Kamis, 01 Mei 2014

Ternyata Capres-nya tak bisa dicalonkan



Bisa saja hal yang tak terduga terjadi dalam politik dan tak perlu terkejut. Saya membayangkan jika saja kemudian ada partai yang sudah begitu konfiden mengusung dan memamerkan Calon Presiden-nya, disaat waktu pendaftaran sampai habis waktu, tidak ada satupun partai yang mau diajak berkoalisi.
 
Hasil dari pemilihan legislatif telah membuat keadaan tak satupun partai yang berhak mengusung calon presidennya secara sendiri. Segala peraturan dan perangkat yang ada telah membuat keadaan menjadi seperti itu. Katanya, itu hasil dari sebuah musyawarah permufakatan dari para wakil rakyat yang diberi hak untuk bermufakat untuk memutuskan, yang kemudian lahir menjadi sebuah peraturan atau undang-undang atau apapun sejenisnya yang bersifat mengikat bagi yang berada di dalamnya.

Jokowi dari PDI-P, Prabowo dari Gerindra atau ARB dari Golkar yang telah memproklamirkan diri jadi calon presiden dari partainya masing-masing yang menempati tiga besar perolehan suara dari Pileg tetap saja harus berbaik-baik pada partai lain agar bisa mendaftarkan calon presidennya. Kalau partai-partai menengah dan kecil bersatu padu dan meninggalkan partai tiga besar, seangkuh apapun tiga partai besar itu harus berkoalisi agar bisa mendaftarkan calon presidennya. 

Semisal dari perkembangan lobi-lobi antar partai telah benar benar hanya ada empat kubu, yaitu kubu partai selain partai tiga besar yang telah menyatu dan tiga kubu dari partai tiga besar, maka hanya akan terjadi dua pasang Capres-Cawapres. Dari partai tiga besar hanya bisa mengajukan satu pasang calon, karena mereka jelas tak bisa mengajukan masing-masing partai satu pasang. Jika dua diantara partai tiga besar berkoalisi, salah satu dari mereka tetap harus ‘ngalah’ ikut bergabung jika tidak ingin sama sekali tidak ikut dalam hajatan poitik Pilpres. 

Jika kemudian lagi, tiga partai besar yang telah berkoalisi, sama-sama ingin mengusung Capres-nya jika hanya jadi Capres dan bukan Cawapres sampai batas waktu pendaftaran hampir habis, maka nilai tawar dari partai-partai menengah dan partai kecil menjadi tinggi. Si partai menengah atau kecil bisa saja menawarkan, ‘mari berkoalisi dengan kami asal Capres-nya dari kami, jika tidak, kami tak mengusung Capres atau Cawapre pun tak masalah.’

Menjadi mengasyikan untuk ditonton jika terjadi skenario seperti itu. 

Siapa, atau, adakah tokoh yang mumpuni untuk menyatukan partai menengah ke bawah sehingga kelompok partai itu menjadi pemain utama dalam Pilpres 9 Juli nanti. Jika ada maka akan lahir sebuah keadaan baru : bahwa tidak selamanya yang kuat itu yang berkuasa dan berperan.

Memungkinkan juga jika salah satu dari partai tiga besar di boikot oleh partai lain sehingga Ia hanya menjadi penonton dalam Pilpres. Maka partainya pasti akan menjadi partai oposisi dan menyuruh seluruh caleg-nya menjadi oposan yang militan.
Mungkin saja di dunia politik. 

Dunia yang lahir dari rahim demokrasi. Entah rahim yang mana dan entah rahim yang bagaimana. Entah rahim demokrasi yang lahir dari rahim demokrasi yang  mana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar