Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2017

WANITA GILA ITU HAMIL

Gambar
Cerpen Pernah dengar nggak, seorang wanita gila baru, muda cantik berkulit bersih yang dikerjai oleh sekelompok anak muda begajul di bawah jembatan pada suatu malam yang dingin menjelang jam 00:00. Cerita itu, entah benar entah tidak, telah beredar meluas cepat secepat berita selebriti yang jadi anggota DPR tersandung kasus korupsi yang terus menerus setiap waktu di tayangkan di banyak televisi. Jadi, begitulah, katanya, wanita itu memang betul-betul cantik, punya mata yang berbinar cerah dengan kedipan mata yang pelan sangat teratur seirama dengan senyum yang sedikit menggaris. Tapi, sebenarnya wanita itu punya senjata untuk mengusir ana-anak muda. Matanya yang tajam dengan tatapan yang berkilat-kilat seperti sinar laser, mampu mengusir orang yang mau berbuat jahat. Dan juga Ia akan segera mengambil batu sebesar kepalan tangan dan menganyun-ayunkan siap untuk melempari siap saja yang mau berbuat tak senonoh sambil teriak-teriak. Tentu saja para pemuda itu akan lari bersembunyi ...

PURIANG

Gambar
cerpen djayim.com Jika hanya menginginkan kenyamanan di tempat ini, sebaiknya jangan dulu atau samasekali tak mendengar cerita tentangnya. Puncak bukit yang tak terlalu tinggi ini, selalu ada semilir angin yang berhembus pelan tak pernah tergesa dari arah yang berbeda. Jika pagi, kita bisa menyaksikan mentari yang muncul perlahan di ujung timur di dada bukit yang tengadah dengan tetumbuhan yang samar, dan jika senja, matahari terlambat terbenam pada pangkal rerimbunan pohon pinus yang berjajar rapi di punggung bukit yang tenang membisu. Burung-burung tak pernah berkicau over acting, hanya sekedar bunyi dan lewat terbang saja. Tiga pohon rindang menjadi peneduh. Di bawah pohon berdaun kecil-kecil memanjang dengan totol-totol warna kuning dan kemerahan, kita bisa duduk di atas batu sebesar kepala orang dewasa dan bersandar. Banyak orang menyebutnya Puriang dan banyak lagi orang menyebutnya pohon Puring, itulah makanya tempat tumbuhnya di sebut Igir Puring. Pohon itu ditanam se...

sebuah nama yang (di)tertinggal

Gambar
Cerpen S ehabis upacara apel pagi, di sebuah lapangan yang di pinggirnya ditumbuhi pohon-pohon rindang, di dekat tiang bendera yang menjulang tinggi sepertiga tinggi gedung, sebuah nama tertinggal. Ia tergolek tak berdaya berlumuran debu. Ia berusaha bangkit dan mencari-cari orang yang selama ini mengenakannya. Ia tatap langit; matahari masih di langit timur, ada dua burung dara beradu terbang dengan suara sawangan terus menjerit, bendera merah putih agak lusuh berkelebat searah angin ke barat, sebuah pesawat terbang bergegas berlari ke timur meninggalkan asap putih di belakangnya. Ia berteriak, “Hai... Siapa yang namanya tertinggal.” Tak ada sambutan suara yang Ia keluarkan penuh tenaga. Semua aktifitas manusia tetap berjalan tak sedikit pun suaranya itu terasa pernah lewat. Mungkin tak ada orang yang mendengar suaraku, pikirnya, atau mereka pura-pura tak mendengar? Mereka tuli. Mereka sudah tuli. Mereka pura-pura tuli. Mereka telah segera menutup telinga dengan kertas, dengan ...

sepanjang jalan, jalan itu

Selalu saja aku terpesona dengan jalan yang dilewati saban hari. Tak dihitung berapa kalinya. Tak sempat. Terasa tak perlu. Jalan yang sama yang selalu dilewati, kadang menggugah hati. Mengenang dan membaca. Ada yang banyak kurang pas pada saat tertentu, dan mengingatnya sekedar untuk tidak terjerembab jatuh terlempar. Kadang gelap dan hujan lebat mengantar pada lubang yang semestinya terhindar. Atau sering juga terpaksa menerabas kebimbangan dan berkelit cepat mencari selamat. Masih di jalan yang sama. Jalan yang bermuara satu, jalan yang di tengah bercabang-cabang, bermarka-marka. Petunjuk-petunjuk masih berdiri dingin di tepi jalan, menjelang persimpangan. Kadang terabaikan, kadang segaja terlupakan. Malam atau dini pagi bersiap untuk pagi berangkat, pada jalan yang sama untuk melewati. Sampai pada titik sampai dan tak lagi bisa berangkat. Mati. Maret 2017.

kabar kematian

Jalan yang kulewati dengan bermotor roda dua, pepohonan kanan kiri sepanjangnya. Hijau dedaunan dan angin yang keluar dari ketiak-ketiak pelepah daun berseribit. Beberapa tempat rusak dan perlu berhati-hati. Langit di atasnya tampak selebar jalan yang berbatas pucuk-pucuk daun. Ada awan sempat singgah dan burung berwarna abu-abu terbang berdua bergegas, tanpa suara. Di mana ujung itu? Ketika lelah telah membalur. Ketika kaki berat mengangkat. Mungkin setelah tikungan terakhir itu, aku sampai pada tujuan. Tapi tikungan terakhir itu selalu ada. Dan lelah terbiasa menyandungi. Serasa lari bergegas, tak juga pada sampai. Satu dua orang berpapasan, tak saling sapa mengenggam arah pada peta yang telah tergariskan. Pada gubuk-gubuk kecil yang terkadang ada di pinggir jalan, aku berhenti sejenak terkadang, meneguk air kesejukan yang ditawarkan dari tangan-tangan kearifan menuntun ke arah jalan berujung pada sebuah danau berair biru dengan air selalu beriak, dengan angin yang selal...

menulis sajak lagi

pada malam yang tak sepenuhnya gelap dengan angin yang datang menyentuh aku berdiri. tak juga tegap. memandang lurus dan melepas nafas dari kerongkongan yang agak kering. aku robohkan tembok mulai berlumut yang dirikan dengan beberapa utas kata. agak setengah hati tenaga yang mengumpal di ujung kepal. perlahan menguat dan menjelmakan kekuatan dari seluruh penjuru badan. terlalu berjiwa lemah membiarkan keindahan kata melintas di langit yang terus gempita. aku belajar menulis sajak lagi. 1:14. 4.5.17

VONIS AHOK

Gambar
Ahok divonis dua tahun penjara Hakim memutuskan memvonis Ahok dua tahun penjara dalam kasus penistaan agama. Kasus yang banyak sekali menguras energi dan melahap banyak waktu untuk membahasnya. Sebuah kalimat terlontar dari mulutnya di kepualuan seribu saat kunjungan kerjanya, menjadi awal dari tarik ulurnya berbagai kepentingan. Ketika belum selesai pilkada DKI putaran kedua, kasus Ahok menjadi bahan pembahasan yang seringkali memanas. Perdebatan dalam politik yang menyangkut perebutan kekuasaan gampang sekali menyulut amarah bagi masing pihak. Ditambah lagi sebuah kasus penistaan yang dilakukan oleh orang di luar agama. Sebuah perebutan kekuasaan menjadi merembet dan melebar pada kasus bela membela agama dengan tensi emosi meninggi.  Bagi pendukung Ahok, vonis terhadap Ahok dengan dua tahun penjara menjadi terasa terlalu berat dan bagi kelompok yang menuntut Ahok di penjara, vonis itu terlalu ringan meskipun vonis itu lebih berat dari tuntutan jaksa yang menuntut satu...