Label

Selasa, 27 November 2018

PUASA DENGAR BERITA


Jika ingin merasa negara kita dalam kondisi baik-baik saja, jangan tonton tivi dan baca berita. Apalagi berita seputar politik. Anggap saja tidak ada apa-apa, anggap saja semua baik-baik saja. Anggap saja tidak ada pihak lain atau seklopok orang lain yang sedang ingin menguasai kita dan memanfaatkan kekuasaannya jika sudah berkuasa. Anggap saja semua akan baik-baik saja sampai berpuluh-puluh tahun ke depan dan kita tetap akan selamat dan aman dari siapaun. Anggap saja idelisme kita dan ideologi kita tetap terjaga, tetap tak akan ada yang mengusik sampai kapanpun.
Sekitar rentang waktu dua bulan, saya tak begitu memperdulikan berita politik dan berita lainnya yang terkait dengan statemen yang menyangkut perebutan kekuasaan dan semua intrik politik, menjadi terasa tak sedang terjadi apa-apa dalam kehidupan bernegara kita. Seperti tidak sedang berlangsung perebutan kekuasan melalui pemilu tahun depan (2019). Poster-poster calon presiden dan calon anggota legislatif kabupaten, propinsi dan pusat, seperti terlihat mengganggu pemandangan dan terasa tak perlu. Sedikit timbul pertanyaan; apakah gambar foto dan sedikit tulisan promosi mempengaruhi orang yang tidak kenal mau memilihnya pada saat pemilu nanti? Biar saja, itu cara mereka untuk mencoba meraih suara.

Jika karena dengan mendengar dan membaca berita politik kita menjadi terasa riweh negara ini, kemudian kita memilih menghindar untuk kemudian cuek saja terhadap apapun yang ada di sekitar kita, apakah eksistensi kita, eksistensi negara, ideologi dan idelisme kita akan tetap terjaga dan aman-aman saja? Eksistensi negara, siapapun yang berjiwa patriotik pasti akan menjaganya dengan segala kemampuannya. Pertanyaanya, apakah ada sebagian orang atau beberapa orang atau sekelompok orang yang tidak peduli dengan eksistensi bangsa ke depan sedang berusaha untuk merebut kekuasaan?

Setiap orang, setiap kelompok orang, setiap ikatan orang yang membentuk kelompok karena punya kepentingan yang secara garis besar sama, akan mencari cara agar terperoleh cita-citanya yang menguntungkan kelompoknya. Berbagai cara akan dilakukan untuk mencapai cita-citanya. Cita-cita akan semakin dekat jika mereka dekat dengan kekuasaan, menjadi penentu pengaruh dalam kekuasaan, atau bahkan menjadi pemegang kekuasan.

Proses perebutan kekuasaan itulah yang menimbulkan berbagai intrik dan strategi. Kemudian media mem-blow-up berita-berita yang dirasa menurut mereka bisa menarik perhatian dengan  harapan viewer-nya berjuta-juta sehingga pendapatan uangnya meningkat. Orang-orang yang terlibat dalam perebutan kekuasaan menjadi obyek berita dan uang telah berhasil memporak-porandakan netralitas media karena juragan mereka terlibat dalam perebutan kekuasaan. Maka jika para pembaca yang ikut terlibat dalam dukung mendukung salah satu kubu dan atau terlibat dalam kecenderungan program dan harapan-harapan, akan terpancing emosi ketika ada sebuah berita yang disajikan untuk kepentingan kubu yang tidak didukungnya menurutnya dipelintir. Perasaan emosi itu akan selalu ada jika tidak diredam dengan kemengertian dan maklum. Salah satu cara untuk meredam emosi politik adalah dengan puasa tidak mendengar atau menonton berita tetang politik, dengan resiko menjadi tidak mengerti tentang posisi, kondisi dan situasi negara dalam lingkup regional maupun internasional. Tapi cara itu akan membuat apatis dan apriori yang akan membuat buta tentang keadaan negara sesungguhnya.

Dengan berpikir bijak, memahami, mengerti dan tidak emosinal dalam menghadapi sebuah perbedaan pendapat bisa membawa kita pada posisi yang tidak grasa grusu gampang menyalahkan kubu yang tidak sepaham. Banyak sekali pola pikir dan pendapat yang berbeda yang harus didengar dan diterima meski tak sependapatt. Berhenti mendengar berita membawa pada tempat sunyi pada ruang keriuhan. Kita bisa memilihnya dengan resiko yan berbeda dan tak bisa dihindari.
22:09. 27/11/2010.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar