Jumat, 27 September 2013

Repoter ngapak



Ketertarikan saya pada sepakbola membuat saya kadang berhenti sejenak dalam perjalanan saat terlihat ada pertandingan sepakbola. Ada banyak orang yang seperti saya ternyata. Suatu waktu, saya mendapati pertandingan sepakbola dengan reporter menggunakan bahasa lokal. Dalam pertandingan live seperti itu peran reporter untuk menarik penasaran para peminat sepakbola yang belum datang ke lapangan sangat besar. Menggebu-gebunya reporter penuh semangat dalam me-reporter-i seolah menjadi wakil dari semangatnya para pelaku di lapangan. Di desa saya, ada seorang yang bisa me-reporter-i penuh semangat dengan kalimat yang terus menerus menyambung, meski kadang tidak pas, sehingga sebuah pertandingan sepakbola perempuan yang aslinya para pemain hanya berlari lari seperti bebek kebingungan, menjadi seperti sebuah pertandingan yang ramai sekali jika hanya mendengarkan dari corong Toa. Ia bisa menciptakan sebuah rasa penasaran kepada orang yang mendengarkannya. 

Seingat saya, sebuah pertandingan yang di reporteri menggunakan Bahasa  Indonesia, yang tak perlu memakai aturan EYD, bisa komunikatif, kreatif dan enak didengar. Kebiasaan kita berBahasa Indonesia dalam keseharian di bidang formal, membuat mudah untuk merangkai kata dengan cepat dan terus sambung menyambung. Ini menjadi lain saat sang reporter menggunakan bahasa lokal. Padahal bahasa lokal adalah bahasa yang setiap hari digunakan untuk berkomunikasi. Pemilihan kata untuk setiap kejadian menjadi aneh, lucu, asing dan menjadikan lelucon tersendiri, sehingga di pikiran mencari padanan kata yang tepat dan mewakili. Ini yang aku dapati saat pulang dan mampir sebentar di pinggir lapangan menyaksikan pertandingan sepakbola dan mendengarkan reporter yang mamakai bahasa lokal Banyumasan yang sering disebut bahasa ngapak. 

Banyak Bahasa Banyumas yang tak ada padanannya di Bahasa Indonesia. Banyak ungkapan Bahasa Banyumas yang sulit untuk ditranslit ke Bahasa Indonesia secara sempurna. Artinya banyak sekali kosa kata bahasa ngapak yang artinya lebih spesifik pada sebuah objek yang ingin dikomunikasikan. Tapi, saat reporter sepakbola itu me-reporter-i, Ia seperti kesulitan memilih kata-kata sehingga kadang lucu, aneh, janggal, tapi menggelitik dan sekaligus mengasyikan. Saya pikir harus sering dibiasakan memakai bahasa lokal / bahasa ibu, agar keberadaannya tidak menjadi asing saat dipakai untuk acara yang telah terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia. Perlu penyelerasan dan persamaan pengertian untuk istilah-istilah dalam bidang tertentu, seperti bidang sepakbola atau bidang olahraga secara umum, bidang teknik, bidang ilmiah, bidang seni budaya dsb. Jadi ada ensiklopedia dalam Bahasa Jawa Banyumasan (ensiklopedia Ngapak). Ini tentu akan sangat membantu bagi keberadaan Basa Ngapak yang kemungkinan bisa terkikis oleh bahasa lain yang ‘dirasa’ oleh si pemakai lebih gaya, lebih keren, merasa modern dan merasa berwawasan maju. 

Sering kita melihat orang Ngapak malu-malu berbahasa ngapak jika ngobrol dengan orang berbahasa jawa bagian timur wilayah ngapak. Seolah ingin menyembunyikan kengapakannya, padahal setiap wilayah mempunyai logat dan bahasa tersendiri yang satu sama lain berbeda cara pengungkapan dan peruntukannya. Saya juga sering merasa aneh jika mendengar bahasa jawa logat lain, seperti logat Jogja, Logat Jawa Timuran atau bahasa Jawa dengan logat lain. Ini karena telinga saya jarang mendengar. Saya sangat maklum terhadap perbedaan pemakaian bahasa dan logat yang kadangkala hanya terpisahkan oleh aliran sungai atau jalan pun. Inilah keindahan berkomunikasi lewat bahasa. Lain dengan berkomunikasi dengan bahasa tulis, logat bahasa dan persepsinya ikut pada si pembaca dan tidak ada komunikasi timbal balik. 

Saya salah seorang pecinta bahasa ibu, ber-ngapak ria setiap hari adalah salah satu upaya yang saya lakukan. Saya tak bisa menggalang massa untuk berkampanye, karena saya tak punya acces untuk itu, agar setiap warga wilayah ngapak selalu memakai bahasa ngapak, agar berlogat ngapak menjadi kebanggaan dan dibanggakan. Ciri bahasa Banyumasan yang Ngapak adalah blaka suta, yang artinya kurang lebih apa adanya, tanpa tedenga aling-aling, tanpa basa basi langsung ke pusat sasaran apa yang dibicarakan. 

Jika sang reporter sepakbola kesulitan memilih padanan kata istilah dalam  sepakbola dan merangkainya, itu karena belum terbiasa dan tidak dibiasakan. Mari berngapak ria dan Basa Ngapak selalu ada setiap saat sampai kapanpun. Semakin bertambah kosa katanya dan semakin banyak orang yang memakainya.

2 komentar:

  1. aku ga punya bahasa ibu, karena lahir dan besar di Jakarta..
    bahasa pengantar ya standar saja, bahasa indonesia ..
    ibuku orang sunda bogor, tak mengajarkan bahasa ibunya padaku.
    sedangkan ayahku orang jawa asal tegal, beliau pun tak mengajarkan bahasa ibunya padaku..
    so... jadilah aku anak yang hanya bisa bahasa nasioanal saja :)

    BalasHapus
  2. bisa punya 2 bahasa ibu dong mba. bahasa tegal dan bahasa bogor. asik lho mba, berbahasa ibu di tempat lain.

    BalasHapus