Rabu, 11 November 2020

IBU PENARI DI PANGGUNG ITU?

             Warna-warni sorot lampu yang di pasang di banyak tempat membuat panggung menjadi megah gemerlapan, terus berpendar-pendar, berputar-putar, bergantian menyorot. Panggung itu tentu di desain agar mampu menampung banyak orang yang berjingkrak-jingkrak di atasnya. Dan suara yang keluar dari perangkat sound system, pasti tak pernah peduli berapa angka desibel maksimal yang aman bagi gendang telinga. Di sini area kegembiraan, berpusat di panggung. Yang nggak setuju, minggir menjauh tak perlu menghimbau, tak perlu khawatir tentang moral dsb. Musik, lampu, asap, alkohol, teriakan-teriakan dan gerakan-gerakan menari menjadi satu, membubung ke langit. Entah langit menerima atau tidak.

Musik di situ sangat dinamis, dari pop, dangdut, rock, koplo, etnik, country, music yang tak mengiringi suara menyanyi, musik di situ mengiringi orang-orang berjoget meliuk-liukan tubuh, bersahutan dengan vokal senggakan menuntun gerak pinggul, gerak leher, gerak tangan, gerak kaki, gerak hati, mengarah pada satu titik; menciptakan bahagia bersama-sama. Dan lihatlah, bagaimana wanita-wanita cantik itu bergantian menari menggumbar tubuh memancing birahi lelaki. Semakin berani, semakin riuh penikmat dan semakin bersemangat ia menari (apa yang itu disebut menari), dan uang sawer terus berpindah tangan. Kemudian, lewat youtube melalanglah kegembiraan lokal ke dunia tanpa batas, tersimpan di langit maya yang siap ditonton kapan pun.

“Pernah nggak kamu merasa malu melihat video kita?”

Berbincang dua orang kawan.

“Memang kenapa? Kita butuh uang. Kita butuh ketenaran. Ketenaran akan mendatangkan banyak uang. Lagi pula itu kan seni. Mungkin ada banyak orang yang tak memahami seni kita. Kita tak bisa memaksakan orang untuk memahaminya.”

“Kau yakin ini murni seni? Kau merasa bisa melakukan ini agak lama?”

“Itu urusan nanti. Yang penting sekarang kita happy, bersenang-senang. Nyatanya banyak orang yang ikut bergembira dengan kita, dan saya dapat uang.”

“Kau menikmatinya sepanjang pertunjukan? Setelah kau turun panggung, setelah di rumah?”

“Ini duniaku sekarang. Aku tak bisa menikmati dunia nanti yang belum aku alami. Kau sudah mulai jenuh?”

“Saya kadang berpikir, normalkah duniaku? Pernah kau berpikir seperti itu?”

“Pernah. Tapi segera saya buang jauh-jauh. Saya, kamu, punya tubuh yang bagus, dengan ini kita bisa membuat orang di bawah panggung menjadi tergila-gila. Kita dapat uang dari pertunjukkan ini. Dari memyanyi, dari menari, dari berjoget, dari bergoyang, kita dapat uang. Uang. Dengan uang yang banyak saya bisa beli yang saya mau.”

Hingar bingar musik menenggelamkan suara mereka. Meliuk-liuk kembali di atas panggung, berteriak-teriak seperti bernyanyi, kadang juga bernyanyi agak benar. Jika lagu itu bukan lagu terkenal, tak ada orang yang tahu.

Berganti hari, berganti panggung, berganti teriakan. Keringat yang melumuri tubuh, mengkilap, menebarkan bau. Penonton menikmatinya. “Aku penguasa di duniaku ini....!” Alam merekam dan menyimpannya begitu saja di langit dengan kata kunci yang mudah untuk di akses.

Pulang ke rumah menjelang pagi. Kabut telah tebal dan berdiam di dedauanan yang menggigil. Membuka pintu dengan kunci yang disimpan di dalam tas berbaur dengan bedak, lipstik, minyak wangi dan charger HP. Sang ibu bangun, berjalan terhuyung menahan kantuk, menyambutnya. “Kamu baru pulang nak. Ibu tak bisa tidur menunggumu pulang.”

“Iya Bu. Ibu tidur saja, saya juga mau tidur.”

“Mau ibu bikinkan teh hangat?”

“Nggak usah Bu, sudah minum tadi. Hanya pengin tidur saja.”

“Kenapa kamu sering pulang pagi?”

Sang Ibu mengikutinya ke kamar. Membiarkan anak perempunnya menata tidur. Sebelum beranjak pergi, Ia sempatkan membetulkan selimut yang tak sempurna menutupi. “Kamu nggak capai nak?” Si anak hanya diam, tangan kanannya menarik ujung selimut menutupi seluruh muka.

Setengah dua belas siang, Maira baru bangun. Tak langsung pergi mandi, Ia sempatkan membuka HP, memincingkan mata, membacanya sebentar dan menaruhnya agak seperti di banting di kasur. Di meja makan, ibunya sudah menyiapkan nasi dan sayur bening kesukaanya.

Selesai makan, sang Ibu mendekat, “Kamu sudah berumur, Maira. Kapan kamu nikah?”

“Maaf Ibu, jangan tanya itu lagi. Saya mohon Bu..”

“Tapi, umur kamu?”

“Apa ada orang baik-baik yang mau nikahi saya bu? Apa ibu mau punya menantu bukan orang baik-baik?”

“Kamu kan anak baik, jika kamu baik pasti dapat suami yang baik.”

Maira terdiam. Di reguknya teh hangat sampai setengah gelas. “Ayah orang baik-baik bukan Bu?” pertanyaan itu meluncur mengagetkan sendiri. Ia tahu, Ibu akan tidak suka dengan pertanyaan itu tetapi kadang muncul tak terkendali. Akan muncul wajah sedih dengan tatapan mata kosong sampai lama. Ia buru-buru meralat, “Maaf bu, Maira lupa itu. Maaf.”

Sang Ibu memandangi garis-garis ubin yang tak sebatas berujung di batas tembok. Garis-garis yang menjadi benang penghubung waktu yang ingin sekali di buang jauh-jauh agar tak lagi terbaca.

“Ibu harus menjawab pertanyaanmu, agar kau tak lagi bertanya. Ayahmu orang yang baik, tapi sayang, kamu tak sempat merasakan kebaikan yang tulus darinya. Ia keburu pergi sebelum pagi benar-benar terang.”

“Kenapa Bu?”

“Ibu juga tidak tahu. Ibu tak pernah berkesempatan mengetahuinya.”

“Boleh saya melihat wajah ayah Bu? Barang kali Ibu punya fotonya. Atau kalau tidak, Ibu bisa bandingkan dengan orang yang sosoknya sama di sekitar kita.”

Sang Ibu terdiam. Batuk kecil disengaja untuk membuang perhatian. Tatap mata Maira tetap menunggu jawaban yang memaksanya menjawab, “Saya tak ingin mengingatnya lagi nak.”

“Apa ayah punya saudara kandung Bu?”

“Ia seorang pengembara yang tak ingin terikat apapun. Ibu tak tahu apakah ia punya saudara kandung atau tidak.” Kebingungan melanda, sang Ibu ingin sekali menyudahi percakapan yang tak tahu jawaban terbaik agar tak kontradiktif jika ditanya lagi. Sosok ayah bagi anaknya, tak pernah yakin. Tak hanya satu dua orang yang menebar benih seingatnya jika ditarik waktu sembilan bulan sebelum kelahiaran Maira. Semua kemudian pergi menjauhi meja bekas pesta yang masih berantakan si tengah ruang luas dengan tembok bergambar warna-warni. Tak ada yang peduli ketika kesusahan mendera setelah itu. Mereka pindah ke meja lain untuk berpesta, membicarakan yang lain. Dan, tangis penyesalan hanya jadi pemberat untuk terus bertahan. “Ibu sendirian merawat dan membesarkanmu nak, dari sejak masih di kandungan.”

“Ibu nggak punya keluarga?”

“Punya. Tapi Ibu malu untuk pulang.”

“Kenapa Bu?”

“Ibu merasa malu, malu.” Sang Ibu terisak. Pundaknya berguncang-guncang, sebentar terhenti. Maira menghentikan pertanyaannya, mengambil handuk sambil melangkah ke kamar mandi. Mungkin untuk mandi atau mungkin juga untuk melepas tangis di tengah suara gerojokan kran yang sengaja di buka tak sempurna. Rumah dengan dua kamar tidur itu menjadi terpenuhi suara air melepas dari kran. Di luar, hujan yang turun tiba-tiba bersama angin yang menderu, ikut menjadi musik pengiring kecapaian hati.

Kehidupan yang sekarang dibencinya, kini muncul seperti pada layar bioskop di depannya dengan musik yang volumenya turun naik bergelombang, membimbing gelora gejolak penyesalan yang terus menerus datang bergulung-gulung. Ribuan panggung tempatnya beraksi memamerkan tubuh berbalut kain mini, muncul teratur per-slide seperti tayangan presentasi sebuah produk pada calon konsumen yang terus mengerumininya. Ia kadang menjadi seperti gila. Menelan obat tidur menjadi pilihan untuk melepas tontonan yang tak mau hilang. ‘Kenapa aku tak bisa melepaskan anakku dari dunia itu yang ingin aku hapus sekarang.’ Ia ingin menghapusnya, tapi anak satu-satunya telah melarut di dalamnya. Uang dan kegembiraan telah membiusnya, ‘seperti aku dulu.’

Di luar, hujan sedikit reda setelah lebih dari satu jam sibuk mengguyur bumi dibantu tenaga angin menanggalkan daun-daun rapuh pada tangkai yang tak sanggup lagi mempertahankan. Di ruang tengah Maira mendatangi Ibunya yang sedang membersihkan bunga plastik warna merah.

“Kemarin malam, seseorang mendatangai saya, seumuran Ibu. Ia memanggil saya ‘nak’. Awalnya saya cuekin, tapi setelah tiga kali memanggil, saya merasa suara panggilannya bukan sekedar ‘nak’. Seperti panggilan seseorang ayah pada ananknya. Aku merasa seperti itu, Bu.”

“Kau harus hati-hati pada laki-laki yang bersikap baik tak wajar.”

“Dia sepertinya tulus Bu, saya dapat merasakan dari suara dan sorot matanya. Orangnya sedang, tak terlalu tinggi tak terlalu rendah. Kumisnya rapi, jenggotnya dicukur habis. Tidak tampan, tapi tak juga jelek. Setiap geraknya tenang, seperti tak buru-buru, meyakinkan. Ibu kenal dia?”

“Sepertinya tidak, atau mungkin Ibu sudah lupa.” Meski banyak lelaki yang dulu sering bersamanya, sebenarnya Ia bisa menduga, tapi Ia memilih untuk membahasnya.

“Ia minta nomer HP saya, saya tak ngasih, tapi ia bisa dapat nomerku, mungkin dari temanku. Ia hanya tanya kabar dan titip salam buat Ibu. Ini foto DP-nya bu.” Maira menyorongkan layar HP ke de depan ibunya, sang Ibu melihat dengan biasa-biasa saja karena sudah menduga. Seorang yang dekat, tapi sakit hati karena tak bisa memiliki seutuhnya.

“Sepertinya Ibu nggak kenal, mungkin karena sudah lama dan wajahnya berubah.”

“Ia ingin datang ke rumah bu. Saya nggak ngasih alamat. Jika ia sampai ke sini, mungkin karena membuntutiku. Tadi ia mengirim ini.” Maira menggeser layar HP-nya dengan jempol. “Ini foto Ibu kan? Foto Ibu dulu? Tatto-nya sama dengan tatto ibu di pangkal paha.”

Sang Ibu kaget, badannya tegang, nafasnya terhenti, bola matanya berhenti bergerak dan bertatap kosong. Tatto naga kecil dengan ujung buntutnya mawar merah yang selama ini sangat disembunyikan, ternyata telah di ketahui.

“Ia juga mengirimi ini, Bu.” Maira mebuka video pertunjukan musik hingar bingar di panggung. “Yang bernyanyi teriak-teriak sambil terus joget, Ibu kan?” Maira melanjutkan menononton video meski ibunya tak suka. “Ternyata goyangan saya, masih kalah sama ibu.”

“Ibu mohon, buang itu semua Maira. Ibu mohon.” Suaranya berat dan serak. Ia tak menangis karena sudah tak bisa menangis. “Dan kamu, berhentilah..! Jangan seperti Ibu. Berhentilah nak.”

“Kita masih perlu uang, Bu. Bulan depan kita harus bayar kontrakan rumah.”

“Berhentilah nak, berhenti.”

“Maaf Bu, Maira harus berangkat. Sebentar lagi ada yang njemput.” Maira bergegas masuk ke kamar mengambil segala perlengkapan yang sudah di siapkan di tas.

“Sudahlah nak, kamu nggak usah berangkat.”

Maira berhenti sejenak di hadapan ibunya, menarik tangan menyalami sang Ibu dengan memaksa. “Maira pamit Bu.”

Sang Ibu memandanginya, tak mengantar sampai pintu. Di luar gerimis basah.

 

23:45.08.05.2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar