Sabtu, 21 September 2013

Rakyat Kota Memilih Caleg.

Kualitas hubungan sosial antara penduduk kota dengan penduduk desa pasti berbeda.  Ini dipengaruhi oleh kesibukan individu, jumlah penduduk dan kepentingan. Seorang penduduk di desa bisa mengenal sembilan puluh persen orang perorang penduduk sedesanya. Seorang kepala desa atau aparatur desa bisa hafal hampir seluruh kepala keluarga dan anggota keluarganya lengkap dengan tempat tinggalnya.  Ini dikarenakan jumlah penduduk di desa yang belum begitu padat, sering terjadi singgungan sosial, mutu pergaulan yang baik, masih dalam satu kerabat besar dan rasa persaudaraan yang terus menerus di jaga. Jika ada seorang penduduk desa yang sukses atau menjadi pejabat di sebuah instansi, bisa dipastikan seluruh penduduk desa tahu. Jika ada seseorang penduduk desa terkena kecelakaan, sakit atau mendapat keberuntungan, tanpa disiarkan lewat televisi, radio ataupun situs jejaring sosial pun, masyarakat seluruh desa akan segera tahu. Komunikasi dari mulut ke mulut dan kepedulian sosial, memungkinkan untuk itu.
Jika ada seorang warga desanya mencalonkan diri menjadi DPR, tentu seluruh warga desa tahu. Mereka segera membaca track record-nya. Jika tak ada pilihan lain, artinya tidak penduduk lain sedesa yang mencalonkan diri menjad DPR, boleh jadi sebagian besar penduduk yang sedesa akan memilih calon tersebut. Kadang dukungan suara itu tidak didasarkan pada penilaian obyektif tentang kemampuan calon tersebut. Dukungan itu bisa saja berdasarkan solidaritas wilayah, persaudaraan atau mendukung daripada mendukung penduduk desa lain yang sama-sama tak jelas kualitasnya. Cukuplah satu dua gambar di pasang di tepi jalan, pemberitahuan pencalonan diri menjadi calon anggota DPR, menjadi efektif dan komunikatif. Akan tetapi, jumlah penduduk yang sedikit, jumlah suara yang didulang tentu tidak maksimal.
Keadaan itu tentu berbeda dengan di kota. Rasa sosialitas persaudaraan dan ikatan emosional yang nilai-nilainya berbeda dengan di desa menjadi sebuah tantangan yang berbeda bagi para calon DPR yang ingin dapatkan suara minimal yang disyaratkan agar bisa duduk di kursi DPR. Bisa saja para calon memasang baliho bergambar dirinya dengan catatan visi misinya di setiap sudut dan disetiap gang dan jalan yang strategis. Tapi ketika mereka melihat wajah itu hanya ketika menjelang pemilu, tentu menjadikan gambar-gambar yang terpasang tetap menjadi sebuah sosok yang asing dan tak penting. Perlu kerja keras dan cara-cara yang cerdas agar para empunya suara tertarik untuk memilihnya. Kualitas sosial yang agak longgar dan rasa persaudaraan telah pudar, membuat orang cenderung materialistis. Secara tak sadar ada perhitungan matematis terhadap waktu yang terpakai dan jasa yang diberikan untuk memberi dukungan terhadap seseorang. Para epunya suara sudah menebak terlebih dulu, bahwa ada keinginan memperoleh keuntungan bagi para calon DPR jika terpilih. Mengantarkan seseorang memperoleh keuntungan materialis, maka tak tabu jika mengharap imbalan materilis. Kekaburan nilai-nilai sosial dan persaudaraan telah bergeser ke arah itu, karena perjalanan sejarah telah mengarahkan ke arah itu.
Kepedulian masyarakat perkotaan terhadap politik juga terus menipis. Politik menjadi hal yang tidak penting dan menjadikan ekonomi sebagai hal yang lebih penting dari politik. Dengan ekonomi yang mapan, semua bisa dibeli dan ‘dimainkan’. Mencari uang sebanyak-banyaknya menjadi kegiatan rutin yang menyita waktu begitu banyak. Untuk menarik simpati dan dukungan bagi seorang calon DPR di perkotaan, menjadi perjuangan yang tidak seringan di wilayah perdesaan. Perlu modal yang lebih banyak, perlu kecerdasan membaca kemauan, perlu kesabaran menghadapi reaksi warga dan perlu kejelian membaca situasi. Su’udzon terhadap politik telah merasuki begitu banyak warga dan membuat menjadi hampir-hampir melupakannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar