Label

Rabu, 24 Agustus 2016

membela

Bela membela, sebuah kecenderungan setiap manusia. Kesukaan, cinta, keyakinan, kepentingan, tujuan, latar belakang dan kepercayaan menjadi faktor seseorang membela orang lain. Karena sebuah kepentingan, sebuah pembelaan terhadap seorang figur, orang akan berusaha maksimal mencari dan menyuguhkan sisi positif kepada orang lain. Si pembela akan berusaha maksimal sebisa mungkin untuk menyakinkan kepada khalayak, kalau sosok yang dibelanya adalah baik dan akan membuat sebuah kebaikan kedepannya. Ia akan mengeliminir semua sisi negatif dan menyuguhkan argumen  positif jika ada pihak yang menyerangnya.
Berbuat membela pasti ada tujuan, setidaknya ada harapan terhadap sosok yang dibelanya. Mengharapkan sesuatu yang menguntungkan bagi dirinya atau kelompok tempat ia eksis. Membentengi diri agar ke depannya kelompoknya menjadi yang dominan dan dapat mempengaruhi kelompok lain untuk menjadi bagian kelompoknya.
Sebuah pembelaan akan melunturkan obyektifitas. Ia seperti tak mau tahu, meski sebenarnya tahu, sisi negatif dari sosok atau kelompok yang dibelanya. Mematahkan semua serangan yang mendiskreditkan, memelintirkan kata, memutarbalikan fakta bahkan mempermasalahkan hal-hal kecil si penyerang demi untuk memecah konsentrasi. Perbuatan membela akan menjadi sangat repot jika yang dibela memang punya kredit poin negatif di mata masyarkat sekitarnya. Sebuah keyakinan dan kepercayaan yang berbeda bisa menjadi landasan berpikir seseorang untuk memutuskan sesuatu itu baik atau tidak baik. Subyektifitas menjadi dominan mengalahkan obyektifitas. Dan ‘obyektifit’nya juga dari landasan berpikir mana?
Membela kebenaran.
Kebenaran bersifat subyektif. Ada banyak ‘benar’ menurut kelompok tertentu, tapi tidak sepenuhnya benar bagi kelompok lain. Hal semacam ini sering terjadi yang terkait dengan kepercayaan, keyakinan, adat budaya dan agama. Menolong orang dalam kesusahan adalah sebuah ‘benar’ yang bisa di benarkan oleh orang atau kelompok mana pun. Tapi, nilai ‘benar’ itu bisa berbeda-beda nilainya jika di soroti latar belakang kesusahan orang tersebut dengan landasan berpikir yang berbeda-beda.
Sebuah perpecahan kelompok masa sering terjadi karena masing-masing mereka sama-sama merasa benar dan sama-sama harus membela kebenaran yang harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan, ditambah lagi sebuah semangat kebanggaan membela sebuah ‘kebenaran’. Merasa semua paling berhak benar dan yang tidak sepaham dengan dirinya adalah tidak benar inilah yang membuat susah terjadi titik temu untuk bersama-sama hidup berdampingan untuk saling menghormati dan mengerti. 
Perbedaan itu manusiawi. Perseteruan selalu saja diusahakan oleh banyak orang untuk dihindari. Bertoleransi menjadi hal yang harus selalu di jaga agar tidak hanya sekedar sebagai kata pelipur dari dongkolnya hati melihat aktifitas dari kelompok orang yang berbeda.

1 komentar:

  1. maka dari itu kita khususnya yang sekolah era 80's sudah terbiasa berlatih memilih yang mana benar atau salah saat tehabe. cle

    BalasHapus