Selasa, 25 Desember 2018

KEKUASAAN dan UANG MERUBAH POLA PIKIR.


Kekuasaan pada seseorang atau kelompok, bisa merubah dan sangat berpengaruh pada pola pikir dan merubah perspektif. Sangat jarang orang yang tiba-tiba mendapatkan kekuasaan atau diberi kekuasaan, pola pikirnya tetap ajeg. Apalagi terhadap kelompok atau seseorang yang memberinya, memfasilitasi, ikut mendukung dan menjadi bagian dalam proses memperoleh kekuasaan.
Kekuasaan itu nikmat, menyenangkan dan membius serta mendatangkan uang. Maka untuk mempertahankannya, harus disusun strategi dan segala langkah yang harus ditempuh agar kekuasaan tetap bisa digenggamannya dan selalu membuat pihak yang ingin merebut kekuasaan menjadi lemah. Selalu ada pihak lain yang ingin merebut kekuasaan dan selalu ada muncul energi yang menggelora untuk mempertahankan kekuasaan.
Bagi orang yang tak bisa menjadi leader dalam sebuah koloni kekuasaan, harus ada cara agar ia kebagian posisi dalam lingkaran penguasa. Ditempuhnya; mendekat, mengelu-elukan, memuja, memberi muka, membela, bahkan menjilat pun dilakoninya demi untuk memperoleh kursi kekuasaan. Bila kekuasaan telah didapatnya, menikmatinya sambil terus berjaga-jaga supaya kekuasaan yang didapatnya tak direbut oleh lawan dan juga tak disingkirkan oleh kawan. Mereka berkelompok mempertahankan kekuasaan kelompoknya juga mempertahankan kekuasan individunya. Berkelompok agar menjadi kuat, tapi setiap individu dalam satu kelompok ber-egois satu sama lain. Tak ada teman, yang selalu ada: kepentingan dirinya sendiri. Teman dan yang lainya adalah teman untuk bersama menjadi kuat dan pesaing dalam kelompoknya.
Saat seoarng pencari kekuasaan yang berada di luar lingkaran penguasa, melemahkan sang penguasa adalah upaya yang akan terus dilakukan sampai didapatkan kursi kekuasaan. Jika kemudian dengan tiba-tiba sang oposan atau sang perebut kekuasaan diberi kursi kekuasaan oleh sang penguasa, maka segala pandangan terhadap sang pemberi kursi akan serta merta berubah dan segala kritiknya berubah menjadi puja puji, penuh pembelaan dengan segala argumen untuk menyatakan bahwa sang pemberi kekuasaan itu baik dan tak ada yang lebih baik darinya.
Dalam ruang politik, hal semacam diatas kerap terjadi, menjadi lumrah dan wajar. Mereka penikmat kekuasaan tak akan malu dan merasa risi pandangan dan pola pikirnya berubah dan berbalik arah menjadi pembela setelah mendapatkan kekuasaan, karena tujuannya memang mendapatkan kekuasaan.
Ketika yang melemahkan penguasa dan yang mempertahankan kekuasaan saling serang dan saling bertahan, statemen dari pihak mana yang bisa dipercaya?
Rakyat yang punya hak pilih, hanya alat dan ajang bagi mereka para politisi untuk memperoleh kekuasaan, memanfaatkan kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan. Bertanya mana yang bisa dipercaya janji-janji dan statemennya, jawabnya, tak perlu-lah bertanya semacam itu. Mereka hanya menyerang dan bertahan demi kekuasaan kelompoknya dan dalam lingkaran kelompoknya sama-sama berebut dan bertahan agar bisa selama mungkin berkuasa, selama mungkin mendapatkan uang, selama mungkin bertahta.
22:13. 25.12.2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar