Label

Senin, 06 November 2017

pekerja di bawah umur

salahkah saya, karena masih usia sekolah, berangkat kerja pagi pulang malam
saya butuh uang, butuh banyak untuk membeli.
untuk beli pulsa, beli quota internet, beli baju, beli sepatu, beli makan enak.
setidaknya saya tak perlu minta pada ibu, karena ia telah begitu capai, begitu lelah.
lelah hati, lelah pikiran, lelah tenaga. pasrah yang tak bertumpuan.
terduduk bersimpuh di lantai semen yang mluduk dan bertambal. bersandar pada dinding berjendela kecil rapuh yang harus berhati-hati jika membuka dan menutupnya.
ia tak juga cukup bisa menyisakan uang untuk bayar sekolah dan seragam. dan uang jajan yang setiap pagi tak pernah absen.
bukan saya tak mau sekolah, bukan. saya kasihan ibu yang matanya kering karena ingin aku senang.
karena saya pengin cari uang. karena uang itu.
karena, meski saya harus berdesakan hidup di kampung kumuh dengan air got yang tak mengalir, dengan lorong gang sempit yang pengap yang di atasnya bergelantungan jemuran, yang ketika malam ribuan nyamuk memburu kulit manusia.
saya pengin juga pergi ke mall berbelanja rupa-rupa, seperti mereka yang bersepatu tinggi mengkilap. seperti di sinetron-sinetron  yang ceritanya berputar-putar seperti kebingungan.
tapi, jika bisa, saya pilih bersekolah dan menunda keinginan.

jangan salahkan mereka yang menampung saya kerja. jangan salahkan siapa-siapa.
para aktivis itu, yang menebar keprihatinan, yang mengumbar penyesalan. itu,
; saya juga ingin sekolah. kalian mau menyekolahkan saya? kalian berani berkorban?
katanya ilmu itu mahal. mahal juga untuk membelinya.
ijazah itu mahal. mahal juga untuk mendapatkannya.
saya tahu itu, ijazah yang membedakan gaji-gaji. bukan tangan-tangan yang cekatan.
orang pintar tanpa ijazah, tak terlihat di sini.
saya terima itu. tidak apa-apa.
karena harus ada orang seperti saya agar bos-bos itu cepat kaya. agar gampang ditakut-takuti dan tak banyak protes.

jika saya tak mengganggu kalian, biarkan saya kerja.
jika mau bantu saya, sekolahkan saya.
berbicara di depan mikropon itu, tak membuat saya bisa berangkat sekolah. tak bisa membantu ibu yang keleahan mencari uang.

sudahlah, ini nasib saya. apalagi smapai menyalahkan pemerintah. saya takut dihukum.
saya takut nanti ibu menggigil ketakutan,


Sabtu, 04 November 2017

REGISTRASI KARTU SELULER PRABAYAR Vs HOAX

Peraturan Menteri Kominfo No 21 Tahun 2017 yang mewajibkan para pelanggan prabayar operator seluler untuk meregistrasi ulang dengan mengirim nomor induk kependudukan (NIK) dan nomor Kartu Keluarga (KK), banyak yang tidak setuju dan mengajak untuk tidak meregistrasi.

Ketidaksetujuan mereka dengan melakukan berbagai upaya seperti menyebar berita kalau kewajiban meregistrasi adalah hoax dan tak perlu. Ada juga yang mengkaitkan dengan kepentingn politik yaitu pilpres 2019 dengan argumen yang dikait-kaitkan agar tampak argumentis. Mengajak kaum muslim untuk tidak meregistrasi agar operator seluler merugi dan menakut-nakuti jika kita mengirim NIK dan nomor KK akan bisa dicuri data-data kita di bank tempat kita menyimpan uang. Apa pengelola bank sedemikian bodohnya sehingga akan mudah dicuri data-data nasabahnya yang dilindungi undang-undang. Apa tidak perangkat lain untuk melindungi transaksi keuangan lewat internet banking atau ATM. Dengan berganti password dan PIN secara berkala, kemungkinan tabungan di bank di bobol sangat kecil, apalagi jika hanya dengan mengambil data dari telepon seluler yang dikaitkan dengan data di bank.

Ada juga yang protes karena omset penjualan kartu perdana menurun drastis. Bisa dimaklumi, tapi, untuk sebuah kepentingan yang lebih besar, apa keuntungan yang didapat dari sedikit orang akan mengorbankan kenyamanan dan keperluan yang lebih besar.

Saya sendiri sering merasa terganggu oleh para penipu yang mengabari mendapat undian, mama minta pulsa, anak kecelakaan dan hal lain, yang bagi sebagian orang ada yang masuk perangkapnya. Di tempat saya ada yang ketipu sepuluh juta karena dikabari anaknya yang diperantauan kecelakaan dan baru sadar setelah menelpon anaknya yang sedang baik-baik saja. Dengan cara-cara yang di seting sedemikian rupa dan si calon korban di telepon dengan back sound seolah sedang terjadi kecelakaan. Saya sendiri pernah di telepon dan dikabari anak saya mengalami kecelakaan. Suara si penelepon di bikin kadang jelas kadang tidak jelas, seperti menunggu si calon korban menyebut nama. Saya biarkan, beberapa saat nelpon lagi. Saya sadar itu modus penipuan, maka saya berpura-pura jadi calon korban yang masuk perangkapnya. Entah dari mana mereka nomor telepon untuk mencari korban.

Saya kira, ajakan untuk tidak meregistrasi ulang nomor seluler pasti orang-orang yang tidak punya niat baik. Jika kita tak berbuat macam-macam yang merugikan orang lain, kenapa harus menyembunyikan identitas?
Dengan terigistrasi secara benar sesuai data identitas yang ada, para pelaku penipuan dan kejahatan yang memanfaatkan telepon seluler akan mudah terlacak. Maka kenyamanan mempunyai telepon seluler akan terjamin. Tidak ada lagi sms tengah malam yang isinya penipuan dan mencari calon korban.


Jika kita benar, kenapa takut?

Selasa, 31 Oktober 2017

KESADARAN MEMBUANG SAMPAH

Sampah masih menjadi hal yang tidak diperhatikan oleh banyak orang. Sering kali pengendara mobil ataupun motor membuang sampah seenaknya di jalan ketika sedang melewat. Jalan dianggap sebagai tempat umum yang siapa saja boleh membuang sampah. Beberapa kali saya menjadi saksi seorang pengendara motor berhenti di atas jembatan dan seenaknya membuang sampah di sungai di bawahnya. Juga saya menyaksikan seorang bocah seumuran anak SMP yang berboncengan dengan ( mungkin ) ibu dan adiknya, membuang bungkusan plastik sampah di sungai ketika melewati jembatan, pada lokasi yang cukup ramai. Juga sering saya saksikan orang membuang sampah dari dalam mobil dalam perjalanan. Sepertinya mereka beranggapan, yang harus bersih dari sampah hanya di dalam mobil saja, di luaran, di jalan tak perlu diperhatikan dan bebas saja. Saya yakin jika ada orang biasa yang bukan aparat menegurnya, mereka akan marah dan merasa tak perlu dipersalahkan. Bahkan di sebuah sekolah, para siswa membuang sampah di sungai yang di dekatnya ada tulisan bijak tentang sampah, dan guru membiarkan kebiasaan itu. Jalan dan sungai seolah sebuah tempat pembuangan sampah yang siapa saja boleh menggunakannya. Di pinggir-pinggir hutan juga kita sering melihat sampah yang dibuang sembarangan. Di bekas-bekas keramaian, pasti ada sampah berserakan seluas tempat yang berkerumun.

Konsep bersih dari sampah, hanya di sekitar tempatnya tinggal. Jika di rumah, bersih yang terpikirkan hanya di dalam rumah dan di halaman depan. Di mobil saat dalam perjalanan, bersih hanya untuk di dalam mobil, jalan menjadi tempat sampah yang panjang dan luas. Penghuni sekitar jalan adalah orang yang tak dikenalnya dan tak perlu diperdulikan. Dan cara mudah membuang sampah sambil berlari adalah pilihan yang tak perlu diragukan.

Perlu penyadaran yang intens kepada seluruh penduduk untuk berbuat bijak dalam memperlakukan lingkungan, agar tidak membuang sampah dengan sembarangan di sembarang tempat. Karena tempat tinggal bukan hanya lingkup kecil sesaat ketika berada. Lingkungan secara keseluruhan adalah satu kesatuan yang saling berkaitan. Harus ada pendidikan sejak dini kepada anak-anak dan juga semua generasi tentang bagaimana  menyikapi dan meperlakukan sampah pada lingkungan secara keseluruhan.

Undang-undang atau peraturan tentang sampah harus ada dan segera diberlakukan. Denda yang tinggi dan hukuman yang berat bagi pelanggar agar memberi efek jera bagi calon pelanggar. Jika cara sebagian besar orang memeperlakukan sampah dengan sembarangan dibiarkan dan terus menerus menambah polusi, kerusakan lingkungan akan terus meningkat dan pasti mempengaruhi kualitas berkehidupan manusia.

Kesadaran membuang sampah, sangat darurat.

Selasa, 24 Oktober 2017

ndilalah

Dalam bahasa Jawa ndilalah itu diartikan sebagai sesuatu kejadian yang diluar rencana dan tak terduga. Ada kekuatan lain dalam kejadian yang disebut ndilalah. Kekuatan Yang Maha Kuasa yang mengatur kejadian tersebut, sehingga apa yang tak diduga menjadi sebuah awal jalan yang baik atau sebaliknya. Baik atau tidak baik menurut versi sementara bagi si penerima ‘ndilalah’, karena jalan panjang yang berubah arah karena kejadian ndilalah, belum bisa diketahui sepenuhnya.

Sebuah kejadian atau hasil sebuah proses, yang bagi kita sekarang dianggap tidak menyenangkan dan mengecewakan, bisa saja dikemudian hari ternyata menjadi sebuah awal yang lebih baik dari yang kita duga dan dicita-citakan. Kekeceewaan seseorang seringkali terjadi karena sesuatu yang terjadi tidak sesuai harapan pada waktu yang diinginkan. Waktu menjadi sebuah ukuran keberhasilan. Semakin pendek waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan keberhasilan, makin terasa sebuah kesuksesan. Meski tidak tahu apakah kesuksesan itu akan berlanjut dala jangka panjang atau hanya sesaat yang melenakan. Sebuah proses pencapaian yang diperoleh dengan lambat tapi terus berkembang sering menimbulkan rasa tidak sabar yang kemudian mencari jalan lain yang lebih cepat.

Masa yang akan datang adalah misteri bagi setiap manusia. Kejadian sepuluh menit kemudian pun kita tak bisa memastikan akan terjadi begini, akan terjadi sesuai rencana. Manusia hanya bisa membuat rencana dan dalam pelaksanaanya tergantung pada campur tangan Tuhan. Bisa saja sebuah rencana berjalan sesuai dengan yang inginkan, tapi bisa juga sebaliknya. Campur tangan Tuhan itulah yang disebut ndilalah. 

Seseorang terlepas dari kecelakaan maut karena ndilalah ia terlambat datang sehingga ketinggalan bis yang dalam perjalanan terjadi celaka. Seorang serdadu selamat dari pertempuran hebat karena ndilalah ia terperosok dalam lubang dan terhindar dari serangan musuh. Seseorang tidak lolos dari ujian karena ndilalah pas hari ujian ia sakit. Seseorang tidak jadi berangkat liburan karena ndilalah ada sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan. Dan, ketidakbisaan itu kadang menjadi jalan lain yang kita tidak tahu sebelumnya dan tak direncanakan yang ternyata lebih baik dari yang kita rencanakan sebelumnya.

Ndilalah itu campur tangan Tuhan dalam sebuah kejadian yang berkelanjutan. Tentu ini bagi yang percaya Tuhan. Sebuah misteri yang datangnya tak pernah kita tahu dan kapan ndilalah itu terjadi. Merencanakan sesuatu untuk melakukan apa-apa yang akan datang, itu sebatas kemampuan manusia yang harus tunduk dan menerima ndilalah apapun yang terjadi. Bukan pasrah terhadap campur tangan Tuhan dan tidak berbuat apa-apa, tapi ndilalah itu datangnya sesuai rencana Tuhan, hanya kita saja yang tak bisa memahami.

Ndilalah itu rencana Tuhan yang kita tidak bisa tahu dan tidak bisa memahami. 

Sabtu, 21 Oktober 2017

PRIBUMI, kenapa ?

Tiba-tiba saja saya pengin menyatakan lebih tegas, saya pribumi!
Pidato perdana Gubernur DKI 2017-2022, Anis Baswedan yang menyelipkan kata pribumi yang kemudian menjadi pembahasan di berbagai media, telah menyadarkan kalau pribumi masih perlu bangkit lagi agar tidak terjajah dan terpinggirkan. Lepas dari penggunaan kata pribumi yang telah di atur lewat UU No 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras Dan Etnis dan juga diatur dalam Instruksi Presiden Nomor 26 tahun 1998 tentang Menghentikan Penggunaan Istilah Pribumi dan Nonpribumi dalam Semua Perumusan dan Penyelenggaraan Kebijakan, Perencanaan Program, ataupun Pelaksanaan Kegiatan Penyeleng-garaan Pemerintahan, faktanya masih ada tanggul pemisah antara pribumi dan non-pribumi.

Jika kata Pribumi diartikan sebagai siapa saja warga Negara Indonesia yang setia membela negara, mengakui lahir bathin kewarganegaraannya, dan selalu ingin Indonesia lebih maju dan baik dengan tidak ikut merusak seluruh tatanan negara. Berapa prosen orang non pribumi yang telah lahir turun temurun di Indonesia yang berlaku demikian? Dan berapa yang berlaku sebaliknya. Dan, apakah mereka juga merasa pribumi dengan sepenuh hati? Dan, tidak merasa ingin menyingkirkan pribumi ke pinggiran dan lambat laun membangun diri menjadi super power di sekelilingnya?

Keinginan sebuah kelompok pada ras tertentu untuk membuat pagar di sekelilingnya dan membuat sebuah wadah adalah hal yang manusiawi. Sekelompok orang yang merasa ras keturunan, meskipun nenek moyangnya lahir di sini dan entah generasi ke berapa, akan merasa senasib sepenanggungan dengan kelompoknya. Mereka akan merasa sebagai satu saudara yang saling perhatian, saling mendukung dan merasa harus menjadi satu ikatan agar kuat dan tidak dilemahkan oleh yang lain. Itu bisa saja terjadi di mana pun dan pada kelompok manapun

Orang pribumi juga sangat wajar untuk menjaga eksistensinya dan berperan aktif dalam segala hal dalam wilayah negaranya. Juga wajar saja jika dalam hatinya merasa lebih berhak, meski jika jadi pejabat publik, kata-kata merasa lebih berhak tidak akan diucapkan disembarang tempat. Ada cara halus mengatakannya pada lingkungan, ruang dan waktu tertentu dan cara berbeda pada komunitasnya. Jika kelompok sebelah membuat sebuah kelompok eksklusif dengan merasa perlu membentengi kelompoknya, apa kita harus diam saja demi agar tidak disebut rasis? Apa mereka tidak bisa disebut rasis dengan caranya mengelompokan diri?

Idealnya, hidup berdampingan tanpa melihat ras, agama, suku dan golongan. Saling bekerjasama, bantu membantu, saling memberi, saling menolong dan tak ada pertentangan perbedaan dalam menjalankan perintah agama. Karena tak ada satupun yang bias menolak kita dilahirkan dari suku atau ras mana. Kita lahir langsung menyandang ras tertentu pada tempat yang tertentu yang tidak bisa ditolak. Akan sangat indah jika tidak perlu bersusah payah berkelompok-kelompok berdasarkan ras / suku agar lebih ( merasa ) superior dibanding dengan yang lain. Itu bisa terwujud jika tidak ada yang mendahului untuk membuat kelompok yang dilandasi persamaan ras yang kemudian berkelanjutan untuk unjuk kekuatan pada yang lain.

Jika hanya menghindari kata pribumi agar tidak dicap rasis tapi membiarkan yang non-pribumi membuat kelompok pada ras-nya, apa itu yang disebut bijak? Membiarkan yang diluar ras-nya membangun diri untuk menjadi kuat, dan membiarkan kelompoknya tercerai berai demi untuk disebut menghargai dan anti rasis, apa itu tindakan yang baik dan perlu dihargai?

Kita tetap harus menjadi tuan di negeri sendiri, bukan membiarkan yang lain lambat laun mau menjajah kita. Yang lahir dan besar di negara ini, siapapun, ras manapun, suku manapun, yang merasa telah menjadi pribumi, mari bersama-sama membangun. Yang merasa non-pribumi padahal lahir besar di sini dan tidak punya rasa patriotisme, apa akan terus mengekslusifkan diri dan marah jika tidak mendapat persamaan hak. Kalau begitu yang rasis siapa?

POSE CALON KADA

Berpose untuk dipampang di pinggir jalan dan di banyak tempat, pasti dibuat sebagus mungkin demi untuk menciptakan daya tarik bagi siapa saja yang melihat. Pose gambar yang dipilih dari sekian banyak foto, tentu dengan berbagai macam pertimbangan. Pada sebuah iklan produk, pose personal ( model iklan ) yang menawarkan produk sekedar sebagai ‘jalan masuk’ bagi produk yang ditawarkan. Pada iklan calon kepala daerah ( Kada ), photo yang terpampang itulah yang harus membuat si pelihat tertarik dan mendukung.

Ada yang bergaya santai dengan senyum. Ini mungkin sedang menyampaikan pesan, saya orangnya ramah, welcome, dekat dengan siapa saja dan siap menjadi pemimpin yang memperhatikan rakyatnya.

Ada yang pasang muka serius, berpeci, bersorot mata tajam mentap sedikit tinggi tanpa dipoles senyum. Tak ada background yang warna warni. Sebuah keseriusan dan ketegasan terkesan pada posenya.

Ada yang berpose dengan memakai jas hitam, berdasi, memakai peci dengan tanpa senyum, bersorot mata datar. Kesan yang terbaca, saya juga mencalonkan diri jadi kepala daerah lho...

Ada yang tersenyum yang cukup lumayan akting senyumnya, dengan mata menatap sedikit tajam agak redup. Dan berkesan, ayo dukung aku, karena aku yang siap dan paling bisa.

Ada yang seperti foto KTP dengan di iringi tulisan program unggulan normatif. Tak bayak kesan yang bisa terbaca, hanya kita bisa menebak kalau orang ini juga ikut memproklamirkan diri sebagai calon kepala daerah.

Ada juga yang berpose memakai peci seolah sedang berbicara di belakang meja di depan banyak orang, memegang mik dan menengok sudut 450 tapi bibirnya tertutup seperti tidak sedang ngomong apa-apa juga seperti tidak sedang memperhatikan apa. Kesan yang ada, saya biasa ngomong di depan banyak orang, tapi ini foto bukan lagi ngomong di depan banyak orang dan saya mencalonkan diri jadi kepala daerah.

Dan semuanya bersimpan makna, jadi kepala daerah itu nikmat, makanya saya pengin mencoba.

Rabu, 18 Oktober 2017

MENANGKAP IDE

Bagi seorang yang punya hoby menulis, menyelesaikan sebuah tulisan yang berawal dari ide unik yang tak sengaja nangsang di kepala adalah sebuah pelepasan kenikmatan yang mengasyikan. Seperti juga mungkin bagi seorang yang punya hoby mancing, mendapatkan ikan sampai tertangkap penuh menjadi sebuah kenikmatan tersendiri tanpa perlu merasa empati pada ikan yang mulutnya tertusuk pancing. Ikan bukan tujuan utama memancing, demikian juga dalam menulis, uang atau laku atau tidak laku sebuah tulisan bukan tujuan akhir untuk mendapatkan keasyikan. Proses menuangkan ide dalam bentuk tulisan atau gambar, setiap urutan berproses merupakan anak tangga yang setiap centinya harus ternikmati tanpa sedikit pun terlewat. Bukan sebuah kesusahpayahan. Sebuah penikmatan dalam melakukan.

Sebuah proses dengan hasil yang baik, pasti akan lebih menyempurnakan keindahan berproses. Berhenti ditengah jalan dengan tidak tahu alasan terhenti, menjadi sesuatu yang mengganjal di seluruh indera. Ketika gagal menuangkan ide secara keseluruhan atau sebagian ada yang ‘tersangkut’ tak tertuangkan karena tak ada kalimat atau gambaran yang bisa sepenuhnya mewakili ide, bisa jadi itu menjadi penghambat untuk melanjutkan menuangkan ide, atau malah bisa jadi menjadi awal ide lain yang berkembang bercabang-cabang.

Ide seringkali mucul tiba-tiba di benak, di tempat dan ruang yang tak terduga. Indera kita menjadi pintu sekaligus penerima ide. Alam, ruang dan waktu menjadi perangsang lahirnya sebuah ide yang dibidani oleh pemikiran yang kreatif dan inovatif. Sebuah rangsangan ide bisa menjadi berbeda-beda pada setiap individu. Bagi individu yang kreatif, ide bisa lahir dibanyak tempat tanpa perlu rangsangan yang kuat untuk lahirkan sebuah ide.

Sebuah ide yang muncul tiba-tiba, bisa saja kemudian lenyap jika tanpa kita catat. Ini bisa terjadi karena otak kita tak sempurna menyimpan. Jika tidak ingin ide yang lahir di sembarang tempat dan sembarang waktu lenyap tanpa di tindaklanjuti, catatlah pada apa saja yang bisa untuk mencatat. Jika dalam perjalanan, berhentilah dan catat. Kondisikan dan persiapkan setiap saat seluruh indera untuk menampung begitu banyak ide yang bergelantungan di sembarang tempat.

Dan, sempatkanlah waktu untuk menuliskan ide dan menikmatinya. 

Sabtu, 14 Oktober 2017

BERDO'AKAH ORANG ATHEIS?

Berdo’a itu berharap atau meminta pada Tuhan agar cita-cita, keinginan, harapan, menjadi kenyataan sesuai dengan keinginan. Tuhan itu sebuah subyek yang mempunyai kekuasaan maha luas dan maha segalanya untuk menentukan tata kehidupan dan semua yang ada di alam raya. Bagi orang yang percaya Tuhan, meminta sesuatu saat semuanya seperti  buntu dan tak tahu mana jalan yang harus dipilih, berdo’a, bisa menjadi obat untuk keluar dari kegelisahan. Melepas lelah dan bersandar pada kekuatan yang maha tahu mana yang terbaik untuk keseluruhan kehidupan.

Orang yang  tak percaya Tuhan, pernahkah ia berdo’a? Jika ia berdo’a, pada sosok siapakah ia memohon sebuah harapan untuk terkabulkan? Semoga-nya orang atheis apakah hanya sebuah harapan tanpa merasa ada kekuatan lain yang bisa berpengaruh pada sebuah kejadian. Apakah sebenarnya ia percaya adanya Tuhan, hanya tidak mau melakoni segala perintah Tuhan yang terwadahi pada sebuah ajaran yang disebut agama.


Jika seorang atheis benar-benar tidak percaya Tuhan dengan segala kekuasaannya, berarti ia hidup hanya bertanggung jawab pada kehidupannya di dunia, dan dunia menjadi segalanya untuk kesempatan sekali saja. Lahir dari rahim ibu, bagi seorang atheis, mungkin saja dianggap hanya sebuah proses alamiah dan tak ada campur tangan Tuhan. Tak ada nasib dan tak ada takdir. Pernahkah mereka berharap untuk percaya adanya Tuhan?

