Senin, 10 April 2017

SESAT



Sesat bisa diartikan tidak melalui jalan yang benar, salah jalan, atau menyimpang dari kebenaran. Secara harfiah orang yang sesat bisa diartikan orang yang tidak sesuai jalan yang benar atau orang yang salah jalan. Jika sesat karena salah menuju pada suatu tempat atau tepatnya tersesat, bisa jadi orang yang tersesat itu samasekali tidak sengaja dan karena tidak tahu. Dalam hal ini mustahil seseorang yang akan menuju suatu tempat yang ia tahu tempatnya, sengaja lalai agar tersesat. Jika seseorang itu sengaja tersesat, Ia bukan lagi bisa disebut tersesat atau sesat. Mungkin saja Ia sengaja menghindari sesuatu di tempat yang di tuju atau punya tujuan lain, dan itu pun jika Ia mengantarkan seseorang atau barang. Menjadi tidak mungkin seseorang sengaja tersesat ketika menuju ke suatu tempat, karena jika sengaja tersesat, Ia tidak perlu atau tidak akan berangkat.

Akan lain rasa pembahasannya jika sesat dalam ranah kepercayaan, keyakinan atau agama. Sebuah kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan tata cara yang telah ditentukan dan diyakini oleh pemeluk agama tertentu, akan disebut sesat oleh kelompok yang merasa keyakinan dan cara yang dilakukannnya benar. Yang merasa benar tentu dengan segala argumen dan dalil-dalil yang telah ada dalam kitab agamanya. Dan mungkin saja lupa, kalau yang dianggap sesat itu, para pelakunya merasa bahwa cara yang dilakukannyalah yang benar. Karena jika tak merasa benar, mereka tak akan melakukannya. Seperti orang yang berangkat menuju pada suatu tempat dan tahu tempatnya, ia pasti tak akan sengaja tersesat atau menyesatkan diri.

Karena beda dan berlainanlah, orang atau sekelompok orang yang sepaham, mengatakan atau menyebutnya sebagai sesat. Ya, karena tak sepaham, karena tak sama dengan apa yang dilakukan oleh orang atau sekelompok orang.

Jika saja seseorang atau seorang yang dianggap sesat oleh sekelompok orang itu tidak merugikan dan tidak membuat kerusakan, sebenarnya bukan sesuatu yang perlu dirisaukan, apalagi sampai harus dibubarkan paksa dengan kekerasan. Apa yang mereka lakukan dalam kelompoknya, yang dikatakan sesat oleh kelompok lain, bagi mereka adalah hal yang terbaik dan hal diyakini kebenarannya. Karena kebenaran dalam kepercayaan, keyakinan dan agama itu subyektif. Salah atau kesalahan, sesat atau kesesatan atau menyesatkan, bagi kelompok satu belum tentu sama persepsinya bagi kelompok kepercayaan lainnya.

Agama itu sesuatu keyakinan dan kepercayaan pada sesuatu aturan tertentu dan keyakinan akan berbagai sebab akibat yang timbul jika berbuat sesuatu atau tidak berbuat. Keyakinan itu turun temurun dengan di pagari oleh kitab suci. Kitab suci sebagai pegangan dan kumpulan tata aturan dan tak boleh dibantah. Dalam penafsiran kitab suci dan tindak tanduk yang dilakukan pleh nabinya (dalam Islam ditulis dalam hadits), terjadi perbedaan pendapat yang memunculkan cara berbeda dari kelompok satu dengan kelompok lainnya. 

Ada sebuah perbedaan yang masing-masing kelompok masih bisa menolerirnya dan ‘membiarkan’ berjalan beriringan, tapi ada perbedaan yang menurut kelompok lain perlu diambil tindakan agar tidak terus berkembang karena dianggap mengotori/menodai dan menyimpang dari yang seharusnya (menurut kelompok yang tidak sepaham). 

Jika yang dianggap sesat oleh kelompok lain tetap bertahan karena mereka yakin akan apa yang dilakukan adalah benar (menurut mereka) dan tidak menganggu, tidak merusak, tidak merugikan, apakah harus dibubarkan karena tidak sesuai dengan kelompok lain yang lebih besar dan telah memvonis sesat pada kelompok tertentu. Kebenaran macam apa yang benar-benar ‘BENAR’, karena kita tidak pernah tahu berbagai ‘BENAR’ yang mendaptakan pahala dan ganjaran sorga yang diidamkan setelah kita mati. Ketidaktahuan yang disebabkan oleh keterbatasan kemampuan manusia itulah yang menjadikan banyak berbeda keyakinan dalam menjemput dan berjalan pada jalan yang ‘BENAR’. 

Benarnya satu kelompok belum tentu benar menurut kelompok lain dan bisa saja dianggap benar yang kurang sempurna oleh kelompok. Dan beruntun kelompok lainnya, lainnya lagi dan terus.
Benar dan ‘BENAR’ menjadi berbeda karena latar belakang sosial, kelompok berteman, keturunan, pengalaman hidup dsb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar