Jumat, 22 Februari 2019

MEMBACA LAGI SOE HOK GIE



Membaca sebuah buku yang sedang diselesaikan bacanya oleh anakku, jadi kembali teringat kira-kira dua puluh lima tahun yang lalu (kalau tidak salah ingat 1994), ketika membaca sebuah buku berjudul, Soe Hok Gie Catatan seorang demonstran. Buku ini diberi judul Soe Hok Gie ...Sekali lagi, bergambar close up wajah Gie,  Diatas judul buku ada tulisan; Buku, Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya. Di pojok kiri atas ada tulisan; Editor: Rudy Badil, Luki Sutrisno Bekti dan Nessy Luntungan R.

Saya baca sekilas buku tersebut, acak, tak banyak dan hanya sedikit sekali yang saya baca. Ada yang sempat saya baca tentang bagaimana sosok Soe Hok Gie dijadikan sebuah film yang diproduseri oleh Mira Lesaman dan disutradai Riri Reza. Sekilas lain tentang bagaimana kejadian ketika Soe Hok Gie Meninggal saat mendaki gunung Semeru yang katanya keracunan.

Saya tak akan membahas tentang buku yang dibaca anakku, juga tentang buku yang dua puluh lima tahun yang lalu saya baca. Yang ada dalam pikiran dan angan-angan saya, jika seorang Soe Hok Gie hidup pada jaman sekarang dengan segala kecerdasan, semangat dan keberaniannya. Seorang muda yang tanpa takut melawan dan meyuarakan ketidakadilan dan kecurangan. Terus menerus bersemangat menulis dan menginspirasi orang-orang disekitarnya. Dijamannya, menurut yang saya baca, Ia begitu hebat dan kecerdasannya dimnfaatkan dengan sangat baik untuk terus menerus berjuang membangun area yang bersih dari kekotoran, kecurangan dan kelicikan.

Kita bisa membayangkan kehebatannya jika Ia bertindak dan melakukan pada jaman sekarang. Bisa saja kita menyangka kehebatannya karena Ia berkelakuan dan bertindak tepat ketika masa tahun 60an dan tidak akan sehebat itu jika diterapkan pada masa sekarang. Tetapi kehebatannya pada masa itu karena terpengaruh oleh sosial budaya dan segala gaya hidup yang tumbuh di sekitarnya. Ia disebut cerdas, tentu ada komparasi dari orang lain yang hidup di jamannya. Jika Ia hidup di masa sekarang pun, mungkin sekali Ia lebih hebat lagi karena didukung fasilitas komunikasi dan banyaknya bahan bacaan yang bisa jadi referensi dalam menulis dan bertindak. Dan tentu ada banyak resiko bagi siapapun orang yang berani terhadap sebuah rezim. Kematiannya Soe Hok Gie yang masih sangat muda, ketika sedang mendaki Gunung Semeru, pun menjadi misteri. Atau, bisa saja karena kematiannya itulah yang membuat nama Soe Hok Gie menjadi termasyhur, dan akan biasa-biasa saja jika Ia tidak mati di saat sedang menjadi perbincangan banyak orang kala itu. Keterkenalan akan menjadi lebih masyhur ketika terjadi tragedi yang mengakhiri keterkenalannya.

Diperlukan orang-orang kritis dan berani menyampaikan ketidakadilan, ketimpangan, kecurangan atau segala hal yang melanggar aturan yang telah ditetapkan, atau norma dan etika yang ada di masyarakat. Aktivis itu perlu di dalam setiap rezim, juga oposisi. Aktivis diperlukan sebagai penyeimbang dan pemberi peringatan jika rezim yang berkuasa atau pihak oposisi melakukan tindakan yang salah atau melanggar aturan yang ada. Aktivis tak berpihak pada penguasa dan juga tidak berpihak pada oposan. Oposisi diperlukan, juga agar rezim berkuasa bertindak kebablasan karena tidak ada pihak lain yang mengawasi dan memperhatikan. Oposisi ada bukan sekedar untuk menampung syahwat politik untuk mengganti kekuasaan yang sedang dinikmati oleh kubu lawan. Oposisi ada sebagai penampung dan penyeru pada hal-hal yang bisa merugikan rakyat atau bisa melemahkan negara. Siapapun rezim yang sedang berkuasa, oposisi tetap harus ada sebagai penyeimbang.

Aktivis sejati tidak akan pernah tergiur oleh kursi kekuasaan. Ia akan terus berteriak-teriak jika ada ketidakberesan. Ia tak akan mau dilemahkan dan ditundukkan oleh kenyamanan dan uang yang ditawarkan. Jika Ia berteriak teriak di jalan karena lapar, kemudian masuk arena kekuasaan dan duduk manis di kursi belakang meja dengan beraneka macam menu, gugurlah sebutan aktivis, dan sebutan aktivis yang pernah disandangnya berubah menjadi nama menjadi topeng. Bertopeng aktivis dalam berebut kekuasaan. Dalam perebutan kekuasaan, yang menang akan disebut pahlawan oleh penguasa, dan yang kalah akan disebut pemberontak atau disebut melakukan tindakan makar yang perlu disingkirkan.

Saya mengangankan, ada aktivis yang kritis, obyektif, cerdas dan tidak tergiur oleh uang dan kursi kekuasaan, terus menerus ada di setiap generasi. Realitas kehidupan membuat para aktivis lebih suka memilih uang, kenyamanan dan kekuasaan ketika sadar bahwa hidup berkeluarga beranak pinak memerlukan uang yang banyak dan cukup untuk biaya gaya hidup. Sangat jarang aktivis yang bertahan terus menerus tetap menjadi aktivis dengan segala idealismenya sampai akhir hayatnya. Karena aktivis yang vokal di setiap rezim akan dipinggirkan, disisihkan dan tak nyaman. Idealis versus realistis dalam jiwa aktivis akan terus berkecamuk sampai kemudian menyerah untuk menghidupi keluarga yang dibangun.  
21:29 21022019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar