CARI DI BLOG INI

Rabu, 19 September 2018

ULAR-ULAR MEMATUK MATA


Cerpen.
Oleh: soleh djayim


Tak ada sedikit pun tempat yang aman baginya untuk menyembunyikan badannya dari segala ancaman yang selalu mengintai. Makanya Ia tak lagi merasa perlu berusaha untuk sembunyi. Menghadapi segala ancaman adalah satu-satunya keputusan. Ia selalu mecipta cita rasa seni di setiap bahaya yang siap menelannya.
Satu pertanyaan yang selalu menggantung di benaknya; aku harus bagaimana? Sedangkan jawaban begitu banyak tersedia yang selalu diikuti resiko. Ia tak pernah mengerti kenapa perjalanan hidupnya datang di tempat yang selalu ada ancaman. Ia merasa tak punya hak untuk menguasai ‘hidup’, tetapi Ia merasa tak menjalankan kewajiban jika pasrah dan menyerah kalah dari setiap ancaman yang bisa membuatnya mati. Bertahan hidup dan menjalaninya adalah ibadah dan ujud rasa tanggungjawab.
“Kau akan kalah, menderita dan tak akan merasakan nikmatnya perjuangan hidup. Kau akan meratapinya dan menyesal. Aku akan menyaksikan itu. Kau akan menyesal tidak seperti aku!”
“Tidak! Aku tak akan pernah hidup yang hanya sekali menjadi orang selemah kamu. Silau!”
“Ingat dan dengar Galaid, kau akan meratapi setiap langkah yang kau tinggalkan tanpa berbuat seperti aku.”
“Hidup dalam pengabdian busuk semacam kamu adalah telah menjadi bangkai busuk sebelum mati!”
* * *
Hanya ingin sekedar tahu awalnya, tak lebih dari itu, apalagi untuk mengambil keuntungan besar. Ia selalu punya rasa ingin mengetahui sesuatu yang disembunyikan. Semakin rapat sesuatu itu disembunyikan Ia akan makin tinggi rasa ingi tahunya. Jadilah Ia pengoleksi berita-berita besar. Semua berita; skandal perselingkuhan pejabat, korupsi, pemalsuan data, mark up proyek, perseteruan tak sehat para konglomerat, persetujuan gelap para kontraktor dan pejabat.
Semua berita itu Ia dapat dari koran dan majalah atau tabloit yang Ia jajakan setiap pagi dan sore dan juga berbagai sumber yang tak banyak orang tahu. Meski kadang hanya sekilas Ia akan mengulanginya dan lebih mencermati jika ada sedikit waktu luang. Lebih sering Ia hanya sebatas sekilas baca.
Naluri memahami berita besar yang disembunyikan para pelakunya semakin terasah tanpa disadari. Bahkan Galaid hanya cukup memandang sorot mata dari sang pelaku atau orang yang bersangkut paut. Ia sanggup membaca apa yang akan dan telah dilakukan orang-orang kotor berbaju rapi dan berpenampilan klimis. Orang-orang yang sering Ia lihat di lampu merah tempat Ia menjajakan koran.
Jika saja Ia seorang pengamat ekonomi atau politik, pasti Ia laris manis diwawancarai di semua industri berita. Ia pasti kerepotan melayani permintaan tulisan dari ribuan penerbit surat kabar. Sayang, Galaid tak pandai merangkai kata untuk dijadikan tulisan atau merangkai ucapan mengungkapkan semua yang diketahuinya. Ia hanya sekedar bisa bicara seperti bicaranya orang-orang di terminal menunggu bis datang atau di pos ronda mengisi waktu membuang kantuk mengomentari peristiwa politik dan ekonomi. Melompat-lompat, hinggap sana sini mengikuti arus kata yang meluncur tanpa pagar.
Keunggulan Galaid pada pengungkapan yang sering mengejutkan pendengarnya. Pengungkapan yang tidak hanya sekedar menuturkan dari mulut ke mulut atau mengadopsi pendapat orang lain. Tak jarang komentar Galaid terabaikan karena dianggap sok tahu dan apriori. Apalagi tak ada tampang yang meyakinkan untuk meyakinkan kata-katanya. Seorang penjual koran paling hanya menuturkan apa yang dibacanya di koran sebelum dijajakan. Dan Galaid merasa tak perlu orang lain yakin kalau itu pendapat dan praduga yang orisinil dari dirinya.
* * *
Hidup Galaid terancam. Meski Ia yakin kematian tak bisa ditolak kedatangannya di manapun, Ia merasa bertanggung jawab terhadap perekonomian keluarganya untuk membantu kedua orang tuanya yang kuli pabrik yang kerepotan membiayai sekolah ketiga adiknya. Ia selalu melawan jika ada orang yang mengancam keselamatannya. Ia pernah pasrah dan menuruti segala apa yang diinginkan dari orang yang menyeretnya ke dalam mobil dan membawanya ke tempat yang asing baginya.
“Berapapun uang yang kau minta akan kami berikan asalkan kamu bisa menutup mulutmu,” tawar salah seorang berkaca mata hitam dari tiga orang kekar yang menculiknya.
“Maaf, saya memang orang susah. Tapi kami pantang memakai uang yang tak jelas asal-usulnya.”
“Asalnya dari kami!”
“Maaf, tak diberi uang pun saya akan diam seperti yang kalian kehendaki. Kalau saya terus diam bagaimana saya menjajakan koran Oom?”
“Goblok!! Bukan diam asal diam! Kau tutup mulut, diam tak berbicara segala sesuatu yang berhubungan politik, jabatan, ekonomi, semuanya!”
“Saya tak tahu apa-apa tentang semua itu Oom. Yang saya tahu, bagaimana saya harus menjual koran sampai habis.”
“Oke, sekarang semua koran kamu saya beli semuanya. Semuanya setiap hari. Asal kamu tutup mulut.”
“Memang saya sering berkata apa Oom? Yang Oom tak suka! Dan untuk apa Oom memborong semua koran saya? Apa itu cara Oom menutup mulut saya? Maaf Oom kalau untuk itu.”
“Atau kau memilih mati!?”
“Bunuhlah saya Oom. Maka apa yang Oom takutkan akan tersebar luas, cepat secepat sinar matahari pagi. Banyak, bahkan lebih banyak dari yang Oom duga."  
Kata-kata itulah yang selalu menyelamatkan jiwanya. Beratus kali dan selalu berganti orang, Ia diseret ke dalam mobil dibawa ke tempat asing di paksa untuk tutup mulut. Galaid sendiri tak mengerti apa yang harus ia tak bicara. Ia merasa hanya berkata-kata menjajakan koran dan tak ada yang lain jika di jalan atau terminal. “Apa aku sering berkata-kata yang aku tak menyadarinya?” pikir Galaid. Maka Galaid berkeputusan menutup mulutnya dengan lakban saat berjualan koran.
Cara itu tak juga membuatnya selamat dari orang-orang yang menyeretnya ke dalam mobil membawanya pergi dan membuang waktu kesempatan berjualan koran.
“Aku tak suka tangan kamu nunjuk-nunjuk muka ke Bos-ku jika beliau lewat.”
Galaid diam. Ia merasa tak pernah nunjuk muka sekali pun pada seseorang. Dan menjawabnya adalah mustahil akan dipercaya. “Apa saya harus menjajakan koran dengan tangan terikat Oom?”
Galaid pun menjual koran dengan mengikat kedua tangannya. Korannya Ia letakan diatas meja di pinggir terminal. Dengan cara itu pun tak membuat korannya tak terjual. Semua langganannya telah hafal dan tahu apa yang sedang dihadapi Galaid. Ia berharap tak ada lagi orang yang menyeretnya ke dalam mobil dan membawanya pergi jauh.
Dengan begitu pun Galaid masih terus diseret paksa.
“Saya tak suka mata kamu memandang. Membikin ganjalan di hati Bos-Bos kami. Dan kau tahu, semua mata yang memandang matamu, semua bisa membaca semua yang kau baca lewat sorot matamu. Layaknya membaca berita di lembaran-lembaran koran. Kau telanjangi Bos-Bos kami dengan sorot matamu!”
“Saya tak pernah punya niat untuk memberi tahu mereka. Saya juga tak pernah mengajari mereka untuk bisa membaca sorot mata saya. Saya malah baru tahu sekarang. Sungguh!”
“Alaaah… Banyak alasan kamu! Ikut aku. Cepat.”
Sebelum Galaid sempat berontak ketiga orang berbadan tegap itu menyeret tubuh Galaid yang mungil dibungkus kaos oblong bertuliskan kata-kata plesetan ala Jogja. 
Galaid dimasukan ke sebuah bis dengan fasilitas lengkap dan mewah. Belum pernah Galaid melihat Bis semewah ini. Semua serba ada, serba mengkilap, luas, serba otomatis dan penuh dengan pelayan yang selalu bertindak hormat. Sebuah istana mini yang berjalan di antara jejalan mobil dan motor yang berebut lewat.
Di dinding bis berderet orang-orang berdasi duduk di kursi putar yang empuk menghadapi meja penuh dengan sajian makanan dan aneka buah-buah segar.
Galaid diam tegap meredam getar yang begitu mengguncang hati. Seorang berdasi berpakaian jas rapi menjulurkan lidahnya mencipratkan ludah warna merah darah. Galaid mengusap mata tak percaya. Sekejap mata dibuka, semua orang di depannya menjulurkan lidahnya yang  terbelah dua, memperlihatkan taring dengan lubang bisa di ujungnya. Semua bersorot mata tajam, setajam ujung jarum. Galaid tak mampu menatapnya. Ia menutup matanya dengan dua telapak tangannya rapat-rapat. Badannya menggigil menahan ngeri.
Ketika telapak tangannya dibuka untuk meyakinkan penglihatannya, Galaid lebih kaget lagi; tak ada lagi orang-orang dengan mata tajam menjulurkan lidah-lidah yang terbelah dengan ujung-ujungnya yang lancip seperti lidah ular.
 Di dalam bis, di depan Galaid telah penuh dengan ular yang siap terbang menerjang Galaid. Galaid terbelalak. Tak mau kehilangan kesempatan keburu mata Galaid mengerejap, seratus ular terbang mematuk bola mata Galaid. Galaid terdorong ke belakang bersama kursi yang Ia duduki. Darah mengucur dari matanya. Tapi Galaid tak sampai mati. Ular-ular itu segera menolongnya dan merawat lukanya. Karena Galaid tak boleh mati, karena jika Ia mati, seluruh alam akan mengabarkan siapa yang membunuhnya. Dan seluruh tempat yang pernah disinggahi Galaid akan muncul tulisan semua yang Galaid tahu. ****         
                                                                                    Juni 2004.  





           



Tidak ada komentar:

Posting Komentar