Sabtu, 22 September 2018

BENCANA


Cerpen.
BENCANA
Oleh: soleh djayim

Ini bencana besar kedua yang aku alami. Jam dinding di tembok kamar rumah kontrakanku yang sedang menunjuk pukul enam kurang empat menit tiba-tiba bergoyang kemudian terpental jatuh. 27 Mei 2006 Bumi bergoyang. Gempa! Suara gemuruh megiringi terdengar begitu panjang dan berat. Aku seret istriku keluar rumah. Kami berlari terhuyung dan hampir terjerembab. Dua detik setelah kami keluar lebih dari separoh genteng jatuh, dinding batu bata yang belum disemen runtuh dan posisi rumah miring ke kanan. Meski barang-barang di dalam rumah terancam terkubur reruntuhan gedung, kami tak berani masuk untuk menyelamatkannya. Gempa bisa saja datang lagi atau tiba-tiba rumah runtuh terjerembab ke tanah.
Bencana besar pertama yang kualami ketika gempa Nias. Dalam perjalanan misi dakwah, ketika kami belum sampai ke tujuan semula ke pulau Sinabang karena kapal penyeberangan yang akan kami tumpangi kehabisan bahan bakar. Sebuah perjalanan terpanjang yang baru aku alami. Dari Jogja ke pelabuhan Merak manghabiskan waktu semalam. Dilanjutkan perjalanan laut selama dua hari tiga malam. Kami tiba  di Pelabuhan Belawan jam dua siang. Perjalanan dilanjutkan ke Singkil. Menjelang subuh kami sudah sampai. Di sebuah Masjid berjarak limaratus meter dari laut, kami bermalam. Jam sebelas malam di malam kedua, ketika kami sedang tidur lelap, terjadi guncangan hebat. Gempa. Dan segala trauma Tsunami Aceh datang begitu cepat membangkitkan segala potensi rasa takut. Gempa itulah yang membuat kami batal ke pulau Sinabang dan tiket yang telah kami beli pun tak terpakai.
Kami segera berlari keluar masjid dan berusaha naik ke atas genteng. Tak begitu menemui kesulitan karena di teras belakang ada tangga. Jika gempa merobohkan Masjid tentu kami akan berada di antara reruntuhannya. Tapi, Alloh berkehendak lain. Masjid tetap berdiri tegak. Di depan Masjid, sebuah rumah cukup bagus ambruk terjerembab rata dengan tanah. Lampu padam. Suara rumah-rumah roboh terdengar di sekelilingi kami. Tak lama berselang, Tsunami kecil datang. Meski tak menimbulkan kerusakan yang berarti, datangnya air setinggi kurang dari dua meter dari laut itu telah membuat begitu panik orang-orang yang takut mati.
Pagi hari kami mendapat cerita dari santri Masjid yang kami tempati, kalau rumah-rumah yang roboh sebagian besar adalah milik orang-orang yang jauh dari Alloh, termasuk rumah di depan Masjid yang sering terdengar suara musik keras kedebukan tak peduli siang malam atau waktu Sholat. Seorang anaknya yang masih remaja tewas tertimpa reruntuhan tembok, dan yang lain luka-luka dan bisa dibawa ke rumah sakit untuk di obati. Kami juga mendapat berita kalau di Pulau Nias keadaannya lebih parah.
Sungguh, Alloh hanya memberi peringatan agar kita tidak lalai dan melupakanNya. Jika Dia berkehendak, tentu kami tak lagi mendapat kesempatan untuk bertaubat dan selalu memperbaiki hidup. Aku merasa semakin yakin dengan Kekuasaan Alloh dan kesombongan manusia adalah nafsu yang menjijikan dan sangat tak tahu diri sebagai makhluk Alloh.
Rombongan kami tak melanjutkan perjalanan ke Pulau Sinabang seperti tujuan semula. Kami memutuskan untuk membantu segala kepayahan orang-orang di sekitar Masjid tempat kami menginap. Semoga bencana dapat menyadarkan mereka yang selama ini jauh dari Alloh. Keadaan bangunan tempat tinggal yang porak poranda membuat kami berpikir, orang-orang yang terkena kesusahan akan mudah terbuka hatinya untuk mengakui kekuasaan Alloh dan mendekatNya.
Sebulan kami bertujuh berdakwah islahiyah semampu kami. Aku sendiri masih sangat dangkal pengetahuan tentang Islam. Aku sangat ingin memperbaiki diri dengan menerapkan ajaran Islam dalam setiap nafasku, sepanjang hidup. Itulah makanya aku berusaha terus untuk dekat dengan orang-orang yang shaleh. Kami sangat bersyukur dengan perlakuan saudara seiman yang menerima kami dengan baik tanpa prasangka dan curiga. Seminggu sebelum kami pulang, seseorang dari rombongan lain yang baru seminggu datang memberi kami biaya untuk pulang dengan naik pesawat. Rupanya Ia diberi kemudahan dalam mencari rejeki.  Dan itulah pertama kali aku naik pesawat terbang.
***
Hampir semua rumah yang berdinding tembok roboh atau retak-retak. Yang tidak roboh pun penghuninya tak berani masuk karena keadaannya mengkhawatirkan. Rumah-rumah kayu berdinding bilik bambu kebanyakan hanya gentengnya yang menggelosor berjatuhan atau sedikit rusak tapi tidak separah rumah tembok. Mereka yang baru sadar ada anggota keluarganya masih terjebak di reruntuhan rumah, menangis histeris.
Aku menoleh ke utara. Gunung merapi masih seperti biasa, tenang, membisu dan mengepulkan asap. Sepertinya tidak telah terjadi letusan yang dashyat yang menimbulkan gempa. Aku merasa begitu kecil, bahkan dari sebutir debu yang paling lembut pun, dengan kekuasaan Alloh yang aku lihat sekarang. Dengan sepenuh hati aku mengucap Allohuakbar. Sebuah rumah megah yang biasanya menghalangi pandangan mataku melihat Merapi tak tampak lagi dan telah terjerembab menimbun seluruh perabot dan harta berharga di dalamnya. Taman di halaman depan yang luas tak sedap lagi dipandang. Empat orang penghuninya mondar mandir dihalaman sambil terus berteriak memanggil dua nama yang tidak berada bersamanya.
Ditengah kesusahan kekacauan pikiran tentang sanak saudara yang belum kelihatan dan segala barang yang belum terselamatkan, dari arah selatan terdengar suara teriakan; Tsunami datang! Tsunami! Tsunami...... Kami berada tujuh belas kilometer dari pantai, tentu Tsunami akan melibas kami jika tetap di sini. Dengan segera aku beranikan diri masuk rumah dan mengeluarkan motor. Meski lemari sudah roboh, kontak motor yang kutaruh di atasnya dapat aku temukan tak begitu lama. Meski aku telah pasrah sepenuhnya terhadap kehendak Alloh, berusaha menyelamatkan diri adalah kewajiban yang harus aku jalani.
Bersama istriku aku putuskan menuju sebuah pondok pesantren tempat kami sering mengaji, berjarak kira-kira dua puluh kilometer dan berada di sebuah bukit yang cukup tinggi. Di tengah jalan, dari arah utara terdengar lagi isu Gunung Merapi meletus. Berbondong-bondong orang berlarian dari utara. Di jalan-jalan terjadi kekacauan dan kesemrawutan kendaraan bermotor yang begitu besar. Kepanikan tampak di setiap muka. Entah isu apa yang harus dipercayai. Aku teringat tentang kiamat. Orang-orang kebingungan, panik dan tak lagi teringat keselamatan sanak saudaranya.  Keselamatan diri sendiri menjadi hal penting. Aku menyebut Allohuakbar dengan seluruh iman.
Seorang ibu yang tak kukenal menghentikan laju motorku dan menitipkan anaknya pada kami. Kami yang sudah setahun menikah dan belum ada tanda-tanda dikaruniai anak, segera menyambutnya. Istriku mendekapnya dan berusaha menghentikan tangisnya. Dengan penuh hati-hati dan selalu berdzikir, aku kendarai motor berseliweran dengan kendaraan lain dari dan ke berbagai arah. Tak ada kerusakan jalan berat yang menghambat perjalanan kami.
Sampai di pondok gempa masih terasa. Kerusakan di sini tak begitu parah. Ada beberapa retakan di dinding dan genteng yang jatuh. Di sini aku semakin merasa dekat dengan Alloh. Aku lihat wajah-wajah bersinar dan tenang menghadapi bencana. Berbeda sekali dengan wajah-wajah panik yang kutemui di jalan. Setelah berwudlu, aku membaca Al-Qur’an di masjid sambil menunggu waktu dzuhur tiba. Istriku ku sarankan untuk merawat anak titipan yang mengaku bernama Ifah.
Aku bermalam di pondok itu. Pengurus pondok yang telah kukenal dengan baik mempersilahkan kami sebuah kamar untuk ditempati. Esoknya setelah menyempatkan sholat Dhuha, aku, istriku dan Ifah kembali ke rumah kontrakan di Bantul. Mungkin masih ada barang atau surat-surat penting yang masih bisa diselamatkan. Gempa kecil kadang masih terasa, atau kadang kami merasa perasaan kami saja karena trauma. Di sepanjang perjalanan itulah aku melihat begitu banyak bangunan yang roboh atau rusak berat. Bangunan-bangunan yang telah menelan biaya milyaran rupiah hancur dan tak terpakai hanya dalam beberapa menit. Seperti aku dan istriku, sekarang begitu banyak orang yang menjadi tak punya rumah. Aku menjadi semakin tersadar kalau harta duniawi hanya titipan Illahi.
Di jalan tempat kemarin dicegat untuk dititipi Ifah, kami dihadang oleh seorang ibu yang langsung menubruk Ifah di pangkuan istriku. Rupanya Ia sejak pagi  atau mungkin sejak kemarin telah menunggui kami lewat. Jika kami menginap sampai beberapa malam mungkin si Ibu ini setiap saat akan terus menunggu.
“Akhir kamu kembali nak. Ibu sangat mengkhawatirkan kamu nak,” kata si Ibu sambil terus mengusap air matanya yang mengalir deras dan mendekap erat anaknya, “terimakasih Mas, Mba. Mari mampir dulu ke rumah saya dulu, eh, kami sudah tak punya rumah, itu bekas rumah saya, yang pagar besinya warna pink. O ya, Mas dan Mba namanya siapa? Nanti kalau ada sempat mampir ke sini. Terimakasih Mas, Mba. Terimakasiiiiiiiiih sekali.”
Kami melanjutkan perjalanan. Semua memang akan pulang.
Aku baru sempat menulis ini sekarang.***
                                                                                                Juni 2006

CERPEN YANG LAIN
ular ular mematuk mata
Ibu menunggu di stasiun
Bulu bulu yang lepas diajak terbang
Masjid di pinggir kota


Tidak ada komentar:

Posting Komentar