Label

Kamis, 05 April 2018

Puisi yang bikin ramai


“Kang, kok maslah puisi aja jadi ribut ya kang?”
“Ya, karena isinya ada yang merasa jadi tersinggung dan dilecehkan.”
“Kenapa harus tersinggung si kang?”
“Karena apa yang diyakininya sebagai yang sakral, ditulis dan dibaca sebagai sesuatu yang tak bermakna. Dianggap kalah dengan oleh hal duniawi.”
“Coba kalau merasa tak tersinggung, bisa nggak ya kang?”
“Bisa saja. Tempatkan diri kita pada posisi yang benar-benar tidak tahu syariat Islam, dan tak bermaksud melecehkan.”
“Maksudnya?”
“Ya..... Kita seolah menjadi orang yang benar-benar tidak tahu tentang syariat Islam. Dan menulis puisi karena ingin menyimpan atau mencatat sebuah keindahan kalimat.”
“Apa karena yang membaca anak seorang proklamator yang saudaranya-saudaranya jadi tokoh partai penguasa ya kang?”
“Bisa jadi. Bisa jadi benar, bisa jadi salah.”
“Kok nggak yakin kang.”
“Karena saya nggak tahu apa maksud dari mereka-mereka yang meributkan puisi itu. Bisa jadi ada pihak yang memanfaatkan momen untuk meperlemah lawan.
Bisa jadi ini dibawa ke ranah politik, tapi dibikin seperti tak ada sangkut pautnya.”
“Coba kalau yang nulis dan membaca puisi itu saya, boro-boro diributkan, didengar pun kayaknya nggak ada orang yang mau.”
“Resiko orang besar memang begitu. Setiap tindakan dan perkataannya diperhatikan dan dijadikan senjata oleh lawan jika salah atau sedikit salah. Semua diperhatikan. Nha, kamu lain, kalau ingin diperhatikan, teriak-teriak di tengah-tengah mall yang sedang pesta diskon.”
“Kkkkkkkkwk....”
“Kok tawanya gitu?”
“Ya... kalau gitu, saya malah diusir dan disumpal mulutnya dikira orang gila.”
“Jadi orang gila yang cerdas saja, enak.”
“Emang kamu pernah gila kang?”
“.... Pernah, tapi lupa kapan.”
“Kang, boleh nggak saya baca puisinya Bu Sukmawati?”
“Boleh. Kenapa tidak? Suara kamu tak akan didengar...”
"Oke kang. Tapi kalau saya dianggap melecehkan, kamu ikut membela ya kang?"
"Bisa. Bisa tidak, bisa iya."

IBU INDONESIA
Oleh : Sukmawati Sukarnoputri

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat,  berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan adzan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi

Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.

1 komentar: