Kamis, 20 Desember 2012

do'a


19 Des 2012

Aku selalu berdo’a. berharap. 
Semua orang yang percaya adanya Tuhan pasti pernah berdo’a. Do’a dipanjatkan agar keinginan yang dicita-citakan tercapai. Berharap agar Tuhan dengan kuasanya membantu segala keinginan si pemohon. Kadang do’a juga sering sebagai bentuk keluh kesah tentang segala hal yang tak terpenuhi secara duniawi. Berharap ada kekuatan dan kekuasaan lain yang dilimpahkan dari Yang Maha Kuasa.
Setiap individu mempunyai kepentingan masing-masing. Maka do’a yang dipanjatkan pun berbeda terkait dengan harapan yang ingin diwujudkan di masa yang akan datang. Atau juga berharap segala apa yang telah terjadi dapat menyokong keberhasilan. Tanpa disadari, kadang do’a berbenturan dengan kepentingan dan keinginan orang lain.

Jika seorang dokter berdo’a agar selalu diberi rejeki, maka ada yang ‘dirugikan’ dengan do’a si dokter yang berharap ada pasien. Jika si calon pasien selalu berdo’a agar diberi selalu kesehatan, itu sama juga berharap dokter tidak selalu mendapat rejeki. Jika dua tim sepakbola mau bertading dan masing-masing tim berdo’a agar mendapat kemenangan, Tuhan akan mengabulkan do’a tim mana? Jika dua petinju tangguh yang akan saling bertinju, sama-sama berdo’a, Tuhan akan mengabulkan do’a siapa?
Tuhan sangat obyektif. Dia tahu segala yang akan datang dan hal apa saja yang terbaik bagi kita di masa yang akan datang. Karena kita tak pernah tahu hal apa yang akan terjadi terhadap kita di masa datang, ini menjadi sering kita menyesali diri apa yang terjadi pada saat ini. Yakin akan segala pilihan Tuhan yang ditimpakan pada kita, akan memberi hati yang tidak kemrungsung. Tidak selalu menyalahkan nasib kita yang terus dirasa kurang beruntung. Berdo’a agar Tuhan memberi yang terbaik untuk kita, untuk jiwa, untuk raga, untuk pikiran, untuk pola hidup dan untuk masa di depan yang kita tak tahu, tak perlu memohon yang sebenarnya belum pas untuk kita saat ini.
Jika berdo’a agar kesalahan, kecurangan dan kebusukan agar terus tak ketahuan hanya akan menyiksa selama kebusukan itu masih tertutup. Ia akan terus berdusta untuk menutupi kebusukan dan dusta berantai tak terputus. 
Orang yang berdo’a, itu menunjukkan bahwa ia percaya ada kekuatan lain yang maha Kuasa untuk merubah dan menentukan sesuatu pada alam dan seisinya. Jika seorang yang atheis berdo’a berarti ia mengakui ada kuasa Tuhan yang mempunya energi dan kuasa yang mutlak untuk merubah atau tidak merubah sesuatu. Ia tak mengakui adanya Tuhan, lebih karena didorong rasa egoisnya dan keangkuhan yang dilandasi alasan-alasan yang mengarah pada pola atheis-nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar