Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

SOK TAHU

Gambar
“Saya agak bingung juga mengartikan kalimat sok tahu, mas.? “Masa kata-kata sesederhana itu kamu nggak tahu. Memang kenapa, ada yang tanya kamu nggak bisa njawab atau kamu njawab tapi ada pertanyaan lanjutannya?” “Saya coba mengartikan sendiri dengan berbagai pertanyaan reka-reka, kok jadi bingung sendiri.” “Makanya jangan bikin pertanyaan reka-reka. Coba apa yang kamu bingungkan. Barangkali saya juga tambah bingung kalau ikut-ikutan kamu berpikir njlimet yang nggak perlu.” “Kok nggak perlu. Ini perlu.” “Coba kamu ngasih contoh kasus.” “Misal, saya bilang sama mas, ‘sok tahu kamu’, padahal mas tahu tapi tahunya tidak seperti pengetahunannya si pengomong. Atau mas, bener-bener tidak tahu, atau taunya segitu, nha, menurut kamu bagaimana mas.? “Agak bingung juga ya, menerjemahkannya.” “Gini, seseorang tahu tentang anu, eh, sesuatu. Atau seseorang memang hanya tahu sedikit. Atau seseorang tahu sesuatu tetapi ‘tahu-nya’ tidak sama dengan si pengucap ‘sok tahu kamu’ kare...

PELECEHAN KEYAKINAN

“Keyakinan itu seperti politik ya bang?” “Maksudnya?” “Ya, nggak boleh disentuh oleh yang beda keyakinan. Politik juga kan?” “Begitu yah. Apa politik begitu?” “Iya, seperti tak sadar keyakinannya juga bersinggungan dengan keyakinan lain.” “Kalau begitu dibiarkan saja. Gitu saja repot.” “Ya, tapi kalau seperti memaksa untuk mengikuti keyakinannya, kan bikin kesal juga.” “Nggak usah merasa kesal.” “Tidak percaya keyakinan lain, melecehkan nggak Bang?” “Nggak. Asal nggak dipermasalahkan.” “Permasalahannya kan, jika ada yang merasa benar sendiri, dikira tidak ada kebenaran lain yang tidak sama dengan kebenarannya. Seolah merasa keyakinan lain bagi dia tidak benar.” “Nggak usah merasa dilecehkan tentang keyakinan. Kalau tentang ajaran agama, mungkin bisa. Kalau keyakinan, dalam sebuah kelompok pun bisa jadi berbeda keyakinan tentang sesuatu. Makanya jangan memaksa tentang sebuah kebenaran dari sebuah keyakinan.” “Bedanya pelecehan tentang k...

MASUK INSTITUSI MAHAL

“Bang, dengar-dengar masuk institusi itu harus bayar mahal sekali yah..?” “Institusi yang mana?” “Yang itu.” Sembari memberi kode. “Kata siapa. Kemarin saya masuk kesana tidak harus bayar. Biasa-biasa saja dan tidak harus begitu.” “Maksudnya, jika pengin jadi anggotanya.” “Oh. Kamu tahu dari siapa. Harus ada bukti lho.” “Dari orang-orang. Sudah jadi rahasia umum bang.” “Yang bener. Coba, pernah nggak kamu tanya sama orang-tuanya yang anaknya masuk institusi itu.” “Ya nggak bakalan ngaku bang. Itu kan aib dan juga melanggar hukum.” “Nha, terus kamu tahu dari mana? Hati-hati lho. Kamu bisa dilaporkan kasus pencemaran nama baik. Itu bisa dikataka fitnah, karena tak ada buktinya.” “Tapi kan, sudah banyak yang tahu.” “Ada buktinya nggak?” “Iya yah bang. Seandainya iya pun, kan pelaku pasti menyembunyikan bukti-buktinya. Tapi sepertinya benar begitu bang. Kalau pengin masuk kesitu, jadi anggotanya harus ada uang banyak, meski tidak semuanya. Kan mereka juga butuh o...

BIAYA GEDUNG BESAR DARI BELANJA

Gambar
“Hebat ya pak, orang yang punya gedung sebesar itu. Berapa ratus milyar biaya untuk membangunnya?” “Ya hebat memang. Biaya bikinnya mungkin triliyunan Rupiah.” “Darimana uang sebanyak itu ya Pak?” “Ya, dari Bank. Bank Indonesia. Kalau bukan dari Bank Indonesia, berarti uang palsu.” “Maksud saya, dari mana didapatnya? Dari jual apa, dari usaha apa, bagaimana caranya.” “Dari Bank!” “Maksudnya gimana pak? Kalau dari Bank saya tahu.” “Pinjam di Bank.” ”Boleh sih pak?” “Bolehlah. Memang kenapa? Bank juga perlu orang yang pinjam uang. Kalau nggak ada yang pinjam, gimana coba bank bisa bertahan?” ”Bertahan gimana pak. Kayak pertandingan sepakbola aja ada bertahan.” “Bertahan untuk mengembangkan usahanya. Kan dari orang yang pinjam dan ngasih bunga, bank bisa membiayai operasional dan mengembangkan usahanya.” “Oh.. iya yah..” “Ya iya lah.” “Berapa ratus juta tiap bulannya untuk biaya listrik dan perawatan gedung sebesar itu ya pak?” “Kalau mau tahu, tanya pen...

Puisi yang bikin ramai

Gambar
“Kang, kok maslah puisi aja jadi ribut ya kang?” “Ya, karena isinya ada yang merasa jadi tersinggung dan dilecehkan.” “Kenapa harus tersinggung si kang?” “Karena apa yang diyakininya sebagai yang sakral, ditulis dan dibaca sebagai sesuatu yang tak bermakna. Dianggap kalah dengan oleh hal duniawi.” “Coba kalau merasa tak tersinggung, bisa nggak ya kang?” “Bisa saja. Tempatkan diri kita pada posisi yang benar-benar tidak tahu syariat Islam, dan tak bermaksud melecehkan.” “Maksudnya?” “Ya..... Kita seolah menjadi orang yang benar-benar tidak tahu tentang syariat Islam. Dan menulis puisi karena ingin menyimpan atau mencatat sebuah keindahan kalimat.” “Apa karena yang membaca anak seorang proklamator yang saudaranya-saudaranya jadi tokoh partai penguasa ya kang?” “Bisa jadi. Bisa jadi benar, bisa jadi salah.” “Kok nggak yakin kang.” “Karena saya nggak tahu apa maksud dari mereka-mereka yang meributkan puisi itu. Bisa jadi ada pihak yang memanfaatkan momen untuk me...

VIRAL TAK TERDUGA

Gambar
djayim.com Teknologi komunikasi telah memberikan kita ruang yang begitu luas dan tersambung pada setiap sudut dalam satu jejaring yang sambung menyambung. Sebuah berita, bisa sangat cepat merambat ke semua area yang terjangkau oleh jaringan internet. Ada berita yang datang dan pergi, terlupakan begitu saja. Ada berita yang bertahan dan dibahas beberapa hari. Ada yang bertahan karena tidak ada berita lain yang lebih ‘heboh’. Penyebaran, perhatian dan jadi bahan pembahasan sebuah berita, kejadian, gambar atau tulisan, dan tingkah laku yang menyedot perhatian tinggi dari pengguna internet itulah yang dinamakan viral. Kalau ada yang menulis atau mengatakan “viralkan...” itu berarti mengajak kepada warganet untuk menyebarkan   sesuatu berita, kejadian, gambar atau tulisan, dan tingkah laku agar apa yang diviralkan diketahui banyak orang. Budaya Indonesia itu sangat dinamis dan terbuka. Mudah menerima hal-hal baru, meski kadang bertentangan dengan budaya sebelumnya. Banyak...