Kamis, 27 April 2017

KOMPETISI, KEKUASAAN



Orang yang ikut turun gelanggang dalam sebuah kompetisi, siap nggaksiap tentu harus menerima konsekuensi sebuah kekalahan. Jika di awal mula sebuah kompetisi dengan tenang, tegar, tegas dan tanpa ragu menyatakan siap lahir batin untuk menerima sebuah kekalahan jika harus kalah, tetapi di kemudian hari ketika kompetisi berakhir dan ternyata kalah, kesiapan hati dan pikiran untuk menerima kekalahan dengan legowo menjadi berubah tidak legowo, tentu banyak faktor yang mempengaruhi. 

Berbagai strategi dan alternatif kemungkinan yang ditempuh dengan segala pertimbangan untuk memenangkan kompetisi yang menguras pikiran, kesabaran, kejelian dan biaya dengan satu goal kemenangan, menjadikan fokus pikiran dalam sepanjang kompetisi melupakan bagaimana menata hati dan pikiran untuk menerima kepahitan sebuah kekalahan. Sedikit orang yang menerima sebuah kekalahan dengan legowo dan benar-benar mengakui keunggulan lawan. Seringkali orang (perorangan atau kelompok) yang kalah dalam kompetisi menudh lawan yang mengalahkan bermain curang, tidak sportif, licik dan jahat. Lupa jika dalam kekalahannya pun mereka berbuat curang, tidak sportif, licik dan jahat. Ia mencari pembenaran diri jika seandainya tidak dicurangi, dirinya akan memeangkan kompetisi. Menghibur diri dengan meyakinkan hati jika ‘sebenarnya’ dirinyalah yang layak menang jika tak dicurangi. 

Ada yang menghibur diri hanya dengan mengolok-olok dalam hati  dan berkabar pada setiap orang atau media, ada yang menghibur diri dengan mencari kecurangan lawan untuk menjatuhkan dengan cara apa saja atau dengan cara curang. Ia lupa tentang tuduhan cara curang lawannya dengan melakukan kecurangan dan mebenarkan apa yang dilakukannya. 

Sebuah kemenangan memang sebuah nikmat yang dirindukan setiap orang yang terlibat dalam kompetisi. Dalam menikmati sebuah kemenangan, mereka terlupa akan cara memeperoleh kememangan. Melupakan segala cara yang melanggar aturan, kecurangan atau kelicikan yang secara sadar tau tidak sadar telah dilakukan. Kecenderungan orang yang lupa akan perbuatan curangnya sendiri dan sangat tidak lupa akan kecurangan atau apa yang dianggap curang yang dilakukan lawan, menjadikan Ia berusaha untuk mengalahkan lawannya dalam bentuk lain, jika mungkin sudah di luar garis batas kompetisi awal pun. Dalam kekalahan itu, Ia akan berusaha menikmati kemenangan dalam bentuk lain. Mungkin melihat atau mendengar lawannya terkena masalah dan musibah pun, ia anggap sebuah balasan atas kecurangannya mengalahkan. Dan di sini ia menikmatinya, mirip dengan menikmati sebuah kemenangan.

Dalam sebuah kompetisi Pilkada, seperti PilGub DKI yang menjadi berita besar sepanjang tahun 2016 dan tiga setengah bulan tahun 2017, sebuah kemenangan dan kekalahan menjadi hasil yang harus dikawal untuk tidak menjadi kericuhan dalam roda pemerintahan lima tahun ke depan atau pengaruhnya yang ke tingkat nasional. Kelompok-kelompok orang  yang ikut terlibat dalam dukung mendukung cagub/cawagup yang berlatar politik dan dalam proses berkompetisi telah mengeluarkan janji-janji politik dan atau kata-kata retoris untuk mendapat simpati para pemilih dan langkah-langkah yang ditempuh dengan memperhitungkan segala aspek yang mungkin akan terjadi jika menang atau kalah. 

Biaya, tenaga dan pikiran sudah tentu terkorbankan. Bagi yang menang, bisa menikmatinya dan terlupa segala biaya, tenaga  dan pikiran yang telah tergerus selama proses kompetisi. Bagi yang kalah, menjadi hal yang menyakitkan. Dan bila kemudian mencari kesalahan pemenang dengan berusaha untuk merobohkannya, itu sebuah cara untuk memulai kompetisi baru lagi dalam bentuk lain dan sambil terus berharap dan berkhayal tentang sebuah kemenangan di kompetisi lain.
Dalam kompetisi PilGub DKI, berbagai kepentingan yang berkaitan dengan kekuasaan dalam wilayah DKI dan sekitarnya serta nasional, tarik menarik dan terus berbenturan. Jika pihak yang kalah ingin menghibur diri dengan memperkarakan hal-hal sepele atau yang dianggap kecurangan yang mereka juga lakukan, akan menjadi sebuah kompetisi baru dalam hal yang berbeda,maka akan ada ruang kompetisi baru di sisi lapangan. Atau bisa jadi menghiburkan-dirinya, sebagai cara lain melupakan kesakitan menerima kekalahan dan sambil berkhayal tentang sebuah kemenangan dalam kompetisi baru yang lahannya baru dibuka.

Kompetisi berebut kekuasaan akan sangat berkaitan dengan melibatkan banyak macam aspek kehidupan. Berbagai kepentingan saling berebut kemenangan untuk selanjutnya memanfaatkan segala moment yang terjadi dalam proses kompetisi dan setelahnya baik di pihak  yang menang atau dari pihak yang kalah. Bagi yang menang tentu akan memanfaatkan semaksimal mungkin kekuasaannya sambil terus berusaha melanggengkan kekuasaannya selama mungkin. Dan kompetisi ini banyak sekali menghabiskan energi sekaligus banyak sekali mendaptkan manfaatkan yang menguntungkan bagi pemenang. Bagi yang kalah, jika tak serta merta mundur dari kompetisi, akan membangun kekuatan baru untuk ikut lagi dalam lapangan kompetisi. 

Kompetisi yang sportif tentu enak dilihat dan diikuti, tapi sebuah kemenangan lebih menjanjikan untuk dinikmati dan memanfaatkannya. Sebuah kemenangan dalam perebutan kekuasaan yang dengan sendirinya masuk pada lapangan politik, pasti ada keberlanjutan dalam perebutan kekuasaan untuk ke depannya. Akan banyak cara dan intrik-intrik yang dilkukan untuk mempertahankan kekuasaan bagi yag menang dan merebut terus menerus kekuasaan di tangan pihak lain bagi yang kalah.

Karena kemenangan itu nikmat dan kekuasaan itu mengasyikan, menjadi hal yang sangat enak untuk dinikmati secara bersama-sama dalam nuansa penuh pesona, juga menikmati proses berebut dan mempertahankan kekuasaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar