Postingan

netral

N etral itu tidak ikut sana sini. Tidak memihak, tidak mendukung, tidak membantu salah satu pihak, tidak menolak salah satu. Dan, sepertinya itu bisa disebut apatis. Netral senetral-netralnya adalah saat sama sekali tak berpendapat pada sesuatu yang sedang diperdebatkan atau sedang diperebutkan. Bisa karena memang tak tahu yang dibahas, sengaja tidak mau tahu atau karena memang tidak tahu pembahasannya. Netral dalam posisi ini mudah dan tidak perlu mengendalikan diri untuk selalu mengingatkan diri agar tetap netral. Pada posisi kita tahu masalah apa yang sedang diperdebatkan atau diperebutkan, memposisikan diri pada kondisi netral memerlukan energi yang terus menerus agar tak mendekat pada salah satu kubu. Berpendapat cukup di alam pikiran dan membuangnya jauh-jauh. Dalam masalah perdebatan yang kita tidak diharuskan memilih, demi untuk netral, pendapat yang dipikiran bisa kita endapkan untuk menjadi catatan pribadi yang bisa saja menguap dalam beberapa waktu kedepan atau menjadi...

OPOSISI KETIGA

djayim.com Dalam permainan sepakbola yang normal, saat pertandingan di lapangan akan saling menyerang supaya gol yang diperoleh lebih banyak daripada lawan. Dalam pertandingan memperebutkan kekuasaan, menyerang lawan terus menerus belum tentu menjadikan menang. Rasa empati terhadap orang yang terus menerus diserang akan memunculkan pembelaan yang berakibatkan lawan menjadi menang. Kondisi ini disadari betul oleh masing-masing pihak   yang menjadikan selalu berusaha terukur dan tepat sasaran dalam menyerang lawan. Tak ada kawan dan lawan yang sempurna. Semua punya sisi lemah. Sisi lemah itulah yang oleh lawan akan diekspos terus menerus sampai lawan benar-benar dalam posisi kalah. Dalam saling menyerang itu ada pemenang yang menjadi penguasa yang kemudian memperoleh fasilitas dan perangkat yang bisa dimanfaatkan untuk mempertahankan kekuasaan yang salah satu caranya dengan menyerang lawan. Yang kalah juga terus menyerang dan menunjukkan keberadaannya. Media massa menjadi alat...

BANGGA

Merasa bahagia, senang, gembira atas sesuatu yang diraih, yang dipunya; itulah bangga. Bangga bisa membuat melayang pada dunia lain dan akan terus menerus dihidupkan kembali itu di setiap saat. Mempertahankan bangga tetap berada pada hati dan pikiran menjadi kegiatan yang mengasyikan. Bercerita kembali tentang apa yang dibanggakan, menulisnya, mengingatnya dengan cara menghadirkan benda-benda atas sesuatu yang berkaitan; menjadi cara agar bangga itu tetap dingat, tetap hidup dan menghadirkan sensasi kebanggaan. Bercerita dengan sering tentang sesuatu yang dibanggakan, akan menjadi benih kesombongan yang jika dilakukan terus menerus menjadi terasa menyebalkan bagi orang yang mendengarnya. Dan muncullah kemudian komentar, pamer, yang lebih lanjut melahirkan sebutan sombong. Kegembiraan itu tidak mudah untuk didapat, dan jika dengan bercerita tentang apa yang dibanggakan bisa menghadirkan bahagia, kenapa harus di hindari? Bisa saja jawaban itu muncul dari orang yang berbangga den...

berhalusinasi

Gambar
Halusinasi berbeda dengan khayalan. Atau sebagian orang menyamakan antara halusinasi dengan khayalan, dan menurut saya itu berbeda. Halusinasi itu sebuah bangunan rekaan peristiwa pada ruang dan waktu yang disediakan oleh pelaku dengan sesukanya. Sedangkan khayalan adalah membangun dan menciptakan sendiri harapan-harapan yang dirasa tak mungkin dicapai, belum tercapai atau bahkan sama sekali jauh jangkaunnya dari hal sebenarnya. Halusinasi dan khayalan dibangun dalam alam pikirannya untuk memenuhi hasrat, menghibur diri, melepaskan tekanan batin karena keinginan tak tercapai dan keinginan untuk menciptakan suasana yang bangunan dan tatanan yang ada didalamnya sesuai dengan keinginannya. Jika halusinasi yang muncul bisa dikendalikan, disampaikan dengan lisan atau tulisan yang menarik, bisa menjadi cerita atau novel yang mengasyikan. Akan timbul masalah jika halusinasi itu di kaitkan dengan sejarah, adat budaya yang tidak sesuai dengan yang telah dipercayai banyak orang, dan halus...

KEGELISAHAN

berharap itu lumrah, manusiawi, wajar tanpa pengecualian. Berbuat sesuatu tanpa punya harapan itu sebuah keistimewaan yang lebih ke arah anomali. Bahkan berbuat sesuatu dengan sangat ikhlas pun, masih berharap kepada Alloh SWT yang akan membalasnya. Berharap kepada Alloh SWT dalam kontek ikhlas pun, masih berharap lagi, semoga Alloh memberikan seperti yang diharapkannya. Ketika harapan tidak sesuai dengan keinginan, akan lahir sebuah kegelisahan. Kegelisahan akan membuat siksaan baru jika harapan yang tidak sesuai dianggap sebagai kesialan. Lebih parah lagi ditambah dengan diingatnya kesialan-kesialan lain di masa lalu yang sengaja di hadirkan agar anggapan dirinya itu “sial” itu benar-benar sial. Berpasrah diri sebagai cara untuk membuang kegelisahan. Pasrah dengan tidak melakukan apa-apa adalah sebutan yang tidak tepat untuk disebut ‘pasrah’. Melakukan sesuatu dengan maksimal dan terus berusaha dengan menikmati proses usaha, menjadikan setiap waktu yang dilalui menjadi teras...

TOLERANSI PADA INTOLERAN

Belakangan ini, ‘toleransi’ menjadi sebuah kata yang sensitif dalam pembahasan. Orang tidak boleh berkata, menulis atau mengungkapkan kata, berbuat atau bergerak yang dianggap intoleran oleh orang yang tidak seide, sekeinginan, sekeyakinan dan berseberangan. Berbuat sedikit saja yang dianggap intoleran akan menjadi masalah besar jika ingin dibesar-besarkan oleh pihak yang tidak senang. Perebutan kekuasaan, Pipres, Pileg dan pertarungan politik, menambah bergairahnya penggorengan isyu atau bukan isyu tentang intoleran. Media sosial menjadi tempat yang subur dan amat sangat cepat berpengaruh untuk membuat suasana yang diinginkan, jika seseorang menuduh seseorang atau kelompok tertentu intoleran. Ketokohannya juga iku berpengaruh untuk menggoreng langit pendapat. Menjadi simpang siur atau kemudan saling bertabrakan, sangat mungkin untuk diskenariokan. Kita menjadi pada posisi harus maklum dan mengerti apapun yang ada di depan kita, di lingkungan kami bahkan di semua bawah l...

NONET (*)

soleh djayim             Seluruh isi tasnya kembali Ia periksa. Buku catatan harian, agenda, ballpoin, ringkasan laporan, kalkulator, arsip, pensil, pengaris, penghapus, staples dan isinya, semua diperiksa. Ia kembali duduk mengingat-ingat kalau-kalau ada yang ketinggalan sambil memakai sepatu. Ternyata sepatunya sudah lusuh perlu penyemiran kembali, waktu persiapan lembali bertambah; Apa lagi yang belum ku masukkan dalam tas, jangan-jangan nanti aku harus kembali pulang mengambil berkas yang ketinggalan. Rambutku belum rapi, perlu menyisir rambut dulu. Aku harus meyakinkan diri kalau pakaianku rapi, sopan dan menambah nilai plus bagi penampilanku.                  “Herta, tadi pesannya Pak Nandar bagaimana?”             “Tadi kan sudah saya katakan Kak, apa perlu di ulangi lagi?”       ...