Senin, 18 Juli 2016

Rudy Habibie



Karena anak perempuanku yang berumur delapan tahun lah aku menonton film Rudy Habibie. Iklan di tivi telah membuat anakku seperti ‘harus’ menontonnya. Entah apa yang ada di benakknya kenapa mengharuskan menononton. Saya tak juga menanyakan apa sebab Ia tertarik dan ingin sekali menonton. Bagiku, kali ini menebak sendiri apa yang ada di benaknya membuat saya terbawa ke masa kecil saya dulu tentang sebuah penasaran. Tentu penasaran saya dulu dengan penasaran anakku berbeda. Perbedaan waktu, informasi, tontonan, lingkungan, tren, menjadikan sebuah keinginantahuan anak berbeda dari jaman yang berbeda.

Saya tertarik dengan film Rudy Habibie karena faktor Hanung Bramantyo sebagai sutradaranya dan film sebelumnya Habibie dan Ainun. Tokoh BJ Habibi yang kecerdasan, keimanannya, sangat saya kagumi dan kecintaannya pada Indonesia yang luar biasa. Dalam film tersebut juga tergambarkan bagaimana kecintaan Habibi pada Indonesia. Hanung sepertinya sudah menjadi jaminan, bagi saya, tentang kualitas dari film yang digarapnya. Menikmati sebuah adegan dan bagaimana sang aktor bersikap pada sebuah kejadian dari sebuah cerita yang dibangun untuk disampaikan dengan arahan sutradara sekelas Hanung menjadi keasyikan tersendiri. Seting yang dibangun kadang meleset dari pemikiran saya, tapi malah menghasilkan sebuah ‘keterkejutan’ pada pemikiran di lain ruang.

Ada dua tema yang disampaikan pada film ini. Pertama tentang cinta Habibi dan Illona, dan keyakinan Habibi untuk membangun industri dirgantara di Indonesia. Habibi yang sangat yakin dengan cita-citanya, idealismenya yang kuat menjadi tampak terkesan ‘egois’, tak menggubris pendapat sebagian kawan-kawan mahasiswa lain di Jerman yang terkesan sekedar main-main dalam study.

Dalam film itu kita dibawa pada romantisme asmara, cinta, cemburu, cita-cita, di sekitar tokoh Rudy Habibie dan perjuangannya sebagai seorang mahasiswa jenius, non beasiswa. Tokoh Baharudin Jusuf Habibie menjadi magnet yang kuat untuk menyedot calon penonton datang ke gedung-gedung bioskop. Atau mereka yang menunggu untuk bisa menonton gratisan dengan copy paste atau download  di situs-situs tertentu.

Kebangkitan film Indonesia nampaknya sudah mulai dalam satu dasa warsa belakangan ini. Setelah tertidur karena tergusur oleh tontonan televisi yang berupa-rupa warna dan tak memerlukan uang untuk beli tiket dan waktu keluar rumah. Para awak televisi mengambil kesempatan itu dengan menggelontorkan hiburan ‘yang penting ramai’ tanpa memperhatikan mutu dan segala sebab akibat dari hasil produksinya. Segala tren yang sedang di gandrungi segera di adopsi dan di tayangkan sesegera mungkin.

Tahun 80an, film Indonesia begitu merajai. Gedung bioskop tak pernah sepi dan layar tancap hampir setiap malam minggu atau di hajatan-hajatan, tayang di pelosok-pelosok negeri. Meski masih dengan teknologi audio visual yang masih sederhana jika dibandingkan dengan kondisi sekarang, nyatanya penonton selalu ada dan penuh. Harus di ingat, jika faktor pilihan alternatif hiburan yang menggiring mereka nonton film.

Satu hal yang menarik, film Warko DKI ( Dono Kasino Indro), produk tahun 80an sd awal 90an, sekarang masih sering di tayangkan di televis, dan uniknya, meski sudah di tonton / menonton berkali-kali masih saja timbul rasa ingin untuk menonoton lagi dan menikmati lawakan segar yang tak pernah membosankan.


Sebuah hiburan yang membangkitkan imajinasi yang mendengkur karena rutinitas yang monoton.

1 komentar:

  1. Satu hal yang menarik, film Warko DKI ( Dono Kasino Indro), produk tahun 80an sd awal 90an, sekarang masih sering di tayangkan di televis, dan uniknya, meski sudah di tonton / menonton berkali-kali masih saja timbul rasa ingin untuk menonoton lagi... hihihi.. tul betul betul

    BalasHapus