puisi anakku
Pagi hari. Aku melihat Dari jendela dapur Bunga warna ungu, indah sekali. Seperti peri. Saya sebut tulisan di atas sebuah puisi. Kali ini saya baca lagi. Ya, sebuah puisi dari anakku di bulan Agustus 2013 pas saya ulang tahun, tiga tahun lalu. Sambil berlatih menulis dengan menggunakan laptop, Ia eja satu satu dan sibuk mencari posisi huruf di keyboard. Maklum saja, anakku belum hafal dan belum terbiasa menulis pakai keyboard. Ia masih baru masuk TK. Saya menjadi merasa perlu untuk menyimpan tulisannya yang hanya lima baris itu. Ia menulis tanpa ada pengarahan dariku. Saya terkesima dengan ide sederhananya. Saya tidak tahu kenapa Ia memilih kata ‘jendela dapur’ yang di dalam rumah tidak ada jendela di dapur yang dapat untuk melongok melihat bunga. Jika kata; bunga warna ungu, mungkin yang Ia maksud, bunga senggani yang memang ada di halaman rumah belakang. Dan yang lebih saya terkaget dan bingung adalah kata indah seperti peri. Waktu saya tanya peri itu seperti...