Postingan

TENANG DALAM TAKUT

Perasaan takut dipunyai semua orang normal. Takut itu perasaan ngeri atau gentar terhadap sesuatu yang dianggap mendatangkan bahaya bagi dirinya atau yang berkaitan dengan dirinya. Takut juga bisa karena merasa jijik atau geli terhadap sesuatu. Perasaan takut ini membuat orang menjadi gelisah, berusaha menjauhi, menghindari dan atau timbul rasa ingin melenyapkan obyek penyebab rasa takut itu. Rasa gelisah dalam hati   ini menyebabkan jiwanya tidak tenang dan mempengaruhi fisik raganya mengekspresikan kegelisahan. Rasa takut menyebabkan ketidaktenangan pada jiwa raga. Jika kita mendengar atau membaca sebuah ungkapan ‘tetap tenang nggak perlu takut’ pada sesuatu kondisi yang membuat ketakutan, dapatkah kita melakukannya? Ungkapan itu sejatinya hanya setetes embun untuk menghilangkan dahaga. Sadar setetes embun tidak mungkin menghilangkan dahaga, tetapi tetap saja diterima karena tidak merugikan, terasa sedikit bikin adem dan menolaknya pun hanya buang-buang energi, juga membua...

MEMBUNUH KARAKTER.

K alimat pembunuhan sudah sangat sering di dengar. Pembunuhan itu membuat sesuatu menjadi mati. Membunuh itu melakukan kegiatan pembunuhan yang menjadikan obyek yang dibunuh mati. Menghabisi nyawa secara sengaja. Membunuh biasanya diterapkan pada makhluk hidup yang bergerak. Jika diterapkan pada makhluk hidup yang tidak bergerak menjadi janggal atau dirasa tidak pas. Membunuh pohon, misalnya, ini akan terasa janggal meskipun jika diperdebatkan bisa saja diterapkan. Mematikan pohon, di tebang atau di teres, terasa lebih enak dirasa dibandingkan dengan membunuh pohon. Pembunuhan karakter itu usaha secara sengaja membunuh karakter seseorang dengan menghabisi atau mengikis karakter yang dipunyai seseorang supaya karakternya mati atau berubah, sesuai dengan keinginan si pembunuh. Ada karakter korban yang tidak disukai oleh si pembunuh. Suka atau tidak suka itu subyektif, jadi kenapa si pelaku melakukan pembunuhan itu, alasannya bersumber dari persepsi yang subyektif dan untuk kepentinga...

TAKUT MATI

M eski kita sadar pada akhirnya semua manusia, bahkan semua makhluk hidup akan mati, tapi kita diberi rasa takut tentang kematian. Berbagai cara dilakukan untuk mempertahankann hidup dan menghindari kematian. Sepertinya umur dan waktu mati kita yang menentukan, sesuai dengan kesiapan dan keinginan, sesuai dengan schedule yang telah diatur sesuai selera pelaku hidup. Mayoritas manusia sadar, tak mengerti kapan dan dimana saat tiba waktunya mati. Sadar nggak bisa nawar dan nggak bisa sesuai permintaan, kecuali jika dengan cara bunuh diri. Tapi, mempertahankan diri dari kematian adalah sebuah keharusan, setidaknya mempertahankan diri sebelum waktunya tiba yang bisa tidak lagi bisa mengelak. Mempertahankan diri untuk tetap hidup adalah sebuah perjuangan terus menerus sampai pada titik waktu ‘kekalahan’ dan menerimanya. Begitu berharganya hidup sampai kadang lupa cara kita bertahan untuk hidup bersinggungan dengan orang lain yang juga sedang bertahan hidup. Tak jarang cara bertahan un...

netral

N etral itu tidak ikut sana sini. Tidak memihak, tidak mendukung, tidak membantu salah satu pihak, tidak menolak salah satu. Dan, sepertinya itu bisa disebut apatis. Netral senetral-netralnya adalah saat sama sekali tak berpendapat pada sesuatu yang sedang diperdebatkan atau sedang diperebutkan. Bisa karena memang tak tahu yang dibahas, sengaja tidak mau tahu atau karena memang tidak tahu pembahasannya. Netral dalam posisi ini mudah dan tidak perlu mengendalikan diri untuk selalu mengingatkan diri agar tetap netral. Pada posisi kita tahu masalah apa yang sedang diperdebatkan atau diperebutkan, memposisikan diri pada kondisi netral memerlukan energi yang terus menerus agar tak mendekat pada salah satu kubu. Berpendapat cukup di alam pikiran dan membuangnya jauh-jauh. Dalam masalah perdebatan yang kita tidak diharuskan memilih, demi untuk netral, pendapat yang dipikiran bisa kita endapkan untuk menjadi catatan pribadi yang bisa saja menguap dalam beberapa waktu kedepan atau menjadi...

OPOSISI KETIGA

djayim.com Dalam permainan sepakbola yang normal, saat pertandingan di lapangan akan saling menyerang supaya gol yang diperoleh lebih banyak daripada lawan. Dalam pertandingan memperebutkan kekuasaan, menyerang lawan terus menerus belum tentu menjadikan menang. Rasa empati terhadap orang yang terus menerus diserang akan memunculkan pembelaan yang berakibatkan lawan menjadi menang. Kondisi ini disadari betul oleh masing-masing pihak   yang menjadikan selalu berusaha terukur dan tepat sasaran dalam menyerang lawan. Tak ada kawan dan lawan yang sempurna. Semua punya sisi lemah. Sisi lemah itulah yang oleh lawan akan diekspos terus menerus sampai lawan benar-benar dalam posisi kalah. Dalam saling menyerang itu ada pemenang yang menjadi penguasa yang kemudian memperoleh fasilitas dan perangkat yang bisa dimanfaatkan untuk mempertahankan kekuasaan yang salah satu caranya dengan menyerang lawan. Yang kalah juga terus menyerang dan menunjukkan keberadaannya. Media massa menjadi alat...

BANGGA

Merasa bahagia, senang, gembira atas sesuatu yang diraih, yang dipunya; itulah bangga. Bangga bisa membuat melayang pada dunia lain dan akan terus menerus dihidupkan kembali itu di setiap saat. Mempertahankan bangga tetap berada pada hati dan pikiran menjadi kegiatan yang mengasyikan. Bercerita kembali tentang apa yang dibanggakan, menulisnya, mengingatnya dengan cara menghadirkan benda-benda atas sesuatu yang berkaitan; menjadi cara agar bangga itu tetap dingat, tetap hidup dan menghadirkan sensasi kebanggaan. Bercerita dengan sering tentang sesuatu yang dibanggakan, akan menjadi benih kesombongan yang jika dilakukan terus menerus menjadi terasa menyebalkan bagi orang yang mendengarnya. Dan muncullah kemudian komentar, pamer, yang lebih lanjut melahirkan sebutan sombong. Kegembiraan itu tidak mudah untuk didapat, dan jika dengan bercerita tentang apa yang dibanggakan bisa menghadirkan bahagia, kenapa harus di hindari? Bisa saja jawaban itu muncul dari orang yang berbangga den...

berhalusinasi

Gambar
Halusinasi berbeda dengan khayalan. Atau sebagian orang menyamakan antara halusinasi dengan khayalan, dan menurut saya itu berbeda. Halusinasi itu sebuah bangunan rekaan peristiwa pada ruang dan waktu yang disediakan oleh pelaku dengan sesukanya. Sedangkan khayalan adalah membangun dan menciptakan sendiri harapan-harapan yang dirasa tak mungkin dicapai, belum tercapai atau bahkan sama sekali jauh jangkaunnya dari hal sebenarnya. Halusinasi dan khayalan dibangun dalam alam pikirannya untuk memenuhi hasrat, menghibur diri, melepaskan tekanan batin karena keinginan tak tercapai dan keinginan untuk menciptakan suasana yang bangunan dan tatanan yang ada didalamnya sesuai dengan keinginannya. Jika halusinasi yang muncul bisa dikendalikan, disampaikan dengan lisan atau tulisan yang menarik, bisa menjadi cerita atau novel yang mengasyikan. Akan timbul masalah jika halusinasi itu di kaitkan dengan sejarah, adat budaya yang tidak sesuai dengan yang telah dipercayai banyak orang, dan halus...