Jumat, 13 Oktober 2017

PAMER ITU “PERLU”

Dikenal itu perlu untuk sebuah barang yang akan di jual untuk mendapatkan uang. Itulah makanya sering diadakan pameran dagang, pameran produksi, pameran kegiatan, dsb. Pamer untuk sebuah barang produksi yang diciptakan untuk mendaptkan laba dari sebuah proses produksi yang panjang, di kenal oleh calon pembeli adalah sebuah keharusan. Tanpa di kenal, akan sangat minim barang itu terbeli dan ini akan menjadikan si pembuat barang rugi, tak kembali modal. Itulah makanya berpamer itu perlu dalam sebuah perdagangan  pada rangkaian lingkaran produksi.
Berpamer sebuah keahlian juga perlu jika jasa keahlian itu memang untuk di jual. Seseorang atau sekelompok orang yang punya keahlian tertentu dan keahlian itu sengaja untuk memperoleh penghasilan, perlu ada upaya untuk meyakinkan para calon konsumen kalau keahliannya tidak mengecewakan jika dipakai.
Dalam berpamer seperti di atas, kita memkluminya. Karena sebuah produk, jasa dan barang, yang mau dijual dengan tanpa di kenal orang, akan tidak maksimal penghasilan yang diharapkan dari kegiatan itu.
Akan terasa lain jika yang dipamerkan itu sebuah jasa telah menolong orang, pamer punya barang bagus, pamer punya uang banyak, pamer nyumbang dana besar, pamer berjasa pada sesuatu. Pamer yang sering disebut sebagai riya. Menunjukkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu bagi orang lain, tapi dirasa perlu bagi yang berpamer.
Sebuah perbuatan riya akan menjadi sebuah perbuatan yang tidak disukai walaupun mungkin saja yang tidak suka juga pernah berbuat riya dengan disadari atau tidak disadari. Untuk menyatakan eksistensi dirinya dalam lingkungan pergaulannya, banyak orang yang merasa pamer itu perlu. Pergaulan yang semakin luas di dunia maya dan semakin sempit bergaul secara fisik, sebuah keberadaan diri perlu dijaga agar tak hilang perlahan terlupakan orang-orang disekeliling dan orang-orang yang dikenal lewat internet yang dijembatani oleh media sosial yang terus tumbuh berebut tempat.
Dalam dunia maya yang di jembatani oleh internet dan di wadahi oleh media sosial, gaya atau perilaku pamer menjadi sebuah semacam ‘hobi’ bagi sebagian orang. Semua yang dirasa asik dan menggembirakan baginya, akan terasa tidak hambar jika tidak dipamerkan dalam media sosial. Sepertinya, semua orang harus tahu kalau “saya” ini sedang begini dan kamu harus peduli dengan keadaanku. Komentar di bawahnya dan “like” menjadi tambahan kegembiraan. Jika yang komentar banyak dan mengena, dan yang  “like” berjumlah banyak, makin bertambahlah senang dan membawanya seolah begitu banyak orang yang peduli keadaanya, banyak orang yang mengerti dan tahu. Meski tak bisa memilah mana yang berkomen dan ber”like” main-main dan tidak. Dalam duni media sosial, tak ada beda “nge-like” yang sungguhan dengan “nge-like” yang sekedar saja untuk basa basi atau malah sambil mencibir saat pencet tombol like.
Kadang juga berpamer dalam bentuk minta do’a, “Insya Alloh saya mau beli anu, bla bla bla bla, mohon do’anya ya teman2”, berpamer kepunyaan, memposting foto-foto dengan latar belakang rumah yang bagus, mobil yang bagus, atau acara-acara yang dianggap bisa mengangkat derajat sosialnya. Sepertinya, bukan do’a dari teman-teman yang diharapkan, tapi lebih penting kalau teman-temannya tahu kalau ‘aku’ mau beli ini yang harganya mahal dan tak semua orang bisa beli.

Bisa berpamer dan mendapat respon dari orang-orang yang dipameri, adalah sebuah kesenangan dan melupakan tentang ‘hukum’ riya. Jika berpamer itu menggembirakan, dan berbuat sesuatu yang menggembirakan itu perlu, maka berpamerlah, dan lupakan apa itu yang isebut riya.

Minggu, 17 September 2017

KURSI GOYANG, TIGA PEREMPUAN

cerpen
djayim.com

“Tidak semua buku yang ada harus kau buka, tidak semua buku yang kau buka harus kau baca, tidak semua yang baca harus kau ingat, tidak semua.”
“Apa maksud Nenek?”
“Tidak semua yang kau dengar, kau harus tahu. Jika kau tahu pun tidak harus semua didengarkan.”
“Kenapa Nek? Kenapa? Kenapa Nek? Apa aku nggak boleh tahu? Kalau nggak boleh tahu, kenapa Nenek mengucapkannya?”
Si nenek diam. Ada pandangan kosong yang selalu ada di setiap awal melihat sesuatu. Garis wajahnya pada kulit keriput menjadi semakin dalam jika ia tersenyum. Di ujung bibirnya selalu nampak garis kesinisan sekaligus penyesalan yang tak mudah terbaca karena berubah-rubah setiap saat.
“Aku khawatir padamu cucuku yang manis?”
“Apa yang dikhawatirkan denganku Nek? Apa aku, menurut nenek akan jadi seorang selalu kalah? Aku nampak seperti itu nek?”
“Tidak. Tidak sama sekali. Kau terlalu jauh berpikir seperti itu untuk seusiamu”
“Terus?”
“Belum saatnya kau tahu.”
“Nenek selalu saja begitu. Selalu! Aku sudah terus bertambah besar Nek. Aku sudah bukan anak TK lagi Nek, bahkan sudah banyak tahu yang Nenek tak pernah menduganya. Banyak Nek, buanyaak.”
“Ah, kau cucuku satu-satunya. Yang cantik, manis, pintar..”
“Nek, boleh nggak aku tanya lagi pertanyaan yang selalu Nenek menunda untuk menjawab?”
“Tentang apa?”
“Ibu.”
Si nenek terbatuk atau lebih pas kalau disebut sengaja batuk untuk kemudian menyuruh cucunya mengambilkan segelas air putih di dapur. Kemudian langit di depannya membuka lagi begitu banyak cerita. Banyak sekali yang Ia ingin buang, banyak juga yang ingin Ia kenang untuk membangkitkan senyum yang tak mudah untuk dimaknakan. Ada awan yang bergerak cepat kemudian pecah menjadi berkeping-keping hilang, ada yang bergerak perlahan mengumpul berubah menjadi hitam dan segera menjadi mendung dan menjadi hujan yang begitu deras membuat banjir bandang di bumi, ada yang bergerombol kecil-kecil bergerak perlahan mengiringi angin sepoi membelai lembut wajah-wajah kelelahan dan mengantarkan ke tidur yang nyaman. Angin selalu saja merubah arah awan atau juga merubah warna. Mengantarnya kemana saja yang tak pernah terduga. Angin terlalu sering memberi kabar yang tak pernah terduga. Kabar tentang cerita burung-burung yang bernyanyi di setiap pagi dan berhenti tanpa ada yang mengganggu. Kabar tentang anak kecil yang kehilangan orang tuanya karena perang kayakinan dan gengsi. Kabar tentang anak-anak jalanan yang ingin pulang ke rumah tanpa tahu di mana mereka harus pulang. Kabar tentang nyanyian di pagi hari yang mengantar orang-orang berangkat kerja tanpa khawatir anak-anak di rumah akan kena musibah. Kabar tentang pekerja-pekerja malam yang selelu bergelut dengan pekat dan dinginnya malam yang membisu dan tak mau tahu. Kabar tentang sesuatu yang sering tak di mengerti. Kabar tentang sesuatu yang sangat dibenci. Kabar tentang sesuatu yang sangat dinanti.
Tak ada seorang ibu yang tega mencelakakan anaknya sendiri. Tak ada! Bisik nenek hampir bergumam dan segera menutupi dengan gerakan melap mukanya agar tak ketahuan cucunya yang pasti sudah siap mencecarnya. Aku tak pernah bermaksud mencelakakan anakku yang manis, wanita tercantik di dunia, pada satu tempat yang sampai saat ini Ia tak bisa keluar darinya. Atau malah Ia tak pernah berusaha untuk mengakhiri cara kehidupannya. Anak yang manis dan penurut itu telah mandiri dan tak pernah lagi mendengar kata-kataku yang tidak sesuai dengan keinginannya. Ia hanya akan mendengar apa yang cocok dengan pikiran dan egonya.
“Ibu sendiri yang telah mengantarkan aku ke sana, kenapa Ibu sekarang melarang. Apa Ibu ngiri karena Ibu dulu tidak seperti saya sekarang! Atau sebenarnya Ibu merasa kurang dengan uang yang saya berikan sementara Ibu sudah tak punya tabungan lagi?”
“Ibu tak pernah mengantarkanmu ke sana, tak pernah. Jangan kau sakiti aku dengan kata-katamu nak, jangan. Ibu sudah cukup menderita. Sudah sangat menderita.”
“Maaf, saya minta maaf. Tapi, bukankah Ibu yang selalu mengajari agar aku menjadi orang yang punya pendirian dan tidak mudah terpengaruh oleh orang lain? Ibu yang mengajariku agar selalu mengambil setiap kesempatan yang datang, bahkan dengan berlari menjemputnya? Jangan membiarkan satupun kesempatan yang ada. Jangan berharap kesmpatan kedua akan datang dan rakuslah terhadap kesempatan. Ibu kan yang mengajari? Dan sekarang Ibu, kesempatan itu masih ada, masih terbuka, dan aku akan tetap berada di sana sampai tak ada lagi kesempatan yang bisa di raih dengan keadaan saya. Ibu yang yang mengajari aku untuk menikmati setiap keadaan yang ada tak perlu memepedulikan omongan orang karena orang lain akan senang jika melihat kita sengsara.”
“Cukup anakku, cukup. Itu aku ingat semua, aku ingat. Tapi, di mana kau berada sekarang, di mana? Jangan sampai terlambat. Jangan terlambat, jangan sepertiku. Jangan seperti aku anakku. Ibumu!”
“Sama seperti Ibu dulu, di situ tempatku. Dan Ibu sudah tahu itu. Ibu memang tak pernah mengantarnya ke sana. Tapi jika kemudian tiba-tiba saya berada di sana dan aku merasa masih betah di sana, apakah aku harus mengingkarinya?”
“Sudah, sudah. Aku tak mau bertengkar denganmu. Kasihan kalau anakmu terbangun. Ia nampak lelap sekali. Seharian ia bermain-main dengan teman-temannya. Berlarian kesana kemari. Ia sepertimu waktu kecil dulu.”
Rasa penyesalan kembali menggelayut di ingatan nenek itu. Bagaimana Ia dulu sering menelantarkan anaknya, di titipkan pada tetangga, kenalan, saudara, ditinggal berhari-hari. Selalu saja Ia ingin segera  melupakan kegetiran itu dengan membaca. Membaca tentang apa saja.
“Nenek melamun lagi? Nenek ingat Mama ya? Iya? Kok Mama lama sekali nggak pulang ya Nek? Yang suka datang memeluk aku, itu, Mama aku bukan Nek? Kok kaya orang asing begitu. Kalau datang selalu bertengkar dengan Nenek. Masa ibu sama anak selalu bertengkar? Kenapa Bapak saya tak pernah datang Nek? Bapak saya seperti siapa sih Nek? Kok Nenek tak pernah cerita. Kenapa Nek?”
Pertanyaan yang sama muncul lagi di mulut yang berbeda. Dulu, Ibunya anak ini selalu bertanya tentang Bapaknya yang tak pernah di lihatnya. Ia kemudian bercerita tentang seorang lelaki pengembara yang gagah yang selalu mengembara adalah Bapaknya yang tak pernah pulang dalam pengembaraannya. Cerita pengembaraan itu selalu berakhir berbeda di setiap malam sampai kemudian anaknya tertidur dan lupa pada pertanyaannya.
Nenek itu mengambil sebuah buku di atas meja di samping kursi goyangnya. Ia mengambil sekenanya dari sekian banyak yang tercecer. Dibacanya sebentar dari awal halaman yang dilipat. Beberapa menit kemudian Ia mengambil pulpen dan menulis di pinggiran halaman yang sedang Ia baca; ‘nasib seperti ini tak akan mungkin dialami oleh kaum lelaki. Adil??’ 
Apa sebenarnya yang harus dijaga? Apa jika aku menjaganya dengan baik dan berhasil, mereka akan menanggung semua kebutuhan hidupku? Atau aku yang begitu berprasangka buruk pada kehidupan yang sebenarnya sangat bersahabat dan indah? Aku sedang kembali mungkin ini, kembali kemana ini? Aku tak mengerti dan sulit sekali mengerti. Begitu berbeda pikiranku kah dengan pikiran mereka? Mereka nampak normal dan bergairah menghadapi hidup yang terus dipenuhi persaingan. Mereka bergembira seperti cucuku yang bermian-main dengan teman-temannya dan tak pernah merasa cukup selesai sehari untuk kemudian mengulanginya esok hari. Pertanyaan-pertanyaanku bodohkah?      
Ia mencari jawaban di buku-buku yang tak pernah bosan dan tak pernah berkomentar dalam menemaninya. Ribuan buku dan ribuan pengarangnya selalu berbeda bercerita dan bercara pandang dalam satu masalah dan bahasan yang sama. Semua merasa baik dan benar. Manakah yang baik dan benar untukku? Ia sering berkomentar pada kalimat-kalimat yang menarik pikirannya. Mencoretnya, menambahkan, menggarisbawahi, memberi tanda tanya besar, memberi tanda petik. Ada juga kalimat atau kata yang dicoret berulang-ulang sampai tak terbaca, bahkan ada yang sampai kertasnya robek. Ada kejengkelan yang meledak di sana. Kejengkelan yang Ia sendiri tak bisa menulisnya.
Di sebuah sore. Saat matahari biasanya nampak mulai tenggelam, gerimis membuat cucunya berada di teras rumah ikut membuka-buka buku. Si nenek selalu khawatir cucunya akan bertanya banyak hal yang sulit untuk menjelaskan satu hal yang tak perlu dimengerti oleh anak seusianya. Rimbunan pohon mangga dan rambutan yang daunnya menutupi sebagian pandangan di depan terasnya, sering bergerak saling bergesek menyenandungkan lagu-lagu yang berubah-berubah sesuai dengan keadaan hati si nenek. Pohon-pohon di depan rumahnya, cicak di dinding yang telah berpuluh kali regenarasi, angin malam seputaran rumah, burung pipit yang selalu bersarang di atas dahan tepat di atas pintu gerbang kecil, kelinci putih yang bersarang di lubang teras belakang di bawah ranjang kecil yang sudah tak lagi dipakai, telah menjadi akrab dan tahu betul apa yang sering dipikirkan dalam gumamannya. Tapi, gadis kecil cucunya, yang ceria dan selalu tertawa riang dan lepas itu, semakin tak mengerti apa yang selalu ada di benak neneknya dan semakin penasaran kenapa pertanyaannya yang sama sering tak dijawab atau dijawab dengan jawaban berbeda-beda.
Saat malam, saat larut malam yang dingin dengan angin yang sama sekali tak bergerak, saat kendaraan yang membawa orang yang berpulang atau pergi sudah jarang sekali lewat, nenek yang masih memegangi buku dan membacanya halaman per halaman dengan tak teratur, terkejut dengan pertanyaan cucunya.
“Apa kakek yang suka datang sembarang waktu itu kakekku, Nek?”
Ia tak langsung menjawab. Ada pertimbangan lain yang dipikirkan untuk menjawabnya. Ada sangkaan pertanyaan sambungan lagi yang akan terus bersambung dari mulut manis cucunya yang terus menumpuk rasa penasarannya. “Lho, kamu kok terbangun sayang. Ada apa? Kamu mimpi buruk ya? Ayo, tidur lagi. Nenek temani ya?”
“Aku kan belum tidur Nek. Sedari tadi sore aku kan belum tidur. Aku kasihan Nenek, jadi aku ingin selalu menemani Nenek di sini. Aku ingin mengajak Nenek masuk rumah, tapi Nenek tampak sekali asik membaca. Tapi, kenapa Nenek sering sekali membaca ulang halaman yang telah dibaca?”
Si nenek merasa pertanyaan kedua cucunya telah melupakan pertanyaan pertama tentang kakek yang sering datang, yang bukan hanya seorang, pada waktu yang tak pernah tentu dan sering pada saat orang lain tak lagi merasa pantas untuk bertamu.
“Ini karena Nenek sangat terkesan dengan bacaan ini. Nenek ingin menikmati setiap kata dan kalimat yang ada dalam halaman-halaman ini. Kau memperhatikan ini seluruhnya cucuku?”
“Iya. Tapi Nenek belum menjawab pertanyaan aku yang pertama, kenapa Nek? Apa lelaki yang kadang mengantar Mama pulang itu Bapakku Nek? Kenapa berganti-ganti? Bapakku banyak ya nek?”
Nenek terdiam. Tak mengerti apa yang harus dikatakan untuk menutup pertanyaan cucunya yang tak pernah berhenti. Malam selalu saja tak bisa mengajaknya tidur dan melupakan kenyataan untuk beralih ke ruang mimpi yang indah penuh bunga warna warni. Sampai kemudian Ia berharap tak ada lagi malam. Jika di siang hari terasa bising dan panas, Ia juga sering berharap tak ada lagi siang.
“Tak ada seorang anak dengan lebih dari satu ayah biologis cucuku. Jadi ayahmu hanya satu, bukan banyak. Ayah Mamamu juga hanya satu, bukan banyak. Kau mengerti cucuku yang manis?”
“Jadi ayahku siapa Nek? Bapakku mana Nek? Dia sekarang di mana? Kenapa tak pernah mengajakku bermain, pergi ke pantai, ke Mall, ke Ancol, ke Bali, ke puncak Bogor, mengantarku bermian di kolam renang, membelikanku sepatu baru. Kenapa Nek? Kenapa ayahku tak pernah membelikanku boneka yang berbulu untuk menemaniku tidur yang selalu tanpa mama. Selalu sendiri. Kenapa Nek? Apa mamaku dulu juga seperti aku Nek?”
“Kau lebih bernasib baik cucuku yang manis.”
“Kenapa begitu Nek? Kenapa?”
“Karena kau ada Nenek yang menemanimu dan mau mendengarkan kamu.”
“Tapi, Nenek tak pernah menjawab pertanyaanku.”
“Pertanyaan yang mana?”
“Di mana ayahku? Di mana kakek, ayahnya mama? Teman-temanku sering bercerita tentang ayahnya, tentang kakeknya, tentang liburan di rumah kakek dari mama, kakek dari ayah. Aku jadi benci kalau mereka cerita tentang itu.”
Si nenek membawa cucunya pada dongeng yang segera Ia susun sendiri dari berbagai cerita yang disambungkan sekenanya. Ia bawa cucunya ke tempat tidur. Ia rebahkan cucunya di atas kasur awan berbantal bulu-bulu peri di bawah langit penuh bintang kerlap kerlip warna warni. Ia ceritakan tentang burung kecil di dalam sarang mungil dari serabut kembang ilalang di pucuk pohon beringin yang besar di tepi air terjun yang tak pernah kering, tanpa saudara dan teman. Induknya yang hanya datang jika mengantarkan makanan, selalu penuh kasih dan cinta. Sampai kemudian si induk selalu menemaninya, sampai si burung kecil itu bisa terbang dan terbang sesuka hati sendiri. Sampai ia berhak menentukan pohon yang mana yang akan disinggahi. Beranak pinak, bernyanyi bersama setiap saat. Mencipta bersama-sama nyanyian-nyanyian baru. Mencipta pohon cinta yang penuh dengan ranting-ranting kasih sayang, penuh dengan daun-daun kelembutan cinta.
Nenek itu tertidur, juga cucunya, terbuai oleh ceritanya sendiri. Dini hari, menjelang subuh, sebuah ketukan pintu membangunkan mimpinya. Ia hafal betul cara ketukan dan tempat mana ketukan itu. Ia segera bangun, “Kau pulang nak?”
“Iya bu,” ucapnya lirih. Ada nada kelelahan di suaranya.
Nenek itu segera membuka pintu, “kau kedinginan nak, ayo cepat masuk. Kamu sendirian? Naik apa tadi?”
“He-em. Naik taksi.”
“Ayo cuci muka dulu, baru tidur. Dan besok tak usah kau pergi lagi. Mama harap kau tak pergi lagi. Aku sangat berharap nak.”
“Sudah dulu ma, itu besok saja bicaranya.”
“Oke, sekarang kamu tidur, tidur nyenyak nak. Anakmu rindu pelukanmu. Tidurlah di sisinya. Ia sering mengigau memanggilmu. Peluk ia dengan kasihmu.”
“He-em ma. Aku bawakan mama banyak buku kesukaan mama. Aku juga bawa makanan kesukaan mama dan  kesukaan anakku. Aku tidur ma.”
“Tidurlah anakku. Bermimpi indahlah…”
Malam terus melaju seperti biasa. Tak terpengaruh oleh tiga manusia perempuan di dalam satu rumah yang sedang mengarungi hidup di ruangnya masing-masing. Di luar, gelap masih saja belum sepenuhnya terusir oleh lampu-lampu jalan dan lampu-lampu teras rumah. Embun mulai deras turun membungkus angin dan diam menggigil tak bergerak. Ada lengkingan kokok ayam jantan yang membelah malam merambat cepat menuju pucuk langit. Kemudian semua terdiam, membisu. Semua ikut mendukung untuk apa yang disebut dengan malam pekat. Pucuk-pucuk daun bersedekap erat menahan dingin sambil terus berharap pagi datang membawa hangat mentari dengan disambut nyanyian seluruh burung di bumi. Bintang di langit tak lagi secerah di awal malam. Bulan sabit sudah lama turun ke sarangnya. Sebersit angin lembut lewat mengipas tepi-tepi daun yang terbungkus dingin yang makin menggigit. Seekor tokek kurus di langit-langit teras di atas kursi goyang terjingkat kaget.
Pagi muncul seperti biasa sedari berpuluh-puluh abad lalu. Tapi, pintu rumah nenek itu tak terbuka juga meski bayang-bayang sudah tak lagi panjang. Di atas meja di teras rumah, masih berserakan banyak buku memenuhi seluruh permukaan. Saat semua tetangga memutuskan untuk mendobrak pintu, tiga orang perempuan, Ibu, anak dan cucu terlelap pulas dalam satu ranjang dengan seprei tak begitu kusut. Di meja, ada sisa makanan dan tiga gelas yang airnya tinggal setengah gelas. Ada sedikit busa di menggumpal di kedua tepi mulut mereka.

Tak ada yang bisa membangunkan tiga perempuan itu. Hanya sedikit tangis dan keheranan mengerayap pada benak-benak yang tak juga mengerti. Mereka tak tahu sanak famili yang mana dan dimana harus dikabari. Mereka, bertiga, pergi bersama-sama tanpa pesan dan tanpa wasiat. Pada HP yang tergeletak di atas kasur, tertulis sms; mari kita tidur bersama ibu dan anakku.. entah untuk siapa. Gerimis tiba-tiba turun dari langit yang tiba-tiba meredup. 
okt 2010

Jumat, 15 September 2017

KARTU MERAH BODOH

PIALA AFF U-18 MYANMAR 2017 ( 15 September 2017 )

Saya menyebutnya demikian, kartu merah bodoh. Saya kira semua pemain sepak bola sudah dikasih tahu kalau bertindak menyikut dengan sengaja akan kena kartu. Ringannya kartu kuning, fatalnya kartu merah. Sebuah tindakan yang berakibat pelanggaran yang membuahkan kartu dari wasit, seharusnya dihindari. Meski ada pelanggaran yang dimaklumi yang dinamai pelanggaran profesional, profesional fault. Pelnggaran profesional itu biasanya dilakukan, jika dibiarkan pemain lawan menguasai bola, prosentase kemungkinan terjadinya gol, besar.

Nha, yang ini, yang dilakukan Saddil Ramdani? Pemian yang membuat gol indah ketika ikut timnas U-22 melawan timnas Philipina pada laga kedua Grup B SEA Games 2017 di Stadion Shah Alam, Selangor, Kamis (17/8/2017), melakukan kesalahan fatal di pinggir lapangan bagian tengah. Jauh dari membahayakan gawang. Masuk di menit terakhir babak pertama menggantikan  Feby Eka Putra, Ia menyikut pemain Thailand dan berbuah kartu merah. Memang dalam tayangan ulang, Saddil dihajar punggungnya pakai lutut dari belakang. Merasa tak terima diperlakukan seperti itu, Ia menyikut dan ketahuan, oleh wasit dan pembantu wasit. Pemain Thailand itu pun melakukan akting yang baik, sehingga wasit meng-kartu merah untuk Saddil. Kalau bukan dalam tujuan agar wasit mengeluarkan kartu, saya yakin pemain Thailand itu tak mendramatisir keadaan seolah-olah ia cedera berat. Akting yang menjijikan bagi kita dan manis bagi mereka.

Jika memang Saddil merasa dicurangi dari belakang, kenapa Ia tak melakukan seperti apa yang dilakukan pemain Thailand itu agar wasit tahu Ia dicurangi? ( Meski saya sangat tidak setuju dengan cara itu, pemain yang over acting dalam memprovokasi lawan dan mencuri perhatian wasit ). Menyikut dengan gerakan disengaja dengan tidak disengaja, tentu bisa kita amati dan bisa kita pilah. Apalagi kita bisa melihat tayangan ulang setiap gerakan yang dilakukan oleh pemain.

Timnas U-18 Piala AFF 2017, Myanmar 4 - 17 Maret


Di babak pertama, Timnas sudah bermain sangat baik di atas permainan tim Thailand dan menguasai jalannya pertandingan. Kantaphat Manpati, kiper Thailand menjadi pahlawan bagi timnya. Ia melakukan banyak penyelamatan dari serangan Timnas di babak pertama dan babak kedua yang meski hanya dengan 10 pemian. Ia menepis tiga tendangan saat adu penalti.

Berandai-andai, jika tidak ada kartu merah bodoh itu, dan Timnas tetap bermain dengan pemain full, sangat mungkin bisa memanangkan pertandingan. Bukan tanpa alasan, Timnas bermain baik di babak pertama, dan di babak kedua, serangan baliknya lebih sering mengancam gawang Thailand dibanding serangan Thailand ke Timnas. Tim Thailand tampak frustasi dalam mengurung gawang Timnas dan ketakutan akan serangan balik yang membahayakan.

Dalam sepak bola, bermain baik belum tentu menang. Sering, tim yang penguasaan bola-nya kalah, malah yang memenangkan pertandingan. Dan hal yang biasa mengenai kalah dan menang, karena harus ada yang kalah. Tetapi pemain yang melakukan tindakan bodoh yang sebenarnya tahu itu tindakan yang bisa berakibat fatal, tetapi tetap dilakukan, itu harus diperingatkan dengan keras. Coret saja dari tim, beri efek jera dan yang lebih utama memberi efek jera pada pemain lain agar tidak melakukan tindakan bodoh yang lain.

Juga, tak perlu memprotes wasit terlalu keras, karena jika wasit sudah terlanjur meniup peluitnya, tak mungkin lagi Ia menunda keputusan yang telah dikeluarkan lewat bunyi peluitnya. Toh wasit juga akan memberi kompensasi lain jika merasa keputusannya pada tim kurang pas.

Dan hal lain yang sangat perlu dihindari adalah berakting kram, berakting cedera yang perlu digotong, menunda-nunda waktu jika sudah menang di sisa waktu yang tinggal sedikit. Bagaimana seorang pemain yang hanya disenggol sedikit saja jatuh terguling-guling atau penjaga gawang yang berpura-pura sakit tersenggol pemain lawan saat timnya sudah menang diakhir waktu adalah sangat menjijikan. Bermain bagus, enak ditonton dengan sportifitas yang tinggi akan lebih menghibur dan mendapat simpati.

Dan, kartu merah bodoh itu, menjijikan dan jangan pakai pemain yang sperti itu. Coret dari tim. Masih banyak sekali talenta-talenta lain yang bisa dibina agar tidak menjadi pemain yang menjijikan.

15 Sept 2017

Kamis, 14 September 2017

POTO KAWINAN

djayim.com
cerpen
Batire Jawir mbojo maning, maksudé ana batir sing mbojo maning. poto-potone dé kirim maring grup WA (grup dablongan), grup FB, grup BBM, Instagram. Pokoké gambar pas nganggo klambi pengantén model jawa sing klambiné warnané ireng kebek pernak-pernik, krilab-krilob, nganggo tapih warna coklat motif kembang mayang, de aplod. Ana telung werna, warna lan model klambiné. Dingklik sing dé jagongi katon apik rétung, di tambah karo kembang plastik werna-werna warnané, gemantung ning saka lan papan ukir-ukiran sing degawe kaya umah kraton. Sing jenengané mbojo, mesti mbetaih. Gambar-gambaré kebek mésem sing sumringah mesti dé aplod ning ndi bae sing judulé media sosial.
Sing de gumuni, ngomongé Jawir ora seneng karo babagan narsis-narsisan, tapi Jawir esih ndelengi kabeh gambaré batire ora ana sing keliwat. Jéré ora seneng tapi tetep ngeklik gambar jempol. Jéré Jawir, batiré ketularan virus narsis para artis sing kabeh polahé dé siarna ning tivi. Wong tangi turu kencot baé di tulis ning FB supaya batir-batiré pada maca. Angger sing komén akéh, senengé ora etung.
Nha, angger crita maslah poto pengantén, inyong dadi kemutan wektu dadi fotografer dadakan, ponton. Wektu kue urung ana poto digital kaya jaman sekiye. Angger arep poto kwe kudu tuku klis disit. Jere arané negative film.
Kayané tahun rong-ewuanan. Pasé inyong klalen. Kisut kwe ya batiré Jawir sing angger ketemuan mesti ecom-ecoman crita ora nggenah sekang masalah Israel-Palestina tekan kali ning tengah-tengah desa sing wis ora ana iwaké merga sok de racun.
Sedina sedurungé  Kisut mbojo, ning dalan arep SD siji, inyong de omongi, “Yim, ngko angger inyong mbojo ko sing moto ya.!”
“Ya! Siap.. Kapan kwe.?”
“Ngesuk. Ngesuk esuk-esuk.”
“Sing bener. Mal mbojo dadakan. Ora nyadran kwe?”
“Ora. Sing penting sah.” Kisut njawab mantep, omongan ‘sah’ kayong mantep nganti nyembur idohé.
“Taih yoh, mbojo.”
“Ya iya mal. Mesti kwetah. Mesti.”
“Ya ora usah muncu..”
“Siklah.”
“Ngko bojo de gawa maring Jakarta apa ning kéné bae?”
“Gampang kwe mah. Sing penting hihuy hihuy disit.” Lambéné mésem njijihi. Mésem 18+.
Jané inyong ya ngerti, pacaré pada-pada ngodé ning Jakarta, sing dé gumuni, Kisut ya ora njawab; ‘mbok sekiyé gé pada-pada ning Jakarta’. Tapi ya mbuh, bisa baé bareng wis mbojo tah ora pada mranto kabéh.
Kisut kait gemiyen butul siki dadi perantau. Ngodéné ning Jakarta, ning pelabuhan, Jéré ngurusi babagan kirim barang maring pulau-pulau se Indonesia lan sing maring luar negeri. Sebutané EMKL, Ekspedisi Muatan Kapal Laut. Biasané wong angger kerja ning pelabuhan, kulit awaké ireng sebab ning pelabuhan hawané panas. Apamaning kerjané ning Tanjung Priuk sing jéré ora kur hawané thok sing panas, apa baéné ya jéré panas. Tapi, batirku kye kerjané wis pindah ning kantor, unggal dina ruangané nganggo AC, dadi sekiyé kulit awaké wis madan bersih. Mauné lagi ésih ning bagian lapangan, kulit awaké ireng, de sawang gé ngedapi.
Angger ora salah wis lewih sing rong puluh tahun Kisut ngodé ning pelabuhan, tapi kantoré siki wis ora perek karo laut, ora perek karo nggon parkir kapal-kapal gedé. Mula awalé, wektu kué aku ya esih ning Jakarta. Aku nggode ning pabrik ning daerah Kapuk, Kisut ning daerah Jembatan Lima melu batiré sing ngodé ning konveksi mabri nglamar-nglamar kerja. Ndilalah ana batir se desa sing nuduhi kon njajal nglamar kerjaan ning Tanjung Priuk lan ana wong sing asliné sekang Surabaya due bojo wong desané dewek sing kerjané ning kono, wis senior.
Gelising crita, Kisut de terima kerja dadi bagian markir ngatur posisi kontainer sing arep munggah kapal utawa sing mudun sekang kapal. Unggal dina panasan ning pelabuhan, ning pantai perek laut sing anginé nggawa hawa lembab rasa asin. Angger wayah wengi sing katon kur mripaté thok karo untuné angger ngguyu. Jéré tah goli kerja wis nganggo topi amba, kaos tangan, klambi lengen dawa, kaca-matanan ireng, sepatunan, sing katon ora ketutupan kur rainé thok. Tapi ya kue, dadi rainé sing katon iréng. Ujar-ujarétah kon aja kepanasen lan sing lewih penting aja ngasi balik maring desa, mudik, awaké ireng. Angger nganti ireng dadi isin karo prawan-prawan ning desa. Apamaning wektu kue lagi bujang demagang. Tapi Kisut wis due pacar. Ngakuné tah jéré wong setia, tapi ya embuh yong ning Jakarta inyong ora weruh déwék. Angger ndeleng tampangétah inyong kayong ragu angger Kisut kué setia. Angger crita babagan wadon, sok cengar-cengir nylimur gawé ora genah pok buntuté.
Inyong tau mburu ning kerjaané Kisut wektu kué. Aku Mélu kakangku sing pas ana kepentingan maring kantor dina Minggu. Kebeneran kantoré kakangku perek karo nggoné Kisut kerja, tek ukur karo sepedo meter, 150 meter. Inyong numpak vespa abang. Tekan sepréné angger kemutan vespa abang si Kisut karo inyong dadi ngglegés. Kisut karo batiré siji lagi lembur gawé garis-garis ning lapangan aspal nggo tanda nata kontainer. Tangané blepot, klopot deng cet putih. Sebab awaké nganggo klambi rapet jipet, tur nganggo kacamata ireng amba, inyong dadi pangling. Inyong ya nganggo kacamata ireng. Sewisé inyong ijin lan takon karo satpam inyong mburu Kisut.
Si Kisut sing lagi sibuk ngecét langsung mandeg, terus ngadeg gaya hansip , “Slamat siang. Ada yang bisa saya bantu?”
Inyong bingung, kye bocah duméhé wis ning Jakarta terus unggal dina mangané roti apa priwé, mawi karo inyong bae nganggo basa Betawi.
Vespa tek standar, inyong mudun, helm tek uculi. Si Kisut madan sué esih linglung. Inyong langsung nyemprot, “gemagus temen ko, wis ora bisa basa ngapak apa?”
“Hah..! ko jebulé. Kaya entut dénéng ko yoh.. Ujarku juragan wedus sing arep ngirim maring Papua.” Kisut nyrocos mbari ngilangna isin, terus cengar cengir kaya wong ngintip konangan.
Jawir nggleges pas crita kué tek critakena. Ari mbayangna Kisut kaget karo kisinen kaya karikaturé GM Sudarta, nduwur sirahé kebek obeng, pir, tengkorak ndas kebo, gelas mabur, sendok nglayang, tanda tanya, tanda penthung, mripate merem, lambéne de kawétna, rambuté ngadeg nantang langit.
Angger Kisut telaten kerja ning Jakarta, Inyong ora. Inyong lewih milih kerja apa bae ning desa tinimbang kerja ning Jakarta sing wektu kue bae wis macet lan sering banjir. Angger balik maring desa Kisut mesti mentingna ketemuan karo batir-batir ning desa. Sue-sue katoné Kisut betah ning Jakarta. Apamaning bareng wis ora ning bagian lapangan sing unggal dina panasan. Dasar bocah calakan, deweké bisa nguasai jaringan komputer kantor. Inyong ya sering konsultasi masalah komputer karo Kisut. Wektu lagi esih sekolah ya senengé nguthak-athik radio, apa baé dé ruag, dé prethil-prethil dé pasang ning pager. Unggal dina sibuk masang bendrat nggo brik-brikan sing unggal dina ana sing pedhot sebab ketiban blukang utawa pangpung.
Lha, dasar inyong seneng moto, de jaluki tulung deng Kisut kon moto ora bakalan nolak, apamaning deng Kisut.
Temenan, esuké inyong maring umahé Kisut. Bocahé wis adus. Inyong ya gumun, ora tau-tauné adus gasik. Biasané angger mudik ora tau adus esuk. Ora nganggo jas-jasan, kur nganggo kathok ireng klambi putih, kaya Pak Jokowi. Inyong sekié dadi mikir, kayané Pak Jokowi niru kisut nganggo klambiné.
Inyong de wei kodak sing filmé wis dé isikna. Gari jeprat-jeprét. Inyong njagong santé, terus ngejog banyu teh anget, tek sruput mbari nyéndé ning dingklik.
“Ayuh koh, aja pya-pyé tah.”
“Ya mengko yah..”
“Yuh koh. Mbojo kyeh. Aja gemlawik.”
“Jen, mbojo yoh.”
Wedang tehé urung entong, inyong de séréd kudu bae mangkat. Kisut tek boncengna. Butul ning KUA calon bojoné urung teka. Pak Kayim teka méh bareng. Kisut mawar miwir kaya wong pengin nguyuh dé angken. Ora let sué, pacaré, calon bojoné Kisut teka. Kisut nyréngés, kupluké de dandani, krahé de pas-pasna, rambuté sing tipis dé usap karo tangan tengen. Pak Kayim mlebu maring ruang Pak Penghulu. Ora let sué Pak Kayim mréntah calon pengantén, wali, saksi, mlebu maring ruangan sing biasa dé enggo nggo nikahna. Pak Kayim karo Pak Penghulu mlebu mbari nggawa buku ning njero map. Ijig-ijig hawané dadi kayong romantis lan sakral. Inyong dadi melu kalém, nglebur karo hawaning Kisut sing arep mbojo. Sedetik seurungé acara de mulai, inyong mereki Kisut, krisikan, “mbojo yoh.” Kisut nyengir antarané nyréngés karo mésem.
Inyong siap-siap moto. Dingklik sing kira-kira ngangél-ngangéli ték singkirna. Klis filmé isi 36, wis dé pasang. pokoké gari cekrék-cekrék. Tanda nggo nengeri wis kanggo pira filmé, esih manual, ana angka karo garis setrip-setrip warna abang. Sisa film sing ésih bisa de enggo dé kira-kira antara angka karo garis setrip-setrip abang.
Merga ruangané ciut, inyong kudu mepet-mepet tembok, ana njengking, ana jinjit, ana miring. Pokoké gemludug ora nggenah. Jané inyong ya madan rikuh karo Pak Penghulu, tapi yong demi olih gambar sing sip, apa bae carané, tek lakoni.
Gelising crita, ijab qobul nikahané Kisut karo pacaraé rampung. Kisut wis mbojo. Pacaré wis dadi bojoné. Kisut kayong ora sranta pengin gagian balik. Inyong manut baé. Kisut tek boncéngna. Ning tengah dalan, mbari gathik kisut nyembur, “gagian tah ngebut, aja londhogan!”
Kira-kira telung wulan tes mbojo, Kisut balik, critané mudik. Ning pertelon lebak umah, inyong ketemuan. Mbok si betah ketemu inyong, Kisut malah langsung muncu-muncu, “Dénéng fotoné ora ana sing dadi sijia..!??”
“Foto sing endi? Foto apa?”
“Sing endi maning. Foto pas inyong mbojo.”
“Maksudé priwé?”
“Dé cetak ireng kabéh. Blabur iréng thok. Gambaré babar blas ora katon.”
“Lha, sing masang klis sapa gemiyén. Mbok ko déwék. Inyong gari moto cekrak-cekrék.”
“Jéré sapa. Ko sing masang mbok! Mbok ko ngomong, ‘ngénéh dé pasang deng inyong!’. Terus kos udet masang. Kemutan ora?”
Inyong meneng ngémut-ngémut, “apa iya yah?”
“Ya koh!”
“Dadi ko ora dué foto pengantén kwe yoh.”

“Siklah.” 

Sept -okt 2016