Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2016

puisi anakku

Pagi hari. Aku melihat Dari jendela dapur Bunga warna ungu, indah sekali. Seperti peri. Saya sebut tulisan di atas sebuah puisi. Kali ini saya baca lagi. Ya, sebuah puisi dari anakku di bulan Agustus 2013 pas saya ulang tahun, tiga tahun lalu. Sambil berlatih menulis dengan menggunakan laptop, Ia eja satu satu dan sibuk mencari posisi huruf di keyboard. Maklum saja, anakku belum hafal dan belum terbiasa menulis pakai keyboard. Ia masih baru masuk TK. Saya menjadi merasa perlu untuk menyimpan tulisannya yang hanya lima baris itu. Ia menulis tanpa ada pengarahan dariku. Saya terkesima dengan ide sederhananya. Saya tidak tahu kenapa Ia memilih kata ‘jendela dapur’ yang di dalam rumah tidak ada jendela di dapur yang dapat untuk melongok melihat bunga. Jika kata; bunga warna ungu, mungkin yang Ia maksud, bunga senggani yang memang ada di halaman rumah belakang. Dan yang lebih saya terkaget dan bingung adalah kata indah seperti peri. Waktu saya tanya peri itu seperti...

Bruno Birahi

Gambar
djayim.com Saya begitu yakin sebelumnya, jika kucingku, kucing kesayangan sekeluarga berjenis kelamin laki-laki, jantan, karena sewaktu saya membawanya dari rumah sang pemberi, ia menyebutnya kucing jantan. Sampai kemudian saya menyempatkan untuk lebih meneliti jenis kelaminnya. Tentu dengan mengamati detail lokasi yang menentukan apakah kucingku cewek atau cowok. Dan, aku berkesimpulan ia perempuan, cewek, wanita. Wanita? Kayaknya ‘wanita’ hanya pas untuk orang. Masak ada kucing wanita. Terus, apa sebab saya harus meneliti jenis kelamin kucingku itu? Karena ia mengalami masa birahi yang nampaknya sangat menyiksa. Kucing yang sebelunya jarang sekali bersuara itu menjadi mengeong-ngeong agak keras berulang-ulang meski tidak seperti kucing ras jawa. Ia sangat memerlukan pelepasan rasa birahi yang datangnya pada masa tertentu dan nampaknya menjadi sebuah keharusan. Jika ia di elus-elus punggungnya, ia memperlihatkan gerak menata diri untuk siap ‘menerima’ dengan gerakan-gerakan e...

Berinternet yang menjengkelkan

Saya sering merasa kesal jika membuka web di laptop atau pc yang memakai OS Windows. Ketika saya klik atau saya buka di tab baru selalu diarahkan ke situs belanjaan. Juga selalu di tutupi oleh iklan yang saya sama sekali tak ingin melihatnya. Otomatis saya close dan buka lagi, tapi selalu muncul begitu. Sudah berulang kali mencoba setting browser atau uninstall program yang dengan pe-denya masuk lewat jalur internet dan tanpa sepengetahuan memasangkan diri. Tapi hanya sebentar dan kembali muncul maslah dalam berselancar di dunia maya. Tool jebakan juga sering mengantar saya pada situs game atau situs belanjaan yang tidak sedang diperlukan. Bahkan simbol close (X) dan tulisan close pun kalau di klik akan langsung mengarahkan pada laman yang tak di tuju. Saat browsing pada laptop atau pc yang memakai OS Windows, seolah bayak sekali aplikasi yang menjengkelkan masuk dan susah untuk di usir. Malware hampir ada dan bersembunyi di setiap tempat yang kita sering tak menduganya. Lain haln...

Motor GP, Bahasa Inggris Aksyen Spanyol

“Kun, apa yang kau suka dari GP Inggris di sirkuit Silverstone, semalam?” “Pas wawancara Maverick Vinales, Rossi.” “Lho..” “Iya. Bener, saya sangat suka mereka, Vinales, Marques, Lorenzo, kalau di wawancarai wartawan tetap pe-de dengan bahasa Inggris ber aksen Spanyol. Atau kalau Rossi tetap beraksen Itali saat ngomong.” “Terus, maksudmu?” Jawir tidak tahu arah pembicaraan Raskun. “Lha, kamu pernah nonton nggak. Di tivi yang judulnya lagi lomba nyanyi, lafal bahasa inggris yang dinyanyikan peserta di tertawakan oleh juri. Nyanyi kan soal, seni tarik suara, soal kesusaian nada musik yang menjadi kesatuan lagu. Kalau soal lafal, tak perlu menjadi hal yang di tertawai.” “Oh.. gitu yah Kun.” “Iya!” “Itu kan haknya para yuri. Makanya kamu jadi jurinya.” “Coba, berani nggak, mereka menertawai Arkarna yang nyanyi Kebyar-kebyar dengan aksen Inggris, nggak pakai aksen Indonesia.” “Nggak nasionalis yah Kun?” “Yoi..” “Ya sudah, saya juga prihatin dengan generasi kita,” uj...

Sianida Jessica

Dini hari jam setengah tiga 2 September 2016, ketika saya terjaga dari tidur di depan tivi yang lupa saya matikan, saya sempat menyimak sebuah siaran tunda di TVone. Saya menduga siaran tunda karena sebuah sidang tidak mungkin dilakukan jam setengah tiga malam. Sidang tentang kematian Mirna yang di duga di racun oleh Jessica. Sebuah sidang yang disiarkan langsung dan menyita perhatian banyak orang. Sebuah kemisteriusan telah membangun rasa penasaran yang terus bertambah dalam perkara kematian Mirna. Setiap penayangan acara di tivi pasti melalui sebuah pertimbangan ekonomis. Dengan segala pertimbangan lainnya, produser yang menayangkan ulang sidang kematian Mirna, berharap banyak penonton yang menahan rasa kantuk untuk menyimak semua kejadian dalam sidang. Perdebatan-perdebatan dari disiplin ilmu yang berbeda sering menjadi hal yang menarik dan menambah waawasan bagi orang yang tak pernah menonton sidang di pengadilan. Saksi ahli, ahli IT dan ahli psikologi dan sejenisnya, bersaksi...

sambel

Saya sering melihat rumah makan yang menawarkan menu pedas. Lombok ijo, Sambel Ijo, Sambelayah, Tahu mercon, mie setan, lombok setan, atau kalimat lain yang merujuk pada rasa pedas. Ketika membaca penawaran lewat ‘iklan’untuk makan di rumah makan yang membanggakan sebuah kepedasan, saya merasa terdiskriminasi. Saya belum pernah membaca sebuah hasil survey yang mebandingkan prosentase orang yang suka pedas dan orang yang tidak suka pedas. Sebagai orang yang sama sekali tidak suka pedas, saya langsung menuduh kalau menu pedas yang ditawarkan rumah makan pasti karena pemilik atau pengelolanya suka rasa pedas. Mungkin saya keliru, tapi itu hal yang muncul tiap kali saya membaca sebuah tulisan yang membanggakan rasa pedas. Tersadari juga, banyaknya rumah atau tempat makan yang membanggakan rasa super pedas dan banyak yang sukses, itu menjadi acuan untuk menawarkan menu pedas sebagai andalan untuk menarik calon pembeli. Atau bisa juga, orang yang suka pedas itu kebanyakan orang yang su...