupa supermarket, pabrik, atau komplek perumahan baru. Untuk rumah, saya lebih senang melihat rumah dengan nuansa sejuk ketimbang rumah tampak megah dan gagah. Di rumah yang sejuk, tampak kedamaian, kerendah-hatian, kebijakan bagi si penghuni dan sepertinya itu tak ada di rumah megah dan gagah. Tentu itu sebuah penilaian yang tak berdasar dan jauh dari ilmiah, tapi itulah pesan yang timbul di benak saya yang muncul tanpa filter. Saya juga sering kesal pada pengendara yang menyerobot jalan saat antri karena macet yang mengakibatkan kemacetan yang parah semrawut. Saya juga merasa jengkel pada kendaraan biasa membunyikan sirene polisi atau sirene ambulan dengan tanpa merasa bersalah, malah bangga membuat orang lain ketipu.

Membaca itu sebuah keasyikan yang bisa dicapai dengan sederhana merangkum maknanya dan menafsirkan dengan caranya sendiri menjadi keasyikan selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar