Postingan

MEMBUNUH UNTUK PERDAMAIAN

Gambar
  Saya selalu tertarik tentang sebuah keyakinan pada seseorang atau sekelompok orang. Keyakinan yang diyakini kebenaran menurutnya menjadi titik awal berargumen untuk membelanya. Argumen-argumen yang selalu dicari dan disediakan menjadi cenderung menyalahkan keyakinan orang lain yang berbeda. Untuk mengagungkan keyakinannya sering merasa perlu menyingkirkan orang atau sekelompok orang yang berbeda keyakinan. Keyakinan bisa berupa berbasis agama atau keyakinan non agama. Keduanya sama, berkeinginan semua orang di sekitarnya, atau bahkan seluruh dunia mempunyai keyakinan yang sama sepertinya. Tak jarang melakukan kekerasan supaya orang lain mau, setuju dan berkeyakinan sama. Orang seperti itu menganggap jika yang berbeda dengan keyakinannya terkalahkan dan bisa di tekan sesuai dengan keinginanya, semua akan berjalan baik, dunia akan tercipta sesuai keinginannya dan tak ada lagi yang berbeda dari keinginannya. Dan orang seperti itu, tidak hanya satu, mereka berkelompok dan meyakini ...

NGODE PERANG

Gambar
  Semua atau hampir semua manusia sepakat, bahwa membunuh manusia adalah hal yang salah, tidak baik dan tidak manusiawi. Bahkan memperlakukan sesama manusia dengan tidak baik pun, dianggap perbuatan yang tidak baik, tidak manusiawi. Nilai memperlakukan manusia, menjadi berubah ketika masuk dalam dunia perang. Perang merubah penilaian manusia terhadap manusia dalam memperlakuan manusia lain. Perang terjadi karena ada ketidakmenurutan orang atau sekelompok manusia terhadap keinginan kelompok   manusia lain,   karena lain keyakinan, lain bangsa, lain negara, lain kepentingan, lain keinginan. Kelompok manusia yang merasa superior, berkeinginan kelompok manusia lain yang disasar, manut sesuai dengan keinginannya. Mereka tidak peduli disebut mencampuri kelompok lain, arogan, penindas, yang penting keinginannya tercapai dan kelompok manusia lain tunduk manut sesuai harapannya. Dalam perang, angka kematian seolah hanya sebuah angka hitung-hitungan korban jiwa, melupakan rasa ...

COKELAT DAN PUTIH

Gambar
  Dua ekor anjing, cokelat dan putih bintik hitam, mendesis-desis di bawah pohon Durian yang buahnya selalu jatuh sebelum matang. “Orang-orang itu, kok gitu ya?” “Siapa? Orang yang mana?” “Banyak. Mereka yang mampir di warung, bersenda gurau, bercanda. Bercerita tentang temannya.” “Memang kenapa? Kan sudah biasa.” “Semangat sekali jika bercerita menjelekan orang lain, bahkan temannya. Penuh drama, diungkit sampai ke akar serabut. Seolah tak ada kebaikan sedikitpun.” “Kamu juga ngapain ngurusin orang begituan. Kan manusia itu kadang lebih anjing dari kita yang anjing beneran.” “Kenapa juga harus bermuka dua, bahkan bermuka tiga, empat, lima. Begitu baik di depannya, begitu jauh, dihujat, dicemooh, ditertawakan, disumpahi.” ”Dan, kamu ingin mengatakan, kami kaum anjing lebih baik dari mereka.” “Nggak juga. Merasa lebih baik juga tak lebih baik dari mereka.” Dj. 22:02 23032026

KURSI

Gambar
  Menempati kursi jabatan itu pasti enak. Buktinya banyak orang yang berebut untuk mendapatkannya dengan berbagai cara. Apalagi jika jabatan tertinggi di sebuah wilayah atau negara. Presiden atau Perdana Mentri. Segala ucapannya di patuhi dan orang-orang disekitarnya bergerak memenuhi ucapan presiden, membelanya dan mencari cara untuk sesegera mungkin mewujudkannya. Ribuan orang mencari akses untuk mendekat agar mendapat fasilitas istimewa dalam segala urusannya. Dia diperhatikan, dijaga, disanjung, dipuja, disenyumi. Bagi yang membutuhkan kemudahan birokrasi, jabatan strategis dan segala hal yang mempermudah tujuannya, membuat sang penguasa berbahagia dan senang hukumnya wajib. Tak ada keputusan yang salah dan tak ada lelucon yang garing. Fasilitas, layanan, status sosial, penghormatan, ‘ketakutan’ orang-orang disekitarnya dan bawahannya menjadi hal-hal yang membuat pemegang kekuasaan merasa senang menikmatinya. Menjadi agak lucu jika seseorang berjuang bersusah payah mengeluark...

Anjing (5)

Gambar
Seorang dengan tingkah tak biasa, mendatangiku. Seekor anjing mengikutinya. “Kau lapar?” dia diam saja. Sorot matanya tak bisa ku baca. Anjingnya membalas tanyaku, “Apa tampang kami begitu?” “Saya hanya menawarkan saja. Barangkali begitu.” Orang itu dia saja, menikmati angin dan kibasan ekor anjing. “Kau tampaknya seperti kami, maka kami dekati. Kita bisa bersama.” “Saya seperti kalian?” “Kau merasa waras?” pertanyaan dengan nada menjijikan. “Kau memaksa diri untuk tampak selalu seperti baik pada orang yang kau anggap penting.” Saya tercenung. Mungkin anjing itu benar. Tapi, dia itu anjing, dia anggap saya seperti caranya. “Perbaiki caramu menjilat saja. Nggak perlu bernasehat.” “Betul. Jangan seperti saya jika tak ingin gila. Saya sudah terbiasa dengan senang dan kecewa. Berpura-pura senang dengan kekecewaan. Berpura-pura kecewa padahal senang jika sesuai niatku.” “Hebat kamu. Kamu bahagia dengan begitu?” “Ya. Ini lakon yang kujalani. Lakon yang ku pilih, pilihan d...

MAU KEMANA

Gambar
Cerpen   Betapa sibuknya dunia. Terburu-terburu, tergesa, berlari, ngebut. Waktu dianggap berjalan terlalu lambat. Saya tertegun. Ruas jalan yang lebar dan panjang seperti kurang tempat, kurang lebar, sempit. Suara knalpot saling menyapa, saling menderu melepas dendam. Sebagian besar merasa paling penting dan paling buru-buru, hanya sedikit yang menikmati perjalanan. Dengan bendera putih di ujung sebuah bilah, saya mulai menyetop satu persatu mereka yang melintas. Tak ada tanda di depan ataupun di belakang saya. Yanso, teman saya ikut membantu. Saya tanya dan saya rekam di HP yang sudah saya siapkan baterai dan ruang simpannya, setiap orang yang berkendaraan ataupun yang jalan kaki. Yanso yang berbadan gempal, tinggi 165, berambut cepak menantang langit, dengan wajah kaku menghentikan agak paksa pengendara yang berusaha lolos. “Anda mau kemana?” “Saya mau nganter anak sekolah Pak.” Suaranya datar. Anak lelakinya yang berseragam SD mendorong pundak ketakutan terlambat. “Bapa...

Anjing 4

Gambar
Saat lari pagi, ketika masih sepi suara dan orang, di depan sebuah rumah megah, seekor anjing mengejar; “Ngapain kamu ngejar-ngejar..!” “Saya harus melakukan ini, supaya beliau tahu saya masih berjaga dan siap siaga.” “Dan kamu bikin kaget.” “Maaf, saya lupa nggak nasih tahu dulu. Saya kira anda sudah tahu saya.” “Aku tahu kamu, tapi ini belum pernah dilakukan.” “Harus ada yang baru, supaya beliau tidak bosan. Saya sudah diberi makan enak setiap hari. Saya harus memberi lebih dari yang biasanya.” “Sesekali lah kau melawannya.” “Saya belum berani. Belum ada pikiran untuk lepas dari kenyamanan ini.” “Kamu nyaman di posisi begini?” Kami masih terus berlari pelan beriringan, sudah agak jauh. “Saya harus nyaman begini, karena nggak bisa jadi kucing, nggak bisa jadi macan, nggak bisa jadi banteng.” “Karena kamu nggak mau jadi yang lain.” Anjing mendadak menggonggong, berlari berbalik arah, kembali. Wnj, 17:28 12122025

anjing 3

Gambar
  Di sebuah garasi, seekor anjing hitam melongo kelelahan, pandangan matanya kosong, “Mengapa?” “Saya capai, apapun saya lakukan agar mereka senang, tapi…” “Kamu nggak ikhlas melakukannya, makanya muncul kata ‘tapi’ di hatimu” “Kalau saya ngomong, semua yang saya kerjakan ikhlas, berarti saya munafik.” “Setidaknya kamu harus bisa menikmati, jika tak bisa merasa ikhlas.” “Menikmati caraku?” “Ya. Sebelum kamu bisa menikmati hasilnya.” “Entah kapan itu, dan juga entah akan dapat atau tidak. Terasa capai, mengorbankan kesenangan, menggongong sana-sini, bersikap lucu, bersikap menggemaskan, berusaha cerdas, agar mereka senang dan tertawa.” “Itu jalanmu. Atau kau ingin jadi anjing liar pemburu di hutan, bebas tak ada yang ngatur dan nyuruh. Dan kau harus siap tidur di hutan belantara yang dingin, hujan, dan banyak binatang lain yang siap saling terkam.” Anjing hitam terdiam, agak lama. Dan ujug-ujug menggonggong agak panjang dan suaranya patah. Matanya sedikit berair, ...

Anjing 2

Gambar
  Dipinggir ruas jalan, di ujung jembatan, anjing cokelat, duduk. Menyapa saat ku dekati, “Kamu kenapa?’ Ia memandang dengan sinar mata kesal dan sedih, sedikit mengguguk, “Lagi pengin di sini, saja.” “Kamu tinggal di mana?” “Di emperan rumah itu,” moncong dan matanya mengarah pada sebuah rumah berwarna putih. “Kamu di usir?” Anjing itu menggeleng. Diam sebentar dan, “Saya hanya dibutuhkan saat malam. Tugasku menggonggong pada yang mencurigakan. Tugasku saat gelap, dingin, hujan, angin malam dan sepi.” “Kamu menyesal jadi anjing?” “Saya nggak punya pilihan.” “Nikmatilah.” “Tapi, kenapa kucing yang pemalas itu yang hidup nyaman di dalam rumah. Saya juga bisa lucu, menggemaskan seperti kucing.” “Kamu pengin jadi kucing?” “Mereka tak akan percaya jika saya jadi kucing pun.” “Jadilah anjing yang baik? “Apa ada anjing yang dianggap baik di sini.” “Kamu yang akan jadi anjing baik pertama di sini.”   Wnj.21:04 01122025

anjing itu lagi

Gambar
  Sekira satu setengah bulan lalu, bertemu anak anjing itu. Di sekitaran sebuah gubuk di pinggir hutan. Usianya belum dua bulan. Menggemaskan. Ada enam ekor dengan warna berbeda, ada dua yang warna hitam. Ekornya selalu digerakkan kanan kiri. Berlari lucu saat dipanggil. Moncongnya tersenyum-senyum sambil terus berlatih menggonggong. Bulu-bulunya halus mengkilap, tak ada kutu tak ada kudis.   Dan bertemu lagi. Masih ada enam dengan warna yang sama. Sudah agak besar. Matanya berkedap kedip, memelas. Tatapannya matanya sayu. entah apa yang diinginkan. Entah apa yang dipikirkan. Seperti berharap yang berat diungkapkan. Sesama teman, saling berdesak. Berebut didepan. Tak ada yang menggonggong, hanya menguik agak sedikit keras.   Hanya sekedar disapa, mereka sudah berjingkrak, menggemaskan. Tak diberi sesuatu apapun, karena pasti berebut, bertarung, bertaruh. “tenang, duduklah. Kulit dan warna kalian mengkilap.” Mereka berjingkrak berput...

KARBA

Gambar
Cerpen               Pagi yang masih dingin, gelap dan berat melambat. Kegelisahaan membuat menjadi tak nyaman, grungsang. “Istirahat atau tidur dulu Pak. Saya bikinkan kopi ya Pak?" “Ya. Tidak usah.” Pagi masih terlalu dingin untuk dinikmati. Bahkan suara nafaspun masih terdengar jelas dan dingin merambat dari jari-jari kaki. “Ini yang terakhir, Bu. Apapun yang terjadi, kita harus bertahan.” Istrinya diam. Sudah berapa puluh kali suaminya bilang, ‘ini yang terakhir’. Dan, Ia bersyukur jika memang benar. Dan, sanggupkah bertahan untuk lapar yang lama? “Kota terlalu keras untuk kita, bu. Keyakinan kita salah. Semua yang di kampung habis, tak tersisa. Sekarang harga diri kita juga sudah habis tak tersisa. Meski tak ada yang tahu, tapi aku malu. Malu sekali.” Istrinya diam, melepas nafas lewat hidung, melepas sesak pikiran dan bergegas ke kamar mandi. Dua anaknya sudah mulai bangun untuk siap-siap berangkat sekolah. Semua sudah disiapkan ...

TIANG BETON NOMOR SEMBILAN

Gambar
soleh djayim Wanita itu belum juga memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.   Ia tak tahu telah berapa lama berdiri menunggu dan tak ingin tahu   waktu menunjukan jam berapa. Ia tak akan bisa tidur malam jika belum juga mendapatkan keinginannya. Lewat lubang ventilasi, Ia itu berusaha melihat langit yang tertutup lantai beton di atas kepalanya. Udara lembab, langit mendung seperti ragu menumpahkan air hujan tetapi rintik gerimis sesekali menetes. Matahari terhalang sinarnya.   Mungkin sudah tengah hari, mungkin sudah sore, mungkin sudah senja. Ia tak mau tahu waktu, ia sengaja tak membawa arloji. Ia lupa lapar dan lupa tak mengisi perut yang meronta karena kosong.   Siapapun tak akan ada yang sudi dengan keadaan itu jika bukan karena sesuatu yang diyakininya bisa menentramkan dan menenangkan hati. Wajahnya yang mulai mengeriput halus masih membekaskan kecantikan di waktu mudanya. Dengan pakaian yang didominasi warna krem, tas hitam sedang, sandal kulit warna cok...

DI LEMBAH LESTANA DAWA

Gambar
  Tak ada kelus kesah, setiap orang yang berangkat kerja seperti mau ke wisata baru dan indah. Tiang-tiang listrik dengan kabel yang masih tersambung, terlilit tumbuhan rambat berdaun-daun hijau, di beberapa tempat dengan bunga warna-warni, juga menara besi bekas tower BTS yang menjadi tempat sarang burung. Menjadi monumen, dan bukan sesuatu yang penting untuk diingat. “Saya mohon maaf atas kedatangan kami.” “Kami maafkan. Tapi, tolong jangan ganggu kami.” “Kami hanya mau minta tolong, tuan.” “Kami juga mau minta tolong. Tolong janggu ganggu kami,”   diam sejenak sambil bergerak berdiri, “Maaf, saya ada keperluan lain.” Mbah Gagak membiarkan tamunya di sebuah rumah besar tanpa dinding. Sudah ratusan tamu mendatanginya, memohon dan jawabannya selalu sama meski dengan berbagai rayuan. Dengan baju kotak-kotak agak gelap, calana jean biru bersepatu kets, tamu itu beranjak pergi. Seperti bingung. Bertemu dengan seorang yang sedang memikul buah segar dan sayuran, “Maaf...